Angin pegunungan menusuk kulit saat pagi mulai merangkak naik di lereng Gunung Lakaan, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Di bawah rindangnya pohon asam yang usianya tak lagi muda, puluhan anak berseragam lusuh duduk melingkar di atas tikar anyaman bambu. Tidak ada meja, tidak ada papan tulis — hanya suara desau angin dan gemerisik daun kering yang menjadi latar belajar mereka. Maria (9), seorang gadis cilik dengan rambut dikuncir dua, memegang selembar kertas lusuh — surat dari seorang pelajar di Kupang yang tiba beberapa minggu lalu via pos. Matanya berbinar saat berbisik, "Kakak, saya mau jadi dokter nanti, tapi di sini tidak ada guru." Suaranya nyaris tertelan deru angin, namun semangatnya membelah sunyi lereng bukit, mengingatkan bahwa di ujung timur Indonesia, rindu sekolah bukan sekadar rindu akan gedung, melainkan rindu akan hadirnya sosok pendidik yang bisa membuka jendela dunia.
Belajar di Bawah Pohon Asam: Potret Sekolah Tanpa Guru di Perbatasan Darat NTT–Timor Leste
Di desa yang berbatasan langsung dengan Timor Leste ini, kehadiran guru tetap adalah kemewahan yang jarang dinikmati. Hanya ada seorang pemuda desa yang menjadi sukarelawan, mengajar dengan suara lirih di tengah deru angin pegunungan. Anak-anak seperti Maria dan Markus harus menempuh perjalanan kaki hingga dua jam menuruni bukit berbatu hanya untuk sampai ke titik belajar mereka. Ketika hujan tiba, jalanan tanah merah berubah menjadi licin dan berlumpur, membuat langkah mereka semakin berat. Namun, tak satu pun dari mereka yang mengeluh. Mereka datang dengan membawa kerikil dan daun-daun kering yang berserakan di tanah — alat untuk belajar berhitung dan membaca.
- Tak ada guru tetap: Hanya sukarelawan dari desa sendiri yang bergantian mengajar, itupun dengan segala keterbatasan waktu dan materi.
- Infrastruktur nihil total: Tidak ada listrik, tidak ada sinyal telepon, tidak ada sekolah permanen — hanya langit dan pohon sebagai atap kelas.
- Alat belajar darurat: Kerikil menjadi media berhitung, daun kering sebagai pengganti buku latihan, dan tanah lapang sebagai papan tulis.
- Jarak tempuh ekstrem: Anak-anak berjalan kaki hingga 2 jam dari rumah masing-masing ke lokasi belajar, melewati jalur berbatu dan terjal.
Meski fasilitas tak ada, semangat mereka tak pernah padam. Saat Paskah dan Natal tiba, mereka justru naik ke puncak bukit untuk berkumpul, berdoa, dan bernyanyi. Di antara mereka, ada anak-anak yang belum pernah melihat kota, apalagi merasakan dinginnya ruang kelas. Namun, di balik seragam lusuh dan buku usang, tersimpan mimpi-mimpi besar — menjadi dokter, guru, bahkan presiden. Mereka adalah anak-anak perbatasan yang tumbuh dalam keterbatasan, namun memiliki ketahanan jiwa yang luar biasa.
Kerinduan di Ujung Negeri: Semangat Nasionalisme Anak NTT di Perbatasan Darat
Kabupaten Belu adalah salah satu daerah perbatasan darat Indonesia dengan Timor Leste. Di sini, rindu sekolah bukan sekadar kerinduan fisik akan ruang kelas, melainkan kerinduan akan masa depan yang lebih baik. Saat mentari mulai tenggelam di ufuk timur, mereka tetap bertahan di bawah pohon asam — berharap suatu hari nanti akan ada guru yang berdiri di depan mereka dengan papan tulis sungguhan. Ketiadaan guru justru membakar tekad mereka untuk belajar lebih keras, karena mereka sadar bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk keluar dari jerat keterbatasan. Setiap kali seorang sukarelawan datang, mereka menyambut dengan senyum dan pertanyaan yang tak pernah habis tentang dunia di luar bukit.
Di tengah keprihatinan ini, nasionalisme tumbuh subur. Anak-anak ini tahu bahwa mereka adalah bagian dari Indonesia — meski jauh dari pusat pemerintahan, meski akses pendidikan masih terbatas. Mereka tetap mengibarkan bendera Merah Putih di puncak bukit saat upacara sederhana. Mereka hafal lagu kebangsaan, dan dengan lantang mereka menyanyikannya di antara dedaunan kering. Semangat ini adalah bukti bahwa rindu sekolah di perbatasan darat NTT-Timor Leste bukanlah sekadar kisah duka, melainkan potret ketangguhan generasi penerus yang tak mau menyerah pada keadaan. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa kerinduan mereka segera terjawab — dengan kehadiran guru, buku, dan sekolah yang layak di ujung negeri ini.