SUARA PERBATASAN

Sinyal Internet di Nunukan Hilang, Warga Perbatasan Kembali Mengandalkan Telepon Satelit

Sinyal Internet di Nunukan Hilang, Warga Perbatasan Kembali Mengandalkan Telepon Satelit

Sinyal internet di Nunukan, Kalimantan Utara, hilang akibat gangguan aliran listrik yang memadamkan menara pemancar sejak Jumat malam. Warga di Desa Binusan terpaksa menyeberang ke Malaysia untuk menelepon keluarga, sementara Satgas Pamtas meminjamkan radio SSB sebagai jalur komunikasi darurat. Kejadian ini kembali membuka mata akan kesenjangan infrastruktur yang masih dirasakan warga di perbatasan Indonesia.

Hujan deras masih mengguyur Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, sejak dini hari. Di Desa Binusan, wilayah perbatasan yang hanya berjarak beberapa langkah dari Malaysia, warga berdesakan di bawah tenda darurat sambil menengadahkan ponsel ke langit. Deretan huruf "4G" yang biasa muncul di layar kini tak kunjung hadir. Yang tersisa hanya layar kosong dan rasa cemas yang menggantung di udara lembap. Di kejauhan, garis perbatasan tampak samar tertutup kabut, seolah ikut mengaburkan harapan warga untuk terhubung dengan keluarga di luar sana.

Saat Menara Padam, Warga Menengadah ke Langit

Kepala Desa Binusan mengungkapkan bahwa sejak Jumat malam, menara pemancar di kecamatan tetangga padam total. Padamnya menara ini membuat sebagian besar warga kehilangan akses komunikasi. Sejumlah warga terpaksa menyeberang ke Malaysia hanya untuk menelepon keluarga, meski harus membayar tarif internasional yang jauh lebih mahal. Di tengah guyuran hujan, mereka rela mengantre di titik-titik perbatasan demi menyampaikan kabar ke sanak saudara.

  • Menara pemancar di kecamatan tetangga mati sejak Jumat malam akibat gangguan aliran listrik.
  • Warga Desa Binusan kehilangan akses internet dan telepon seluler selama berhari-hari.
  • Sebagian warga menyeberang ke Malaysia untuk menelepon keluarga dengan tarif internasional.
  • Petugas Dinas Kominfo Kalimantan Utara memperkirakan perbaikan rampung pada awal pekan.

Petugas Dinas Kominfo Kalimantan Utara menyebut kerusakan akses listrik sebagai penyebab utama hilangnya sinyal internet di perbatasan Nunukan. Perbaikan dilakukan secepatnya, namun kondisi medan dan cuaca menjadi tantangan tersendiri. Warga hanya bisa menunggu, berharap menara kembali menyala sebelum kebutuhan komunikasi semakin mendesak. Sementara itu, aktivitas ekonomi dan pendidikan yang bergantung pada internet terpaksa berhenti sejenak.

Radio SSB: Jantung Komunikasi di Garis Depan

Di posko perbatasan, anggota Satgas Pamtas mengambil peran penting. Mereka meminjamkan radio SSB kepada nelayan yang hendak melaut. Alat komunikasi sederhana ini menjadi penyeimbang di tengah padamnya jaringan telekomunikasi. "Kami bisa bertahan tanpa internet, tapi bukan tanpa kabar," ujar salah satu anggota Satgas dengan nada tegas. Radio SSB menjadi jembatan antara warga di perbatasan dan dunia luar.

Pelajaran tentang kesenjangan jaringan di perbatasan kembali tampak nyata di depan mata. Ketika hujan turun dan listrik bermasalah, warga Nunukan kembali pada cara-cara darurat yang mengandalkan perangkat analog. Nelayan tetap melaut, pedagang tetap berjualan, dan anak-anak tetap berangkat ke sekolah — tetapi semua berjalan tanpa kepastian sinyal. Di sinilah semangat gotong royong dan ketangguhan warga garis depan benar-benar diuji.

Peristiwa sinyal hilang di Nunukan bukan sekadar gangguan teknis. Ini potret nyata bahwa keterbatasan infrastruktur masih membayangi kehidupan di ujung negeri. Warga menanti dengan sabar, sementara Satgas dan aparat setempat berusaha menjaga denyut komunikasi tetap hidup. Sudah sepantasnya perhatian negara tertuju pada mereka yang setiap hari menjaga nama Indonesia di perbatasan, memastikan bahwa tak ada lagi warga yang harus menyeberang ke negeri tetangga hanya untuk sekadar berkata, "Aku baik-baik saja."

Sinyal Internet Hilang Gangguan Telekomunikasi Perbatasan
Organisasi: Dinas Kominfo Kalimantan Utara, Satgas Pamtas
Lokasi: Nunukan, Desa Binusan, Malaysia, Kalimantan Utara

Artikel terkait