Lembaran debu putih mengepul dari tanah yang retak-retak saat langkah boots prajurit Satgas Yonif 742/SWY menyentuh permukaan Kampung Ninggea, Distrik Mugi, Kabupaten Nduga. Di bawah terik matahari yang membakar ubun-ubun, honai-honai beratap ilalang kering berdiri angkuh namun mulai rapuh. Letda Inf I Komang Oka Antara memimpin rombongan kecil dengan senyum yang menjadi senjata pertama—menyapa ibu-ibu yang menggendong anak, menepuk pundak para tetua yang duduk di batu pecah. Udara pekat bau tanah kering dan asap api unggun, suara anak-anak terdengar sayup dari balik bukit. Di garis depan, tak ada yang lebih berharga dari kehadiran yang mendengarkan.
Dialog di Halaman Honai: Derita Kekeringan Nduga Digaungkan
Duduk lesehan di atas tanah merah, dialog pun mengalir tanpa formalitas. Pak Roni, petani ubi dan singkong yang sudah puluhan tahun menggarap lahan di lembah Pegunungan Tengah, membuka suara dengan nada lirih. Lahan kebunnya yang dulu hijau kini berubah padang gersang; tanaman ubi mati sebelum berbuah, daun singkong menguning dan luruh diterpa sengatan matahari yang tak kenal ampun selama berbulan-bulan. “Kami bukan hanya haus, tetapi juga lapar,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
- Tanaman ubi dan singkong gagal panen total sejak tiga bulan lalu
- Sumur alami di dasar lembah mulai mengering, warga berjalan hingga dua kilometer untuk mengambil air
- Bantuan logistik dari pemerintah belum menyentuh kampung-kampung terpencil seperti Ninggea
- Anak-anak mulai menunjukkan gejala kekurangan gizi, beberapa mengalami diare akibat air tercemar
Di sisi lain honai, sekelompok ibu-ibu bergumam setuju. Mereka berharap ada perhatian lebih dari pemerintah dan TNI untuk mengatasi krisis ini. Satu-satunya harapan saat ini adalah hujan yang belum juga turun, dan kehadiran Satgas Pamtas yang membawa bingkisan sembako dan peralatan dapur sederhana. “Kami butuh pipa air, butuh pompa, bukan hanya beras setiap bulan,” sela Pak Roni, suaranya bergetar oleh kepedihan.
Pelayanan Kesehatan: Sentuhan Kasih di Garis Depan
Tak hanya dialog, prajurit Pratu Sultan Ade membuka kotak P3K sederhana di atas kain terpal abu-abu. Di bawah naungan pohon randu yang rindang, tangannya yang terampil memeriksa tekanan darah seorang bapak tua yang mengeluh pusing sejak seminggu. Di sudut lain, sesosok anak perempuan bernama Tefria Telenggen duduk dengan meringis—bisul bernanah di kakinya membuatnya sulit berjalan. Dengan sabar, Pratu Ade membalut luka itu sambil menggumamkan lagu anak-anak. Sorot mata ibunya, Yanis Talenggeng, berbinar penuh haru. Ia berbisik, “Tidak pernah ada dokter di kampung kami, baru kali ini anak saya dirawat oleh tentara.”
Dari aktivitas ini, nyata bahwa pelayanan kesehatan di perbatasan bukan sekadar rutinitas, melainkan panggilan kemanusiaan. Para prajurit juga membagikan vitamin untuk anak-anak, obat diare, dan salep anti-inflamasi. Setiap senyum yang terukir di wajah warga menjadi bahan bakar semangat mereka untuk terus hadir.
Di garis depan pertahanan negara, tugas menjaga kedaulatan tak melulu tentang senapan dan patroli. Lebih dari itu, adalah tentang mendengarkan keluhan, membalut luka, dan berbagi harapan di tengah kekeringan yang menyengat. Kaki-kaki prajurit Satgas Yonif 742/SWY di Nduga membuktikan bahwa menjaga Indonesia tak hanya dilakukan di pos jaga, tetapi juga di hati rakyat. Semoga derap langkah mereka menggerakkan kepedulian kita semua terhadap warga di ujung negeri yang masih menanti keadilan air dan akses kesehatan.