Senja mulai merambat di perairan Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Di ufuk barat, langit berubah jingga keemasan, memantulkan cahaya lembut di permukaan Laut Timor. Puluhan perahu kayu tanpa lampu berlayar perlahan, meninggalkan jejak riak air yang tenang namun sarat perjuangan. Para nelayan tradisional ini tengah berebut ikan di batas laut yang menjadi saksi bisu kehidupan di perbatasan RI-Timor Leste. Ombak setinggi lutut orang dewasa sesekali menghantam lambung perahu, sementara angin laut membawa aroma asin dan garam. Di kejauhan, siluet perahu-perahu itu tampak seperti titik-titik hitam di hamparan oranye, sebuah pemandangan yang akrab bagi warga perbatasan yang setiap hari menggantungkan hidup pada laut. Namun, di balik keindahan senja, tersimpan kisah perjuangan, keteguhan, dan kegelisahan akan masa depan tangkapan ikan yang semakin sulit.
Potret Perjuangan di Ujung Senja
Di atas perahu kayu yang usang, seorang nelayan paruh baya bernama Markus Bria (45) sibuk menebar jala. Bajunya robek di beberapa bagian, terbakar sinar matahari dan kering oleh garam laut. "Kami berangkat subuh, pulang saat senja. Kadang hanya dapat beberapa ekor ikan, kadang kosong," katanya sambil menarik jala yang basah. Laut Timor di perbatasan ini memang tidak segan menyapa nelayan dengan ombak dan arus deras, apalagi saat musim barat tiba. Patroli kapal perbatasan RI sesekali melintas, mengingatkan bahwa daerah ini adalah garis depan kedaulatan. Namun, di sisi lain, lampu-lampu kapal asing kerap terlihat di malam hari, mencurigakan. Para nelayan tradisional yang hanya mengandalkan perahu dayung dan jala sederhana harus bersaing dengan kapal modern yang kerap melanggar batas. Berikut kondisi nyata yang ditemui di lapangan:
- Perahu terbuat dari kayu lokal, tanpa mesin atau penerangan — hanya mengandalkan rembulan dan bintang.
- Alat tangkap tradisional seperti jala dan pancing, sering rusak diterjang ombak.
- Hasil tangkapan menurun drastis dalam lima tahun terakhir akibat penangkapan ilegal dan perubahan musim.
- Patroli perbatasan hanya sesekali hadir, sementara kapal asing sering terlihat di batas tak bertuan.
- Nelayan tidak memiliki alat navigasi modern, sehingga rawan tersesat atau terdampar.
Suara dari Garis Depan: "Laut Ini Milik Kita"
Di tengah riak ombak, seorang nelayan tua berusia 60 tahun, Petrus Kono, duduk tenang di buritan perahunya. Matanya menatap cakrawala yang mulai gelap. "Ikan makin sulit, tapi laut ini milik kita. Dari nenek moyang sampai anak cucu, ini harga mati," ujarnya dengan suara serak namun penuh keyakinan. Di perbatasan RI-Timor Leste, semangat nasionalisme tidak hanya diucapkan, tetapi dijalani setiap hari. Mereka yang melaut bukan hanya untuk mencari nafkah, tetapi juga untuk menjaga kedaulatan laut yang diwariskan. Namun, tantangan besar mengintai: minimnya infrastruktur pelabuhan, tiadanya cold storage, serta akses pasar yang terbatas membuat nelayan tradisional seperti Petrus dan Markus harus menjual ikan dengan harga murah ke tengkulak.
Di balik deru ombak dan debur air laut, setiap tetes keringat para nelayan perbatasan adalah bukti nyata cinta pada tanah air. Mereka adalah penjaga garis depan yang tak lelah, meski pemerintah masih jauh dari kehadiran nyata. Lewat perahu usang dan jala robek, mereka mempertahankan apa yang diwariskan: laut Timor adalah milik Indonesia. Sudah saatnya kita semua, dari pusat hingga ke ujung negeri, mendengar suara mereka—bukan sekadar sebagai pemandangan senja yang indah, melainkan sebagai panggilan kepedulian untuk memperkuat kedaulatan dan kesejahteraan di perbatasan.