NASIONALISM

Rindu NKRI: Warga Kampung Sota, Papua, Kibarkan Merah Putih di Atas Perahu Kayu di Sungai Maro

Rindu NKRI: Warga Kampung Sota, Papua, Kibarkan Merah Putih di Atas Perahu Kayu di Sungai Maro

Warga Kampung Sota, Papua, menggelar aksi spontan dengan menghias perahu kayu dan mengibarkan bendera Merah Putih di Sungai Maro untuk menyemarakkan HUT ke-81 RI. Meski hidup dalam keterbatasan infrastruktur dan jarak yang jauh dari pusat kota, mereka menunjukkan nasionalisme yang tulus dan tak pernah lupa pada tanah air. Aksi ini menjadi simbol kuat bahwa kecintaan pada NKRI tetap berkobar di garis depan, meski akses layanan dasar masih terbatas.

Minggu pagi yang cerah menyambut Kampung Sota, Kabupaten Merauke, Papua, saat udara lembab Sungai Maro berbaur dengan aroma lumpur khas rawa-rawa perbatasan. Sekitar 30 perahu kayu nelayan berjejer rapi di atas permukaan air yang kecoklatan, dihiasi janur kuning dan bendera Merah Putih raksasa yang melambai di atas tiang bambu. Dari kejauhan, pos border Indonesia-Papua Nugini terlihat lengang, sementara latar belakang hutan sagu yang rimbun menambah kesan tersembunyi lokasi ini. Anak-anak kecil berlarian di tepi sungai, melambaikan bendera mini dengan riang, sementara para ibu dan bapak bersiap di atas perahu—sebuah pemandangan yang begitu kontras dengan kesunian biasa wilayah garis depan ini. Inilah aksi spontan warga Kampung Sota, tanpa koordinasi dengan pemerintah, demi menyemarakkan HUT ke-81 RI yang masih beberapa pekan lagi.

'Ini untuk mengingatkan kami yang tinggal di ujung negeri bahwa kami adalah Indonesia,' ujar Kepala Kampung Sota, Yohanes (60), sambil memegang kemudi perahu kayunya.

Potret Garis Depan: Perahu Kayu, Bendera, dan Semangat yang Tak Padam

Di atas Sungai Maro yang membelah perbatasan Indonesia-Papua Nugini, barisan perahu kecil bergerak perlahan mengikuti arus. Drone yang merekam dari atas memperlihatkan mozaik perahu-perahu dengan bendera Merah Putih yang berkibar kencang ditiup angin perbatasan. Suara riak air bercampur dengan teriakan semangat 'Merdeka!' yang menggema dari mulut para nelayan dan ibu-ibu yang ikut berperahu. Warga Kampung Sota, yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan dan petani sagu, dengan segala keterbatasan infrastruktur—akses listrik yang terbatas, jalan berbatu, dan jarak tempuh berjam-jam ke pusat kota Merauke—tetap memilih untuk mengekspresikan cinta tanah air dengan cara paling sederhana: menghias perahu dan membentangkan Merah Putih.

  • Kondisi Lapangan: Kampung Sota berjarak sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Merauke, dengan akses jalan yang sebagian besar rusak dan berbatu. Aliran Sungai Maro menjadi arteri utama mobilitas warga.
  • Suara Warga: Seorang ibu yang ikut berperahu dengan suara lirih namun tegas mengatakan, 'Kami ingin agar Jakarta tahu, meskipun kami susah, kami tetap cinta NKRI.'
  • Semangat Nasionalisme: Aksi ini murni inisiatif warga, tanpa dukungan dari instansi pemerintah setempat, menunjukkan nasionalisme yang tulus dari garis depan.

Jeritan Hati dari Ujung Negeri: 'Kami Masih Ingat NKRI'

Sungai Maro bukan hanya batas geografis yang memisahkan Indonesia dengan Papua Nugini, tetapi juga simbol dari kesenjangan yang dirasakan warga Sota. Di satu sisi, mereka terpapar langsung dengan budaya dan aktivitas di negara tetangga; di sisi lain, akses terhadap layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan di kampung mereka sendiri masih terbatas. Namun, saat perahu-perahu berlabuh di tepi sungai setelah acara, Kepala Kampung Sota, Yohanes, dengan suara bergetar mengungkapkan rasa syukur: 'Kami ingin menunjukkan bahwa meskipun tinggal di ujung negeri, kami tidak pernah lupa dengan merah putih. Bendera ini adalah harga diri kami.'

Ketika malam tiba dan lampu-lampu mulai menyala redup di beberapa rumah panggung, semangat warga Sota tetap membara. Meski keterbatasan infrastruktur dan jarak yang jauh membentang, mereka membuktikan bahwa nasionalisme tidak diukur dari kemewahan fasilitas, melainkan dari keikhlasan hati untuk tetap berdiri di bawah naungan NKRI. Merah Putih yang berkibar di atas perahu kayu itu bukan sekadar simbol, melainkan denyut nadi perjuangan warga di ujung negeri—sebuah pesan yang menggugah kita semua untuk terus memperhatikan dan merawat kebhinekaan dari Sabang sampai Merauke.

HUT ke-81 RI nasionalisme perbatasan Indonesia-Papua Nugini
Tokoh: Yohanes
Lokasi: Kampung Sota, Kabupaten Merauke, Papua, Sungai Maro, Indonesia, Papua Nugini, Jakarta

Artikel terkait