SUARA PERBATASAN

Sinyal Putus, Warga Perbatasan Nunukan Terpaksa Naik ke Bukit demi Telepon

Sinyal Putus, Warga Perbatasan Nunukan Terpaksa Naik ke Bukit demi Telepon

Di Kecamatan Krayan, Nunukan, warga harus menempuh perjalanan tiga kilometer ke puncak bukit untuk mendapatkan sinyal telekomunikasi. Anton, seorang pemuda setempat, berjuang menghubungi orang tuanya yang bekerja di Sabah di tengah angin kencang dan keterbatasan menara BTS. Kondisi ini menjadi gambaran nyata kebutuhan mendesak pembangunan infrastruktur komunikasi di wilayah perbatasan Indonesia.

Senja mulai merambat di perkampungan Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Langit di ufuk barat berubah jingga, namun tak ada satu pun menara pemancar yang tampak menjulang di antara garis bukit. Di jalan setapak berbatu sepanjang tiga kilometer, Anton (22) melangkah cepat. Ponsel pintar di genggamannya menyala redup — baterainya hampir habis. Setiap layar berkedip, ia memacu langkahnya melewati akar-akar pohon dan bebatuan licin yang menanjak. Di puncak bukit itulah satu-satunya tempat yang selama ini menjadi harapan warga untuk mendapatkan sinyal.

Demi Sinyal, Warga Menapaki Bukit

Perjalanan Anton bukanlah hal yang mudah. Jalan setapak yang dilaluinya berliku dan berbatu, menanjak di antara semak belukar dan pepohonan. Dari atas bukit, hamparan hutan rimba dan perbukitan hijau membentang hingga ke garis perbatasan Indonesia-Malaysia. Angin bertiup kencang, membuat langkahnya semakin berat. Ia harus benar-benar berada di puncak sebelum gelap, sebelum gawainya kehabisan daya. "Ini satu-satunya tempat yang bisa dapat sinyal, kalau cuaca cerah," ujarnya terengah-engah, sembari mengarahkan ponsel ke berbagai arah.

Di puncak bukit, Anton berdiri mencari posisi yang tepat. Layar ponselnya hanya menunjukkan satu garis sinyal yang samar-samar. Ia mencoba mengangkat gawainya ke atas kepala, lalu mengarahkannya ke beberapa sudut, berharap sambungan tidak terputus. Tangan kirinya sibuk menekan nomor orang tuanya yang bekerja di Sabah, Malaysia, untuk menyampaikan kabar bahwa panen padi ladangnya berhasil. Panggilan tersambung, tetapi suara di ujung sana datang dan pergi, dipotong oleh tiupan angin yang sesekali menderu.

Ketika Komunikasi Menjadi Kemewahan di Garis Depan

Tidak seperti warga perkotaan yang dapat menghubungi keluarga kapan saja, warga Krayan harus berjuang untuk sekadar terhubung. Anton mengaku selalu khawatir jika panggilan terputus di tengah pembicaraan. Angin kencang di puncak bukit membuat suara orang tuanya terdengar putus-putus. Setiap kalimat terpotong oleh desau angin yang menderu. Setidaknya, panggilan kali ini cukup lama baginya untuk menyampaikan kabar baik tentang hasil panen di ladang.

Kondisi infrastruktur telekomunikasi di wilayah ini memang menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Di Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, warga masih bergantung pada titik-titik liputan sinyal di dataran tinggi. Beberapa fakta lapangan yang dapat dirangkum sebagai berikut:

  • Belum ada menara Base Transceiver Station (BTS) yang menjangkau permukiman warga di Krayan.
  • Medan berbukit dan lebatnya hutan tropis membuat pembangunan menara membutuhkan biaya dan waktu yang besar.
  • Akses komunikasi warga sangat terbatas dan bergantung pada kondisi cuaca.
  • Seperti yang dilakukan Anton, warga harus menempuh perjalanan hingga tiga kilometer untuk mendapatkan sinyal.

Di bawah bukit, anak-anak masih bermain voli di lapangan tanah lapang yang mulai gelap. Tidak ada lampu penerangan kecuali dari gawai yang beberapa jam lagi akan mati. Mereka tetap bermain meski cahaya semakin pudar, sementara beberapa orang tua duduk di beranda rumah sambil menunggu panggilan dari sanak saudara yang merantau. Keterbatasan ini bukan hal baru bagi mereka, tetapi setiap tahun harapan itu tetap dipelihara.

Warga Krayan sudah bertahun-tahun menyuarakan harapan akan dibangunnya menara BTS. Namun, janji itu masih sebatas wacana. Medan yang sulit, jarak yang jauh, dan minimnya infrastruktur pendukung menjadi alasan yang terus berulang. Sementara itu, kebutuhan komunikasi semakin mendesak — untuk kabar keluarga, hasil pertanian, hingga akses informasi dari daerah lain. Ketika negara hadir di perbatasan melalui konektivitas, maka kehadiran itu akan terasa langsung di tengah masyarakat.

Di ujung negeri, Anton dan warga Krayan masih menanti kehadiran negara dalam bentuk yang paling sederhana: gelombang sinyal yang menyatukan mereka dengan dunia. Selama menara BTS belum berdiri, bukit-bukit itu akan terus menjadi saksi bisu perjuangan warga perbatasan untuk terhubung. Pembangunan telekomunikasi di Nunukan bukanlah proyek mewah, melainkan hak dasar bagi setiap anak bangsa yang menjaga teritori Indonesia. Semoga suara dari garis depan ini tidak pernah tenggelam oleh kesibukan kita di pusat.

sinyal telepon kesulitan komunikasi perbatasan
Tokoh: Anton
Lokasi: Kecamatan Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara, Malaysia, Sabah

Artikel terkait