Menjelang pukul delapan malam, langit Desa Aruk, Kecamatan Galing, Sambas, sudah diselimuti kegelapan. Namun, di sebuah sekolah dasar sederhana, titik-titik cahaya temaram mulai muncul dari tiap kelas. Bukan dari lampu listrik PLN, melainkan dari lampu LED yang dipasang di sudut-sudut ruangan—bertenaga surya, menyala pelan. Dari kejauhan, tampak anak-anak berjalan kaki, ada yang membawa obor, ada pula yang hanya mengandalkan cahaya bulan. Mereka datang dari rumah yang jaraknya hingga lima kilometer, melewati pematang sawah dan kebun karet, untuk belajar bersama di malam hari. Di pintu kelas, seorang serda TNI menyambut mereka dengan senyum, sementara seorang letnan menyiapkan papan tulis. Suasana hening, hanya terdengar suara sandal jepit dan napas terengah—setiap anak membawa buku dan semangat yang tak pernah padam.
Penerangan di Ujung Negeri: Lampu Surya untuk Belajar Malam
Di daerah perbatasan seperti Aruk, akses listrik masih menjadi barang mewah. Jaringan PLN belum menjangkau desa-desa terpencil ini. Sebagian besar warga hanya mengandalkan genset atau lampu minyak. Namun, sejak hadirnya program Sekolah Rakyat Perbatasan, ruang kelas mulai terang berkat lampu surya sederhana. Inisiatif ini digagas oleh TNI bersama komunitas lokal dan penggerak pendidikan setempat. Para serda dan letnan secara sukarela menjadi pengajar, mengajari baca tulis dan berhitung kepada anak-anak yang orang tuanya bekerja sebagai petani karet. Mereka memanfaatkan malam hari, setelah seharian orang tua bekerja di ladang, sebagai waktu belajar yang efektif.
- Lokasi: Sekolah Dasar di Desa Aruk, Kecamatan Galing, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat—berjarak sekitar 5 km dari garis perbatasan Malaysia.
- Penerangan: 10 panel surya dengan lampu LED 20 watt, mampu menyala hingga 6 jam setiap malam.
- Sarana: Ruang kelas sederhana, papan tulis bekas, meja kayu lapuk, dan buku sumbangan.
- Pengajar: 3 anggota TNI dan 2 guru relawan dari komunitas lokal.
- Jumlah Murid: 25 anak, usia 7–13 tahun, yang menempuh perjalanan 2–5 km setiap malam.
Guru penggerak setempat, Pak Yanto, mengatakan bahwa semangat anak-anak mengalahkan keterbatasan jaringan listrik. "Mereka butuh cahaya, bukan hanya di rumah tapi juga di hati. Lampu surya ini bukan sekedar penerangan, tapi simbol bahwa ada masa depan di sini." Ia menambahkan, banyak orang tua yang ikut mendampingi anak-anak belajar, meski mereka sendiri buta huruf. Di sela-sela kegelapan malam, suara anak-anak mengeja aksara terdengar jelas—sebuah irama perjuangan dari ujung negeri.
Semangat Anak-anak Perbatasan: Belajar di Bawah Cahaya Negeri
Anak-anak di Aruk tak pernah mengeluh. Bagi mereka, belajar di malam hari dengan cahaya lampu surya adalah anugerah. "Kami dulu belajar pakai lampu minyak kadang mati, sekarang terang terus sampai jam sembilan," ujar Siti, siswi kelas 4, sambil tersenyum memperlihatkan gigi yang ompong. Orang tuanya, seorang petani karet, mengaku bersyukur ada program ini. Sejak dulu, pendidikan di perbatasan sering terlupakan. Sekolah-sekolah jauh, minim guru, dan tanpa penerangan. Namun, dengan hadirnya lampu surya dan para relawan TNI, harapan baru tumbuh. Setiap malam, ruang kelas itu berubah menjadi pusat perjuangan melawan keterbatasan.
Di ujung negeri yang sering dilupakan, penerangan itu adalah simbol bahwa negara hadir — walau dalam bentuk satu lampu surya. Anak-anak Aruk, yang setiap hari menyeberangi batas antara gelap dan terang, kini punya alasan untuk bermimpi lebih besar. Mereka bukan hanya belajar di bawah cahaya lampu, tetapi juga di bawah semangat kebangsaan yang tak pernah padam. Di sini, di perbatasan Kalimantan Barat, pendidikan menjadi senjata paling ampuh melawan keterisolasian. Dan setiap malam, sekolah perbatasan di Aruk membuktikan bahwa dengan sedikit cahaya dan banyak tekad, segalanya mungkin. Sudah saatnya kita mendengar suara mereka—anak-anak di garis depan yang berjuang untuk masa depan Indonesia.