Malam telah turun di Pulau Miangas, ujung utara Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Tidak ada gemerlap lampu listrik yang menyambut, hanya nyala obor dari bambu yang berpendar redup menerangi jalan setapak berbatu. Pulau yang berbatasan langsung dengan Filipina ini tenggelam dalam gelap setiap matahari terbenam. Dari kejauhan, siluet rumah panggung kayu tampak samar, diterangi titik-titik api yang berkedip seperti kunang-kunang di tengah lautan. Angin laut membawa bau asap dari obor yang menyala, bercampur aroma tanah basah setelah hujan sore. Di sini, kehidupan berjalan tanpa listrik, seperti puing kenangan dari masa lalu yang tak kunjung terperbarui.
Malam di Ujung Negeri: Antara Obor dan Harapan
Warga Miangas sudah puluhan tahun terbiasa dengan kegelapan. Rosalina, seorang ibu muda, menggendong anaknya yang masih balita sambil berjalan hati-hati di antara genangan air. Di tangannya, obor bambu menyala terang, satu-satunya penerang untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. "Kami iri melihat lampu dari kapal Filipina yang lewat," ujarnya lirih, matanya menatap jauh ke arah laut. Foto yang diabadikan jurnalis Lensa-Teritorial memperlihatkan betapa kontrasnya kehidupan di tapal batas: di satu sisi, kapal asing melintas dengan terang benderang; di sisi lain, anak-anak Miangas harus belajar di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip. Pemerintah telah berjanji memasang instalasi solar panel untuk desa terpencil ini, namun sampai hari ini janji itu belum juga terealisasi.
- Tidak ada jaringan listrik sama sekali di Kampung Miangas — ketergantungan penuh pada obor dan lampu minyak.
- Satu-satunya sumber penerangan alternatif adalah genset milik beberapa warga mampu, namun bahan bakar sulit dan mahal.
- Anak-anak sekolah terpaksa belajar di bawah cahaya redup, risiko gangguan penglihatan dan keselamatan tinggi.
- Aktivitas sosial dan ekonomi terhenti begitu malam tiba — pasar, warung, dan tempat ibadah gelap gulita.
Potret Garis Depan: Listrik, Obor, dan Mimpi Anak Perbatasan
Di balik kegelapan, semangat hidup warga Miangas tak pernah padam. Di sebuah rumah panggung, tiga anak duduk melingkar di lantai bambu, buku pelajaran terbuka di pangkuan mereka. Lampu minyak dari kaleng bekas diletakkan di tengah, nyala api kecil menari-nari diterpa angin laut. Mereka tetap belajar dengan tekun, bercita-cita menjadi dokter atau guru agar bisa memajukan desa terpencil ini. Namun, tanpa listrik, akses informasi terbatas, perangkat elektronik tak berguna, dan masa depan terasa suram. Kondisi riil di garis depan ini mengingatkan bahwa Indonesia masih punya pekerjaan rumah besar — menghadirkan keadilan energi di wilayah perbatasan.
- Anak-anak Miangas belajar dengan cahaya lampu minyak yang keruh, mengancam kesehatan penglihatan mereka.
- Akses terhadap teknologi dan informasi modern sangat terbatas tanpa listrik.
- Kapal asing dari Filipina sering terlihat melintas dengan lampu terang, kontras dengan kegelapan di kampung terpencil ini.
- Miangas bukan sekadar titik di peta, melainkan wajah nyata ketertinggalan infrastruktur di ujung negeri.
Di ujung utara Indonesia, di mana ombak Laut Sulawesi berhembus keras, warga Miangas masih bergulat dengan keterbatasan. Namun, di balik kegelapan, mereka tetap menyimpan mimpi dan harapan. Sudah saatnya negara hadir membawa terang, bukan hanya untuk memenuhi janji, tetapi untuk menyalakan semangat kebangsaan di tapal batas. Karena ketika lampu menyala di Miangas, di situlah Indonesia benar-benar hadir untuk anak-anak di perbatasan.