Di bawah terik matahari tengah hari, ladang jagung di Desa Motaain, Atambua, Nusa Tenggara Timur, tampak menguning siap panen. Namun senyum petani tidak secerah dulu. Angin panas berhembus membawa debu dari perbatasan Timor Leste yang hanya beberapa kilometer di depan, meninggalkan rasa getir di hati para petani. Pak Benediktus, petani berusia 55 tahun, berdiri di tengah ladangnya sambil memegang tongkol jagung kering. “Ini hasil jerih payah setengah tahun, tapi harganya tidak sebanding dengan ongkos tanam,” ujarnya lirih. Wajahnya yang keriput diterpa sinar matahari mencerminkan kelelahan dan kekecewaan yang mendalam.
Atambua: Petani Jagung Terjepit Regulasi Perbatasan
Jagung yang semestinya menjadi komoditas unggulan di perbatasan NTT justru menjadi sumber duka. Akses ke pasar utama di Timor Leste terhambat oleh sejumlah regulasi perbatasan yang berbelit-belit. Petani terpaksa menjual hasil panennya dengan harga murah ke tengkulak lokal. Berikut adalah beberapa kondisi riil yang dihadapi petani di Atambua:
- Harga jagung di tingkat lokal anjlok hingga 50 persen dari harga normal karena terbatasnya pembeli.
- Petani seperti Pak Benediktus harus menebang sendiri jagungnya, lalu menjual dengan harga yang ditentukan tengkulak tanpa negosiasi yang adil.
- Regulasi karantina dan bea cukai di pos lintas batas Motaain mempersulit pengiriman jagung secara langsung ke Timor Leste.
- Infrastruktur jalan menuju perbatasan masih rusak parah, memperlambat distribusi dan menambah biaya transportasi.
“Kami mandiri, tapi sulit. Pemerintah bilang akan bantu, tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda,” keluh Pak Benediktus sambil mengelap keringat di dahinya.
Janji Pembangunan yang Menggantung di Udara
Pemerintah daerah setempat berjanji akan membangun gudang penyimpanan jagung di dekat kawasan perbatasan dan mendorong kerjasama dagang lintas batas dengan Timor Leste. Namun, hingga musim panen kali ini, belum ada realisasi konkret. Petani masih harus menunggu dengan harapan yang mulai pudar. “Kami hanya ingin akses pasar yang mudah. Kami tidak minta bantuan gratis, tapi kesempatan untuk menjual hasil bumi dengan harga layak,” ujar Pak Benediktus tegas. Suasana di Desa Motaain pagi itu terasa berat; semilir angin dari Teluk Kupang tak mampu menghapus kerisauan para petani jagung di garis depan NKRI.
Perbatasan seharusnya bukan menjadi penghalang kemakmuran, melainkan pintu gerbang kesejahteraan. Warga perbatasan seperti Pak Benediktus adalah garda terdepan yang setiap hari berjuang menghidupkan tanah air di ujung negeri. Di ladang-ladang kuning di Atambua, semangat nasionalisme terpupuk dari keringat dan doa. Sudah saatnya suara mereka didengar, dan akses pasar yang layak menjadi kenyataan, bukan sekadar janji di udara. Mereka adalah bukti bahwa Indonesia berdiri tegak dari pelosok paling timur — dan nasib mereka adalah cerminan perhatian negara.