INFRASTRUKTUR

Ribuan Warga Perbatasan RI-PNG Mulai Nikmati Listrik 24 Jam Berkat PLTS di Skouw

Ribuan Warga Perbatasan RI-PNG Mulai Nikmati Listrik 24 Jam Berkat PLTS di Skouw

Ribuan warga perbatasan RI-PNG di Kampung Skouw, Papua, kini menikmati listrik 24 jam dari PLTS berkapasitas 500 kWp. Kehadiran listrik ini mengubah kehidupan malam warga dan memperkuat pelayanan di Pos Lintas Batas Skouw. Ini bukti nyata perhatian negara terhadap wilayah terdepan Indonesia.

Malam di Kampung Skouw, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, tak lagi sama. Begitu matahari tenggelam di ujung timur Indonesia, gelap pekat yang dulu menyelimuti wilayah perbatasan RI-Papua Nugini kini mulai terusik. Dari kejauhan, lampu-lampu penerangan di sekitar Pos Lintas Batas (PLB) Skouw dan puluhan rumah warga berpendar kuning keemasan, seperti lukisan cahaya di tengah rimbunnya hutan Papua. Suasana itu kontras dengan masa lalu, ketika pukul 18.00 warga harus bergulat dengan nyala lilin atau suara bising genset yang hanya mampu menerangi beberapa jam. Kini, pemandangan itu berubah total: listrik 24 jam hadir dan mengubah denyut kehidupan di garis terdepan negeri.

Potret Warga yang Baru Merasakan Terang

Maria Wenda, seorang ibu rumah tangga di Kampung Skouw, masih belum bisa menyembunyikan harunya. Matanya berkaca-kaca saat menceritakan pengalaman pertamanya menyalakan lampu di rumahnya. “Seperti bermimpi, sudah puluhan tahun saya hanya bisa berdoa dalam gelap. Sekarang bisa melihat wajah anak-anak saya jelas saat belajar mengaji,” ujarnya sambil memegang kabel lampu yang terpasang rapi. Baginya, terang ini bukan sekadar cahaya, melainkan kehadiran negara yang selama ini terasa jauh.

Sebelum PLTS beroperasi, kehidupan malam warga perbatasan berjalan dengan keterbatasan. Anak-anak belajar hanya dengan lampu minyak atau senter, sementara orang dewasa memilih tidur lebih awal karena tak ada aktivitas yang bisa dilakukan dalam gelap. Sekarang, suasana itu berganti. Anak-anak bisa membaca buku, ibu-ibu menjahit, dan keluarga berkumpul lebih lama di ruang tamu. Ribuan warga di lima kampung perbatasan akhirnya mengecap nikmatnya listrik yang menyala tanpa henti.

Berikut fakta lapangan yang dirangkum dari peresmian PLTS Skouw:

  • PLTS berkapasitas 500 kWp melayani kebutuhan listrik 1.200 rumah tangga di lima kampung perbatasan.
  • Pembangunan menggunakan dana desa dan bantuan Kementerian ESDM.
  • Diresmikan langsung oleh Menteri ESDM dan Bupati Jayapura.
  • Berlokasi di Kampung Skouw, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua.

Petugas Perbatasan Bekerja Tanpa Batas Waktu

Dampak kehadiran PLTS Skouw tidak hanya dirasakan warga, tetapi juga oleh para petugas negara di Pos Lintas Batas. Kantor imigrasi dan bea cukai yang dulu hanya mengandalkan genset kini bisa beroperasi penuh 24 jam. Dokumen perlintasan warga negara Papua Nugini yang datang tengah malam pun dapat diproses tanpa hambatan. Pelayanan publik di perbatasan yang selama ini terbatas oleh waktu dan energi, kini berjalan lebih humanis dan profesional.

Listrik di perbatasan Papua adalah bukti nyata bahwa pembangunan infrastruktur dasar mulai menyentuh wilayah terluar Indonesia. Kehadiran PLTS di Skouw bukan sekadar proyek energi, melainkan simbol kehadiran negara di garis depan. Di tengah rimbunnya hutan dan jauhnya jarak dari pusat pemerintahan, cahaya lampu yang menyala adalah pesan tegas: tidak ada warga Indonesia yang boleh tertinggal, termasuk mereka yang menjaga dan menghuni ujung timur negeri. Semakin banyak kampung di perbatasan yang terang, semakin kuat pula denyut persatuan Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

listrik 24 jam PLTS perbatasan RI-PNG
Tokoh: Maria Wenda
Organisasi: Kementerian ESDM
Lokasi: Indonesia, Kampung Skouw, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua Nugini

Artikel terkait