POTRET GARIS DEPAN

Sekolah di Krayan: Belajar di Atas Awan dengan Buku Pinjaman

Sekolah di Krayan: Belajar di Atas Awan dengan Buku Pinjaman

Di Krayan, Kalimantan Utara, sebuah sekolah di ketinggian 1.200 mdpl berdiri reyot dengan atap bocor, dinding berlubang, dan buku pinjaman usang dari Nunukan. Guru tunggal Pak Ridwan mengajar 18 anak dengan semangat yang tak padam meski di tengah keterbatasan infrastruktur. Potret ini menggambarkan perjuangan pendidikan di perbatasan, di mana impian anak-anak seperti Dedi tetap bersinar di atas awan.

Di ketinggian lebih dari 1.200 meter di atas permukaan laut, Krayan, Kalimantan Utara, menyembul bagai negeri di atas awan. Kabut tebal menggantung seperti selimut raksasa, menyelimuti lereng hijau yang curam dan sunyi. Angin gunung menggigirkan setiap pagi, menerpa bangunan sekolah papan yang berdiri reyot di antara gemerisik dedaunan. Atap seng berkarat memekik pelan saat angin kencang melintas, dinding papan berlubang membiarkan embun dan dingin merasuk ke dalam ruang kelas. Di sanalah, 18 anak perbatasan duduk melingkar di lantai papan, belajar dengan semangat yang tak pernah padam meski di tengah keterbatasan.

Potret Kelas di Tengah Kabut: Infrastruktur yang Bertahan di Ujung Negeri

Pak Ridwan, 34 tahun, guru tunggal di sekolah itu, setiap hari menempuh jalan setapak licin karena kabut untuk tiba di kelas. Di dalam, meja-meja kayu sudah reyot—kaki patah diganjal batu agar tidak roboh saat dipakai menulis. Atap seng berkarat bocor di sana-sini, membuat lantai papan basah ketika hujan turun. Dinding papan yang berlubang tidak hanya menjadi celah bagi angin, tapi juga bagi embun pagi yang masuk perlahan, membasahi buku-buku yang sudah usang. Pak Ridwan mengajar dengan buku-buku pinjaman dari Nunukan, kota yang jaraknya dua hari perahu dari Krayan. Berikut kondisi yang terekam di lapangan:

  • Meja kayu reyot dengan kaki patah, diganjal batu agar tidak roboh saat dipakai menulis.
  • Atap seng berkarat yang bocor saat hujan, membuat siswa harus memindahkan tempat duduk.
  • Dinding papan berlubang yang membiarkan embun masuk, menambah dingin di pagi hari.
  • Buku pinjaman dari Nunukan yang sudah usang, dengan halaman sobek dan gambar pudar.

Semangat Belajar di Atas Awan: Impian di Tengah Keterbatasan

Di tengah segala keterbatasan, anak-anak itu tetap bersemangat. Salah satu murid, Dedi, 9 tahun, menulis namanya dengan kapur di papan tulis hitam yang sudah retak. "Aku ingin jadi tentara nanti biar bisa bantu desa," katanya dengan mata berbinar. Di balik kabut tebal yang menyembunyikan lembah di bawah, ada impian-impian besar yang tumbuh. Buku pinjaman yang sobek tidak mengurangi rasa ingin tahu mereka. Setiap hari, mereka duduk rapi di lantai papan, mendengarkan Pak Ridwan yang mengajar dengan suara serak. Akses buku dari Nunukan yang ditempuh dua hari perahu menunjukkan betapa sulitnya roda pendidikan berputar di wilayah perbatasan ini. Namun, anak-anak Krayan enggan menyerah. Mereka percaya bahwa melalui pendidikan, masa depan bisa lebih terang.

Negeri di atas awan ini mengajarkan kita tentang arti perjuangan. Di lereng yang hijau, di antara gemerisik kabut dan dingin yang menusuk, semangat belajar di Krayan tetap menyala seperti lilin di kegelapan. Pendidikan di perbatasan bukan sekadar soal buku dan gedung, melainkan tentang harapan dan ketangguhan anak-anak yang bermimpi setinggi langit. Mereka adalah bukti bahwa di ujung negeri, cinta tanah air dan tekad untuk maju tidak pernah pudar. Sebagai bangsa, kita wajib menatap dan merangkul mereka—karena di pundak merekalah masa depan Indonesia di perbatasan dipertaruhkan.

pendidikan sekolah terpencil negeri di atas awan buku pinjaman
Tokoh: Pak Ridwan, Dedi
Lokasi: Krayan, Kalimantan Utara, Nunukan

Artikel terkait