NASIONALISM

Satgas Yonif 731/Kabaresi Bantu Bangun Honai di Puncak Papua, Warga Julukoma: Kami Merasa Sangat Diperhatikan

Satgas Yonif 731/Kabaresi Bantu Bangun Honai di Puncak Papua, Warga Julukoma: Kami Merasa Sangat Diperhatikan

Di Kampung Julukoma, Kabupaten Puncak, Papua, prajurit Satgas Yonif 731/Kabaresi dan warga bahu-membahu membangun Honai melalui gotong royong yang tulus, memperkuat ikatan sosial dan budaya di garis depan. Proses ini bukan hanya tentang mendirikan rumah adat, tetapi simbol nyata kehadiran negara yang menghargai kearifan lokal dan kehidupan warga perbatasan. Dari lereng Beoga, terpancar pesan bahwa merawat perbatasan dimulai dengan merawat manusianya dan menjaga identitas budayanya tetap hidup.

Kabut pagi masih menggantung rendah di lereng-lereng Beoga, menyelimuti lembah dan bukit di Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Di Kampung Julukoma, udara dingin pegunungan yang menusuk tulang dipotong oleh suara khas garis depan: derap langkah prajurit, ketokan palu yang berirama, dan tawa riang warga yang bergema di antara kabut. Inilah gambaran nyata pagi di ujung negeri, di mana Satgas Yonif 731/Kabaresi tidak hanya menjaga tapal batas, tetapi turun langsung ke jantung permukiman, membaur dengan warga dalam sebuah misi yang lebih hangat dari sinar matahari—membangun Honai.

Di Lereng Beoga, Gotong Royong Menjadi Bahasa Persatuan

Tanah becek dan serpihan kulit kayu menempel di seragam lapangan yang sudah basah oleh keringat dan embun. Prajurit bergantian mengangkat balok kayu gelondongan yang berat, sementara tangan-tangan warga dengan cekatan merangkai dinding dari bahan alam. Bau khas kayu basah, tanah lembap, dan alang-alang segar membaur menjadi satu, menciptakan atmosfer kerja yang penuh semangat. Bapa Stenli Ogam Jumal, tokoh adat dengan sorot mata tajam, menyaksikan setiap paku yang ditancapkan, setiap ikatan yang diperkuat. "Mereka bekerja seperti keluarga sendiri," ujarnya dengan suara parau yang penuh rasa haru. Di Puncak ini, proses membangun rumah adat bukan sekadar urutan teknis, melainkan ritual yang merekatkan hubungan antara negara dan warganya.

  • Kondisi Lokasi: Kampung Julukoma terletak di ketinggian dengan akses terbatas, dikelilingi kabut dan cuaca yang tak menentu.
  • Suara Warga: Warga merasa kehadiran dan kerja fisik prajurit TNI adalah bentuk nyata perhatian yang selama ini mereka rindukan.
  • Fakta Lapangan: Material bangunan sepenuhnya diambil dari alam sekitar, mempertahankan teknik tradisional pembuatan rumah adat Papua.

Honai yang Hampir Rampung: Metafora Ketahanan di Garis Depan

Asap mulai mengepul dari tungku perapian di dalam Honai yang hampir rampung, melambangkan kehidupan baru yang akan mengisi ruang bulat dengan atap kerucut itu. Bentuknya yang khas, lebih dari sekadar arsitektur, adalah simbol ketahanan masyarakat Papua menghadapi dinginnya pegunungan dan kerasnya kehidupan di perbatasan. Setiap lapisan alang-alang di atap, setiap anyaman kulit kayu di dinding, adalah hasil dari gotong royong yang tanpa pamrih. Di sini, di tanah yang dingin ini, ikatan dibangun bukan dari kata-kata, melainkan dari keringat yang tercampur, tangan yang saling membantu mengangkat beban, dan tatapan penuh hormat antara prajurit dan bapak-bapak kampung.

Pembangunan rumah adat ini adalah cermin dari sebuah komitmen yang lebih dalam. Ia adalah upaya bersama menjaga jantung kebudayaan, memastikan bahwa di tengah perubahan zaman, identitas masyarakat asli Puncak tetap berdiri kokoh. Honai yang baru bukan hanya tempat bernaung dari hujan dan angin, tetapi menjadi monumen hidup tentang bagaimana gotong royong antara TNI dan rakyat mampu membangun kembali fondasi sosial yang kuat, tepat di garis terdepan kedaulatan Indonesia.

Dari Kampung Julukoma yang diselimuti kabut ini, sebuah pesan penting bergema untuk seluruh bangsa: merawat perbatasan adalah dengan merawat manusianya, menghormati budayanya, dan hadir langsung di tengah denyut kehidupannya. Setiap paku yang tertancap, setiap senyum yang terukir dalam proses membangun Honai, adalah benang merah yang mengikat rasa kebangsaan dari pusat ibu kota hingga ke pelosok Papua yang paling terpencil. Inilah bentuk nasionalisme yang nyata—bekerja bersama, meringankan beban, dan memastikan tidak ada satu pun warga di ujung negeri yang merasa sendiri atau terlupakan. Mereka, bersama prajurit TNI, bukan hanya membangun rumah, tetapi membangun masa depan Indonesia yang lebih utuh dan berdaulat dari garis depannya.

bantuan membangun Honai membangun rumah adat menjaga kearifan lokal TNI bersama rakyat
Tokoh: Stenli Ogam Jumal
Organisasi: Satgas Yonif 731/Kabaresi, TNI
Lokasi: Kampung Julukoma, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, Papua, Beoga

Artikel terkait