Hujan deras mengguyur Kecamatan Entikong, Kalbar, Senin siang (15/7). Di jalur utama perbatasan Indonesia-Malaysia, tiang listrik setinggi 12 meter roboh satu per satu. Kabel-kabel melintang di aspal, putus dan menyemburkan percikan api kecil. Bau tanah basah bercampur asap tipis menusuk hidung. Warga berhamburan keluar rumah, berlindung di bawah tenda darurat biru yang didirikan di halaman. Latar belakang Pos Lintas Batas Negara tampak sunyi — kontras dengan kepanikan di jalan raya. Ini adalah potret getir infrastruktur di garis depan.
Robohnya Tiang di Jalur Perbatasan
Tiang-tiang itu tumbang dalam rentetan cepat. Angin kencang dan tanah yang longsor di sisi jalan membuat beton bertulang patah seperti ranting kering. Kabel tegangan rendah dan menengah berserakan, menghalangi arus lalu lintas antara Entikong dan Kecamatan Sekayam. Tim PLN baru tiba dua jam kemudian, setelah warga melapor melalui radio komunitas. Mereka memasang lampu darurat bertenaga surya di beberapa titik — namun hanya menerangi area terbatas.
- Tiang listrik roboh di tiga titik sepanjang 2 km dari perbatasan
- Kabel putus menyebabkan pemadaman total di 4 dusun
- Lampu darurat surya hanya mencakup 30% wilayah terdampak
Seorang ibu bernama Siti (45) menggendong bayinya sambil menunjuk ke arah tiang yang patah. “Sudah tiga kali listrik padam bulan ini. Kami sering gelap-gelapan di malam hari. Anak-anak saya takut kalau belajar dengan lilin,” ujarnya dengan suara bergetar. Di tenda darurat, tetangganya — Pak Rudi — menyalakan radio bertenaga baterai untuk mendengar kabar. “Kami terbiasa, tapi setiap kali roboh, rasanya seperti ditinggalkan negara,” katanya lirih.
Garis Depan yang Terlupakan
Pemandangan warga berjalan di antara puing tiang listrik dengan latar belakang Pos Lintas Batas Negara yang sepi menjadi simbol ironi. Infrastruktur dasar seperti listrik — yang seharusnya menjadi denyut nadi kehidupan — justru rentan di wilayah perbatasan. Dari kejauhan, terdengar suara generator tua milik toko kelontong yang masih menyala. Namun, bagi sebagian besar warga, malam ini akan dihabiskan dalam kegelapan, hanya ditemani suara jangkrik dan deru angin dari hutan Kalimantan.
Di ujung negeri ini, warga Entikong tetap bertahan. Mereka mendirikan tenda, menyalakan lilin, dan saling berbagi makanan. Tapi robohnya tiang listrik bukan sekadar pemadaman — ia adalah alarm bahwa perhatian negara masih timpang. Ketika lampu darurat surya padam, hanya semangat gotong royong yang menerangi. Mari kita jadikan kisah ini sebagai pengingat: pembangunan di perbatasan bukanlah proyek, melainkan janji kedaulatan. Warga di garis depan berhak atas terang, sama seperti saudara-saudara mereka di pusat negeri.