POTRET GARIS DEPAN

Sekolah Dasar di Pulau Sebatik, Perbatasan RI-Malaysia, Kekurangan Guru

Sekolah Dasar di Pulau Sebatik, Perbatasan RI-Malaysia, Kekurangan Guru

SDN 005 Pulau Sebatik, perbatasan RI-Malaysia, hanya memiliki tiga guru yang harus merangkap mengajar banyak kelas. Kekurangan guru menyebabkan enam meja kayu kosong dan sejumlah siswa kehilangan pendampingan belajar. Akses ke pulau yang sulit menjadi tantangan besar bagi pemenuhan tenaga pendidik di garis depan.

Angin laut bertiup kencang menerobos celah dinding papan SDN 005 Pulau Sebatik, membawa bau asin dan debu yang menempel di meja kayu tua. Di sudut ruang kelas, enam bangku dan meja kosong masih berdiri, tidak lagi berfungsi karena tidak ada guru yang mengajar. Kepala Sekolah Surono (55) berdiri di pintu, memperhatikan tiga guru yang tersisa — termasuk dirinya — mencoba membagi perhatian ke dua kelas berbeda dalam waktu yang bersamaan. “Kami harus merangkap. Saya pegang kelas 4 dan 6 karena guru PJOK tidak datang sudah tiga bulan,” katanya sambil mengusap papan tulis. Suara ombak yang tidak jauh dari sekolah seakan menjadi latar dari perjuangan panjang pendidikan di ujung negeri.

Merangkap di Tengah Keterbatasan

Pulau Sebatik, yang terletak di perbatasan Indonesia-Malaysia, seharusnya menjadi salah satu titik paling diperhatikan dalam peta pendidikan nasional. Namun di SDN 005, keterbatasan justru menjadi keseharian yang tidak ada habisnya. Bangunan sekolah yang berdinding papan itu memiliki jendela tanpa kaca, sehingga angin laut bebas keluar masuk dan membawa suara deburan ombak yang cukup keras. Meski halaman sekolah masih terlihat bersih, banyak ruang kelas yang tidak berfungsi maksimal karena kekurangan tenaga pengajar. Guru PJOK yang sudah tiga bulan tidak hadir memperparah kondisi, mengakibatkan anak-anak kehilangan jam pelajaran dan pendampingan.

  • Ruang kelas berdinding papan dengan jendela tanpa kaca yang membiarkan angin laut masuk bebas.
  • Enam meja kayu tidak terpakai akibat tidak adanya guru yang mengisi kelas tersebut.
  • Hanya tiga guru yang tersisa, termasuk kepala sekolah, harus merangkap mengajar dua kelas sekaligus.
  • Akses menuju Pulau Sebatik hanya bisa ditempuh dengan perahu motor selama dua jam dari kota, menjadi kendala utama rekrutmen guru.

Surono mengaku tidak bisa berbuat banyak selain menggerakkan guru-guru yang ada untuk bekerja ekstra. Ia berharap pemerintah daerah segera merealisasikan janji pengiriman guru kontrak. “Kalau ada guru baru, saya akan bagikan satu guru untuk satu kelas. Jangan sampai anak-anak di perbatasan lebih lama lagi menunggu pendidikan yang layak,” tuturnya.

Cita-cita di Ujung Negeri

Di kelas 4, Andre (11) duduk dengan seragam lusuh dan mata yang jernih. Dia adalah salah satu siswa yang masih bertahan di SDN 005. Meski keterbatasan melanda, semangat belajarnya tidak surut. Namun saat ditanya tentang cita-citanya, jawabannya menusuk. “Saya ingin jadi polisi, tapi katanya harus pintar. Saya tidak punya guru yang bisa mengajari,” ungkapnya polos. Kalimat itu menjadi salah satu kegelisahan terbesar yang harus dihadapi dalam pendidikan di Pulau Sebatik.

Dengan segala keterbatasan, Andre masih punya semangat untuk mengejar mimpi. Namun tanpa guru yang memadai, mimpi itu menjadi jauh dan penuh onak. Kondisi ini diperparah dengan minimnya akses transportasi ke pulau, sehingga banyak guru yang enggan ditempatkan di daerah perbatasan. Pemerintah daerah berjanji akan mengirim guru kontrak, namun perjalanan dua jam menggunakan perahu motor sering kali membuat calon guru berubah pikiran.

Pendidikan di Pulau Sebatik harus menjadi prioritas, bukan sekadar janji. Karena di sudut-sudut negeri ini, setiap anak — termasuk Andre — memiliki hak yang sama untuk belajar dan menggapai cita-cita. Di garis depan perbatasan, kehadiran seorang guru adalah simbol kehadiran negara. Menunggu kehadiran itu bukanlah sebuah pilihan; adalah sebuah keharusan untuk segera dipenuhi. Sudah saatnya kita menatap jauh ke ujung negeri ini, bukan hanya dari ibu kota, melainkan dari ruang-ruang kelas yang sempit di tepi perbatasan yang teramat membutuhkan.

Kekurangan guru Pendidikan Perbatasan Pulau Sebatik
Tokoh: Surono, Andre
Organisasi: SDN 005 Pulau Sebatik, Pemerintah daerah
Lokasi: Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, Indonesia, Malaysia, Perbatasan RI-Malaysia

Artikel terkait