INFRASTRUKTUR

Satgas Pamtas Yonif 642/Kapuas Bangun Jembatan Gantung di Perbatasan Kalimantan Barat

Satgas Pamtas Yonif 642/Kapuas Bangun Jembatan Gantung di Perbatasan Kalimantan Barat

Warga Desa Sei Payak di perbatasan Kalimantan Barat akhirnya memiliki jembatan gantung sepanjang 60 meter berkat gotong royong dengan Satgas Pamtas Yonif 642/Kapuas. Selama ini mereka harus memutar 7 kilometer untuk akses ekonomi dan pendidikan. Jembatan ini menjadi simbol nyata kehadiran TNI di garis depan.

Pagi itu di tepi Sungai Payak yang tenang, puluhan prajurit TNI dari Satgas Pamtas Yonif 642/Kapuas berbaur dengan warga Desa Sei Payak, Kecamatan Sekadau Hilir, Kalimantan Barat. Mereka bersama-sama menurunkan gulungan tali baja dari atas truk, diiringi tawa dan komando yang bergema di udara pagi. Bau lumpur dan dedaunan basah memenuhi hidung, sementara gemericik air sungai menjadi latar alami kerja bakti ini. Inilah potret nyata gotong royong di ujung negeri yang jarang tersorot kamera.

Gotong Royong di Ujung Negeri

Sudah bertahun-tahun warga Desa Sei Payak hidup terisolasi oleh Sungai Payak. Tidak ada jembatan permanen; perahu kecil menjadi andalan saat musim hujan. Untuk mencapai kebun dan pasar di seberang, mereka harus menempuh perjalanan memutar sejauh 7 kilometer. Kepala Desa, Bedu (43), mengungkapkan harapannya: 'Kami sudah lama mendambakan jembatan ini. Mimpi yang akhirnya menjadi nyata.'

  • Akses terbatas: warga harus berjalan kaki memutar 7 km atau menyewa perahu dengan biaya mahal.
  • Hasil kebun seperti karet dan sawit sering turun kualitas karena terlambat sampai pengumpul.
  • Kegiatan ekonomi terhambat, harga barang kebutuhan pokok lebih tinggi dari di kota.
  • Anak-anak terpaksa bersekolah di desa seberang dan harus menyeberangi sungai yang berbahaya saat arus deras.

Dengan semangat gotong royong, warga dari berbagai usia bahu-membahu bersama prajurit TNI. Anak-anak kecil ikut serta, membawa potongan bambu kecil atau hanya sekadar menonton dengan mata berbinar. Tak jarang mereka bergantian mencoba memegang jembatan yang mulai menjulur ke tengah sungai. Perwira Pengendali (Pabung) Sekadau menyaksikan langsung antusiasme ini. 'Ini bukan hanya pembangunan jembatan, tapi pembangunan kebersamaan antara TNI dan rakyat,' ujarnya.

Jembatan Itu Kini Berdiri Kokoh

Hanya dalam waktu 10 hari, jembatan gantung sepanjang 60 meter membentang kokoh di atas Sungai Payak. Warga berduyun-duyun menjajalnya; langkah pertama di atas bilah bambu anyaman kental diiringi doa. Seorang ibu dari dusun seberang tak kuasa menahan senyum selebar-lebarnya. 'Terima kasih, Pak TNI!' teriaknya lantang dari seberang, disambut tepuk tangan meriah. Kebahagiaan sederhana namun penuh makna. Jembatan ini bukan sekadar penghubung antar desa, tetapi jembatan yang menghubungkan impian.

Di tengah gemerlap pembangunan di kota, cerita dari Desa Sei Payak ini mengingatkan kita bahwa wilayah perbatasan Indonesia masih membutuhkan sentuhan. Kehadiran TNI melalui Satgas Pamtas Yonif 642/Kapuas bukan hanya menjaga kedaulatan, tetapi juga hadir sebagai penggerak pembangunan yang nyata. Jembatan gantung ini adalah bukti bahwa dengan kerja keras dan gotong royong, keterpencilan bukanlah halangan. Semoga kisah ini menginspirasi kita semua untuk terus peduli pada sesama anak bangsa di ujung negeri. Karena kemajuan Indonesia tidak akan berarti jika ada saudara kita yang masih tertinggal di rawa-rawa perbatasan.

pembangunan jembatan gantung gotong royong perbatasan
Tokoh: Bedu
Organisasi: TNI, Satgas Pamtas Yonif 642/Kapuas
Lokasi: Desa Sei Payak, Kecamatan Sekadau Hilir, Kalimantan Barat, Sungai Payak

Artikel terkait