SUARA PERBATASAN

Suara dari Atap Negeri: Anak-anak di Kampung Bumi, Papua, Bersekolah di Bawah Genset

Suara dari Atap Negeri: Anak-anak di Kampung Bumi, Papua, Bersekolah di Bawah Genset

Di Kampung Bumi, Papua, anak-anak perbatasan belajar di bawah cahaya genset yang menyala hanya tiga jam sehari karena keterbatasan listrik. Meski fasilitas sekolah minim dan jauh dari akses kota, semangat mereka untuk meraih pendidikan tetap tinggi. Potret ini mengingatkan kita bahwa pendidikan di garis depan NKRI membutuhkan perhatian nyata dari seluruh bangsa.

Di lereng terjal Pegunungan Jayawijaya, Kampung Bumi terselip bagai titik di peta yang nyaris tak tersentuh. Udara dingin menusuk tulang saat senja merayap di antara celah-celah bukit. Di tengah hamparan ilalang dan kabut tipis, SD YPPK Bumi berdiri dengan tiga ruang kelas beratap seng yang mulai berkarat. Lantai papan yang tidak rata berderit setiap kali langkah kecil menginjaknya. Di salah satu ruang, sembilan anak duduk bersila di atas lantai itu, memegang buku tulis usang yang sampulnya sudah robek. Mereka menunduk serius, sementara di luar, suara menderu genset kecil memecah keheningan — satu-satunya sumber penerangan yang menemani mereka belajar di kala senja menjadi malam. “Kami hanya bisa pakai genset tiga jam sehari untuk belajar malam,” kata Yosias, satu-satunya guru di sekolah itu yang setia mengajar sejak pagi hingga petang. Cahaya lampu pijar yang redup bocor melalui celah dinding kayu, menerangi wajah-wajah penuh konsentrasi. Sesekali gelak tawa terdengar saat seorang anak berhasil menjawab soal. Di sini, di ketinggian yang hampir menyentuh awan, pendidikan bertahan dengan segala keterbatasan.

Malam Belajar di Bawah Deru Genset

Genset kecil lirih itu menjadi denyut nadi kegiatan belajar malam di Papua perbatasan. Hanya tiga jam — dari pukul enam hingga sembilan malam — sebelum mesin itu harus dimatikan untuk menghemat bahan bakar yang didatangkan dari kota dengan perjalanan berhari-hari. Yosias menyalakan genset saat hari mulai gelap. Suara derumnya menjadi pengiring setiap coretan pensil di lembar buku. Anak-anak duduk melingkar, berbagi cahaya dari satu bola lampu pijar yang menggantung di langit-langit. Di luar, angin pegunungan berdesir, sesekali menerbangkan debu melalui celah-celah dinding.

  • Infrastruktur listrik di Kampung Bumi nyaris tidak ada — tidak ada tiang PLN, tidak ada kabel yang terpasang. Genset kecil adalah satu-satunya sumber listrik yang digunakan bergantian untuk kebutuhan sekolah dan rumah warga.
  • Bahan bakar genset dibeli secara kolektif oleh para orang tua siswa, yang sebagian besar bekerja sebagai petani ladang. Satu liter bensin bisa mencapai harga dua kali lipat karena biaya transportasi dari kota terdekat.
  • Sekolah hanya memiliki tiga ruang kelas, satu di antaranya rusak ringan akibat angin kencang. Tidak ada perpustakaan, tidak ada laboratorium. Meja dan kursi sudah reyot, namun anak-anak tetap semangat datang setiap hari.

“Kami terbiasa. Kalau listrik mati, ya lilin. Tapi lilin mahal, jadi lebih sering gelap,” ujar Rina, siswi kelas IV, dengan senyum getir. Ia bercerita bahwa ia harus berjalan kaki dua jam dari rumahnya di lereng bukit untuk tiba di sekolah. Namun tak sekalipun ia mengeluh. Baginya, sekolah adalah satu-satunya jendela menuju dunia yang lebih luas.

Potret Perjuangan di Tapal Batas NKRI

Kampung Bumi berada di Distrik Bime, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua — salah satu wilayah perbatasan yang paling terisolasi. Untuk mencapai sekolah, seorang guru harus menempuh perjalanan dua hari dari Kota Jayapura. Jalan setapak yang licin dan berbatu menjadi saksi bisu perjuangan mereka. Di sini, pendidikan bukan sekadar rutinitas, melainkan perlawanan terhadap keterbatasan. Setiap pagi, Yosias dan anak-anak memulai aktivitas dengan hati yang teguh, meski fasilitas serba minim.

Keterbatasan listrik di perbatasan menjadi ironi yang menyayat. Di balik potensi sumber daya alam yang melimpah, anak-anak di Kampung Bumi harus berbagi cahaya dari satu bola lampu. Mereka belajar dengan tekun di bawah deru genset, berharap suatu hari nanti negeri ini tak lagi melupakan mereka. Semangat mereka adalah cermin ketangguhan yang jarang terlihat di pusat kota.

Malam semakin larut, genset dimatikan, dan kegelapan kembali menyelimuti Kampung Bumi. Namun bagi anak-anak itu, hari esok adalah harapan baru. Mereka akan kembali berjalan kaki di lereng terjal, menembus kabut, demi meraih mimpi. Di tapal batas NKRI inilah, nasionalisme sejati terukir — bukan melalui pidato, melainkan melalui perjuangan sehari-hari yang sunyi namun membara. Mari kita peduli, karena mereka adalah bagian dari Indonesia yang tak boleh kita lupakan.

Pendidikan di daerah terpencil Papua penggunaan genset untuk belajar
Tokoh: Yosias
Organisasi: YPPK Bumi
Lokasi: Pegunungan Jayawijaya, Kampung Bumi, Papua, Sekolah Dasar YPPK Bumi, NKRI

Artikel terkait