SUARA PERBATASAN

Rindu Sekolah di Tengah Sengketa, Anak-anak Perbatasan Ingin Damai

Rindu Sekolah di Tengah Sengketa, Anak-anak Perbatasan Ingin Damai

Anak-anak perbatasan di Desa Mosso, Kalimantan Barat, tetap bersekolah dengan semangat di tengah sengketa batas Indonesia-Malaysia yang belum usai. Jalan rusak, akses terbatas, dan suasana kebun karet yang tegang menjadi tantangan sehari-hari, namun tawa dan mimpi mereka tak pernah padam. Mereka hanya ingin damai, aman belajar, dan kehadiran nyata negara di garis depan.

Matahari pagi di Desa Mosso, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, baru saja menyapa puncak-puncak bukit ketika tawa riang anak-anak perbatasan mulai pecah di halaman sebuah sekolah sederhana. Kabut tipis masih menggantung, membungkus udara dingin yang khas garis depan. Mereka berlari, menendang bola anyaman plastik, sesekali berhenti sejenak untuk melirik ke arah bukit yang menjadi pemisah Indonesia dan Malaysia—sebuah garis imajiner yang bagi orang dewasa adalah sumber ketegangan, tapi bagi anak-anak hanyalah latar belakang permainan. Di tengah sengketa batas antarnegara yang belum mereda, bangunan sekolah berdiri sebagai saksi bisu perjuangan kecil mereka untuk tetap belajar, bermimpi, dan berharap pada arti damai.

Potret Garis Depan: Jalan Rusak, Semangat Tak Pernah Padam

Menuju sekolah di Desa Mosso bukan perkara mudah. Anak-anak perbatasan harus menyusuri ruas jalan bebatuan yang pecah-pecah, berlubang, dan licin saat hujan. Jalan ini adalah urat nadi penghubung permukiman warga dengan sekolah, tetapi juga menjadi penghalang besar bagi semangat belajar. Setiap pagi, mereka berjalan berbondong-bondong, sebagian tanpa alas kaki, melewati kebun karet yang sunyi namun sarat akan keresahan. Di kawasan yang masuk dalam area sengketa, kebun karet bukan sekadar sumber penghidupan—ia adalah garis hidup yang kerap diselimuti tegang oleh suasana yang belum mereda.

  • Kondisi jalan rusak berat: bebatuan terkelupas, lubang dalam menganga, dan lumpur licin di musim penghujan.
  • Akses terbatas: kendaraan roda dua pun kesulitan melintas, mayoritas anak memilih berjalan kaki demi menghemat waktu.
  • Suasana kebun karet mencekam: warga tetap waspada terhadap potensi gesekan di sepanjang zona sengketa.
  • Sekolah sederhana: bangunan dengan fasilitas amat terbatas, namun tetap menjadi mercusuar harapan bagi masa depan mereka.

Suara warga yang ditemui di sekitar Sekayam menggambarkan keprihatinan mendalam. Mereka berharap persoalan batas negara segera tuntas—bukan hanya demi kepastian wilayah, tetapi demi masa depan anak-anak yang setiap hari harus melewati zona paling sensitif di perbatasan. "Kami hanya ingin anak-anak kami aman sekolah. Sengketa itu urusan orang dewasa, tapi yang menanggung akibatnya anak-anak," begitu kurang lebih keluh kesah yang kerap terdengar di sela-sela tetesan getah karet. Rasa nasionalisme di sini tidak diukur dari pidato, melainkan dari keteguhan mereka bertahan di ujung negeri.

Rindu Damai: Tawa yang Melawan Ketakutan

Di tengah sengketa yang belum usai, anak-anak Desa Mosso tetap menunjukkan semangat belajar yang luar biasa. Tawa mereka di halaman sekolah adalah simbol perlawanan terhadap ketakutan. Mereka tidak banyak mengerti soal patok batas atau negosiasi antarnegara, tetapi mereka paham arti damai: bangun pagi, pergi ke sekolah tanpa rasa cemas, dan pulang ke rumah dengan senyum orang tua. Sekolah di tengah kegaduhan menjadi ruang paling jujur untuk mengobarkan cita-cita—ada yang ingin jadi guru, tentara, bahkan presiden. Semua mimpi itu tumbuh di tanah perbatasan yang sering dilupakan.

Semangat nasionalisme tidak selalu diwujudkan dengan parade bendera atau pidato lantang. Di garis depan, nasionalisme adalah anak-anak yang tetap memakai seragam putih-merah meski jalanan rusak dan sengketa masih menggantung. Mereka adalah penjaga mimpi di ujung negeri, yang setiap harinya membuktikan bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh melawan ketidakpastian. Anak perbatasan di Sanggau, Kalimantan Barat, tidak ingin menjadi bagian dari konflik; mereka hanya ingin sekolah yang aman, masa depan yang jelas, dan damai yang nyata.

Ketika mentari semakin tinggi, mengusir kabut dan dingin perbatasan, tawa anak-anak itu tetap bergema di antara bukit. Mereka belum tentu mengerti kata "diplomasi" atau "negosiasi", tetapi mereka telah memberi pelajaran berharga tentang ketangguhan. Sudah saatnya negara hadir lebih nyata, bukan hanya dengan janji—memperbaiki jalan, memperkuat fasilitas sekolah, dan memastikan sengketa perbatasan segera diselesaikan dengan cara terhormat. Karena di ujung negeri ini, ada anak-anak yang setiap pagi berjalan menembus ketegangan demi mengejar mimpi, dan mereka tidak sendirian—mereka adalah bagian dari Indonesia. Selama masih ada tawa yang pecah di halaman sekolah perbatasan, selama itu pula harapan tak pernah padam bagi negeri yang berdiri dari Sabang sampai Merauke.

pendidikan sengketa batas perbatasan perdamaian
Lokasi: Desa Mosso, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Malaysia

Artikel terkait