Senja mulai menguning di pesisir Desa Sektotong, Lombok Barat, NTB. Di sebuah warung kayu berdinding papan lapuk, tempat itu bukan sekadar tempat berteduh — ia adalah panggung kecil kehidupan nelayan yang menanti perubahan. Gelombang laut memecah di kejauhan, bercampur suara obrolan para nelayan yang duduk melingkar di kursi plastik. Dari sudut warung, papan tulis putih penuh coretan menjadi saksi bisu: hasil tangkapan menurun, harga solar meroket, dan akses pelabuhan perbatasan yang tak kunjung diperbaiki.
Warung Pojok, Panggung Aspirasi di Perbatasan Laut
Warung milik Pak Rudi (60) ini telah puluhan tahun menjadi ruang temu warga. Di sinilah aspirasi warga perbatasan laut mengalir tanpa sekat. Setiap sore, para nelayan meninggalkan perahunya di dermaga sederhana lalu berkumpul memesan kopi hitam sambil mendiskusikan nasib. Catatan-catatan di papan tulis itu menjadi semacam posko keluhan yang kelak dibawa ke meja perwakilan rakyat. Beberapa hal yang terus diperjuangkan warga Sektotong antara lain:
- Hasil tangkapan ikan yang terus menurun akibat perubahan cuaca dan minimnya armada tangkap.
- Harga solar yang melambung tinggi — jauh dari jangkauan nelayan harian.
- Akses ke pelabuhan perbatasan yang rusak dan belum pernah diperbaiki sejak bertahun-tahun lalu.
- Kebutuhan perhatian dari pemerintah daerah dan pusat yang terasa masih sangat jauh.
“Kami tinggal di perbatasan laut antara Indonesia dan perairan Australia, tapi bantuan masih jauh,” ujar Pak Rudi sambil menuangkan kopi ke cangkir bekas. Kalimat itu menggantung, seperti halnya sisa asap hasil pembakaran kayu di warung kecil itu. Wajahnya yang keriput memancarkan kelelahan yang panjang, tetapi juga harapan yang tak pernah padam. Di kursi plastik yang sama, para nelayan muda menunduk sesekali, menatap layar ponsel yang hanya berisi sinyal redup. Mereka sadar, banyak yang harus berjuang di balik lautan yang tampak tenang.
Malam di Dermaga, Menanti Kehadiran Wakil Rakyat
Matahari perlahan tenggelam di garis ufuk, menandai magic hour yang selalu dinanti fotografer. Siluet perahu-perahu tambat tampak berjajar di dermaga sederhana yang sama seperti dalam foto-foto Lensa-Teritorial. Lampu minyak tanah mulai menyala satu per satu, menerangi wajah-wajah penuh harap di sudut warung. Sekelompok nelayan muda berdiri di tepi dermaga, sesekali menunjuk ke arah laut yang mulai gelap — menunjuk pada wilayah tempat mereka mengadu nasib. Di kejauhan, perairan perbatasan laut Indonesia berada dalam dekapan senja yang tenang, namun hangat dengan kecemasan.
Kabar baik datang: perwakilan DPRD berjanji akan mendengar langsung keluhan mereka pada pekan ini. Rencana itu menjadi percakapan hangat yang menembus rasa lelah setelah seharian mengarungi ombak. Warga berharap kunjungan itu bukan sekadar seremoni belaka. Mereka menanti aksi nyata: perbaikan pelabuhan, akses solar bersubsidi, dan pendampingan bagi nelayan kecil yang bertahan di ujung negeri. Sebagai bagian dari laporan jurnalistik LTB (Lensa-Teritorial), kami mencatat tetap ada denyut nasionalisme yang kuat di balik keterbatasan ini.
Ketika malam semakin larut, warung pojok itu masih belum sepi. Beberapa nelayan menyesap kopi terakhir mereka sambil membicarakan rencana melaut esok pagi. Mereka adalah penjaga kedaulatan pangan dan garis batas yang tak pernah meminta imbalan besar. Sudah selayaknya kita semua melihat ke arah mereka — karena di balik setiap papan tulis keluhan, ada semangat yang tidak pernah menyerah untuk negeri ini. Di Sektotong, perhatian dari pusat bukan sekadar permintaan, melainkan keadilan bagi mereka yang setiap hari memeluk cakrawala perbatasan.