Dari pesisir timur Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, sebuah bangunan berlantai kayu lapuk dengan atap seng berkarat tegak menghadap selat yang memisahkan dua negeri. Angin laut menerobos masuk melalui jendela yang hanya berupa lubang tanpa kaca, membawa aroma asin serta pemandangan tak biasa: dari dalam ruang kelas 5, garis pantai dan gedung-gedung kota Tawau di Sabah, Malaysia, tampak jelas di balik hamparan biru. Di dalam ruangan berukuran enam kali delapan meter itu, papan tulis retak dan kapur yang hampir habis menjadi saksi puluhan mata yang tak kehilangan cahaya keingintahuan. Suara guru Sukardi yang berusia 40 tahun berpadu dengan desau ombak, menyampaikan pecahan matematika sementara pandangan anak-anak terkadang tersita oleh siluet sekolah megah di seberang.
Matematika dengan Biji, Semangat Berlimpah di Tapal Batas
Hari itu, Sukardi menggunakan biji jagung kering dan kelereng bekas sebagai alat peraga untuk menjelaskan konsep pembagian. "Buku paket untuk satu semester sering baru datang saat semester hampir berakhir," ucapnya dengan suara tenang namun terasa berat. "Kami harus kreatif. Apa yang ada di sekitar, itu yang jadi media belajar." Di bangku depan, Sari—siswi berambut dikepang dua—memperhatikan tiap gerakan tangan gurunya, sesekali tangannya mencorat-coret di buku tulis yang halamannya sudah penuh tulisan minggu sebelumnya. Namun, sorot matanya tajam, menangkap setiap penjelasan. Perbandingan yang tak terucap menggantung di ruang kelas ini: di luar jendela, gedung sekolah bertingkat di Tawau tampak kokoh dengan cat cerah, sedangkan di sini, dinding kayu mengelupas dan lantai berderit setiap ada langkah.
- Fasilitas minimalis: papan tulis retak, kapur terbatas, jendela tanpa kaca, ventilasi alami dari celah-celah kayu.
- Sumber daya darurat: alat peraga dari biji-bijian dan barang bekas, buku pelajaran yang distribusinya tak menentu.
- Pemandangan kontras: aktivitas belajar berlangsung dengan latar pemandangan langsung kota Tawau yang terlihat lebih maju secara infrastruktur.
Guru Sukardi tak menampik bahwa perbedaan itu sering kali menjadi bahan tanya murid-muridnya. "Mereka bertanya, 'Pak, kenapa sekolah di sana bagus?'. Saya jawab, 'Di sini lah tanah kita. Belajar yang rajin, nanti kalian yang akan membuat sekolah di sini menjadi lebih baik.'" Jawaban itu, seperti mantra yang diulang-ulang, menjadi pondasi mental anak-anak di tapal batas.
Mainan Usang dan Lirikan ke Seberang: Potret Masa Kecil di Garis Depan
Bel berbunyi nyaring dari kaleng bekas yang dipukul. Saat istirahat tiba, halaman berumput dengan tanah yang becek di beberapa titik mendadak ramai oleh tawa riang. Bola plastik usang yang sudah pecah di beberapa bagian menjadi rebutan. Ada seorang anak laki-laki bernama Rian—sebut saja begitu—yang dengan polos bercerita. "Kadang lihat anak-anak di sana, dari sini, main bola yang bagus, seragamnya putih bersih," ujarnya sambil tangannya menunjuk samar ke arah Tawau. "Tapi Ibu selalu bilang, jangan iri. Yang penting sekolah dan berdoa." Permainan berlangsung dengan penuh energi, seolah tanah lapang dan bola yang nyaris tak berbentuk itu adalah stadion megah. Dari balik dinding kelas, guru Sukardi memperhatikan dengan senyum getir namun penuh harap. Ia tahu, dalam hati kecil anak-anak itu, ada pertanyaan tentang kesetaraan yang mungkin belum terjawab.
Pulau Sebatik memang terbelah menjadi dua: bagian utara milik Malaysia, bagian selatan milik Indonesia. Garis perbatasan itu bukan hanya coretan di peta, melainkan realitas harian yang membentuk persepsi dan cita-cita. Di halaman sekolah yang sama, bocah-bocah itu tidak hanya bermain; mereka sedang belajar tentang geografi kehidupan—bahwa di satu pulau, nasib pendidikan bisa berbeda di bawah bendera yang tak sama. Fasilitas yang terbatas tak membuat permainan mereka kehilangan warna, seperti halnya keterbatasan buku tak memadamkan semangat untuk memahami dunia angka.
Namun, dari balik keterbatasan itu, ada benih nasionalisme yang ditanam dengan sederhana: kesadaran bahwa meski fasilitas di seberang tampak lebih mentereng, tanah tempat mereka berpijak adalah Indonesia. Lantunan lagu kebangsaan setiap upacara Senin bergema dari pengeras suara sederhana, mengalahkan jauhnya jarak dengan pusat pemerintahan. Merekalah penjaga simbolis garis kedaulatan—generasi yang belajar matematika dengan pandangan langsung ke negara tetangga, sambil memegang teguh identitas sebagai anak bangsa. Sekolah tapal batas ini bukan sekadar bangunan, melainkan benteng terdepan tempat karakter dan kecintaan pada Tanah Air ditempa dalam kesederhanaan yang penuh makna.