POTRET GARIS DEPAN

Senja di Sei Kunyit: Nelayan Kalbar Bagi Ikan Hasil Melaut dengan Warga Perbatasan Malaysia

Senja di Sei Kunyit: Nelayan Kalbar Bagi Ikan Hasil Melaut dengan Warga Perbatasan Malaysia

Di Sei Kunyit, Kalimantan Barat, tradisi berbagi hasil laut antara nelayan Indonesia dan warga Malaysia sudah berlangsung puluhan tahun sebagai bukti persaudaraan lintas batas. Ritual sederhana ini menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan tetap kuat meski di bawah tekanan administrasi negara. Sebuah pelajaran nyata bahwa merawat kebangsaan bisa dimulai dari hal-hal kecil di garis depan.

Senja merambat perlahan di atas perairan Sei Kunyit, sebuah desa nelayan di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, yang berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia. Cahaya jingga memantul di permukaan air yang mulai tenang, sementara belasan perahu kayu bersandar di dermaga sederhana. Di kejauhan, garis batas negara hanya ditandai oleh pergerakan ombak dan beberapa tiang patok tua yang semakin tenggelam oleh pasang.

Suara percikan air dan tawa anak-anak pecah ketika para nelayan mulai membongkar muatan mereka. Di antara mereka, Pak Udin (55), seorang nelayan berwajah keriput khas orang-orang yang telah puluhan tahun melawan ganasnya laut, melemparkan seekor ikan kakap merah besar ke arah perahu di seberang. Seorang pemuda Malaysia yang mengenakan topi lusuh menjulurkan tangannya, menangkap ikan itu dengan cekatan lalu mengangkatnya tinggi-tinggi sebagai tanda terima kasih.

"Kami sudah seperti saudara, beda negara tapi satu rumpun. Kalau hasil banyak, kami bagi saja," kata Pak Udin sambil tersenyum lebar, memperlihatkan gigi yang menguning karena kebiasaan menyirih. Ritual bagi-bagi ikan ini ternyata sudah dilakukan puluhan tahun, jauh sebelum pos perbatasan berdiri di muara sungai.

Lebih Kuat dari Sekadar Garis Imajiner

Di sepanjang pantai Sei Kunyit, aktivitas lintas batas bukan hal yang asing. Para nelayan dari kedua negara saling bertukar kabar, berbagi kabar cuaca, bahkan kadang menumpang melepas lelah di rumah panggung warga tanpa memandang kewarganegaraan. Menurut seorang tokoh adat setempat yang enggan disebutkan namanya, rasa persaudaraan itu sudah mengakar sejak zaman nenek moyang.

  • Tradisi berbagi hasil laut dilakukan setiap kali tangkapan melimpah, biasanya dua hingga tiga kali seminggu saat musim ikan tiba.
  • Warga di sisi Indonesia kerap menerima sembako dari tetangga Malaysia saat musim paceklik, dan sebaliknya.
  • Anak-anak dari kedua negara rutin bermain voli bersama di hamparan pasir yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari garis batas.

"Tidak perlu surat izin khusus untuk berbagi rezeki," tegas tokoh adat tersebut, matanya menerawang ke arah kapal patroli yang sesekali melintas. Namun di balik kehangatan itu, ada keprihatinan tersembunyi. Jarum jam di pos perbatasan kadang terasa tidak berpihak pada mereka yang hanya ingin melempar ikan atau memberi segelas kopi panas.

Potret Kecil di Tengah Hiruk Pikuk Administrasi

Menjelang gelap, suasana di pantai semakin hidup. Para ibu mulai menyalakan api di tungku darurat untuk memasak ikan tangkapan sore itu. Bau asap kayu bercampur aroma laut tercium khas. Beberapa anak berlarian di antara jaring yang dijemur sambil menirukan suara burung camar. Di tengah keterbatasan infrastruktur — dermaga yang hanya terbuat dari papan kayu seadanya, dan jalan setapak yang becek saat hujan — semangat kebersamaan justru tumbuh subur.

Para nelayan Sei Kunyit tidak pernah memandang seberang sebagai musuh. Mereka melihat tetangga di seberang adalah saudara yang kebetulan lahir di sisi berbeda dari garis imajiner. Setiap sore, ketika matahari mulai tenggelam, mereka akan berkumpul di bibir pantai, menikmati kopi pahit dan bercerita tentang laut, sambil sesekali melirik ke arah lampu-lampu desa di seberang yang semakin terang.

Merawat Api Persaudaraan di Ujung Negeri

Ketika malam benar-benar tiba dan langit diselimuti bintang, perlahan perahu-perahu itu saling merapat. Dari kejauhan, terdengar suara takbir saling bersahut antara masjid di kedua sisi. Tak ada batas yang terlihat, hanya air laut yang sama, yang memisahkan dan sekaligus menyatukan. Kegiatan berbagi ikan hanyalah sebagian kecil dari ketulusan yang mengalir di antara mereka. Namun dari ritual sederhana inilah kita bisa belajar bahwa di garis depan, untuk bisa saling menjaga, manusia tidak perlu menunggu perintah.

Mereka mengajarkan bahwa merawat NKRI tidak selalu harus dengan angkat senjata. Kadang, merawat negeri cukup dengan tak segan melempar ikan teri ke perahu tetangga, atau tersenyum ramah kepada siapa pun yang berpapasan di rawa-rawa. Untuk mereka yang hidup di ujung negeri sana, rasa kebangsaan adalah hal yang sederhana: mengenal dan disapa hangat oleh saudara di seberang. Semangat itulah yang harus terus dipelihara, agar garis-garis batas di peta tak pernah bisa memutuskan rasa persaudaraan yang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa.

bagi-bagi ikan nelayan di perbatasan Indonesia-Malaysia
Tokoh: Pak Udin
Lokasi: Sei Kunyit, Kalimantan Barat, Sarawak, Malaysia, Indonesia

Artikel terkait