Pagi itu, di dermaga kayu yang lapuk dimakan air laut dan waktu, seorang anak laki-laki berusia 10 tahun bernama Arif duduk dengan kaki menjuntai ke arah Selat Singapura yang membentang biru. Di pangkuannya, secarik kertas bekas bungkus rokok menjadi media untuk menorehkan isi hati. Dengan pensil pendek yang hampir habis, ia menulis surat untuk presiden. Di hadapannya, sesekali kapal asing melintas, meninggalkan riak kecil yang berpadu dengan debur ombak. Kampung Baru Pantai, Pulau Batam, Kepulauan Riau — sebuah titik kecil di peta yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia. Di sini, anak perbatasan terbiasa melihat siluet gedung pencakar langit asing dari kejauhan, namun setiap pagi mereka tetap menyanyikan lagu kebangsaan di sekolah panggung sederhana. Suara anak perbatasan ini adalah cermin dari ironi nasionalisme: di ujung negeri yang berhadapan langsung dengan negara maju, warganya masih berjuang untuk akses dasar.
Potret Garis Depan: Derita Infrastruktur di Ujung Negeri
Dari dermaga itu, mata Arif tertuju pada jalan setapak berlumpur yang menghubungkan rumah-rumah panggung. Setiap kali hujan, genangan air bercampur sampah menggenangi seluruh kampung. "Bapak Presiden, tolong bantu kami punya jalan yang bagus, supaya adik saya tidak jatuh lagi di lumpur," tulis Arif dengan ejaan yang masih terbata-bata. Di sekelilingnya, anak-anak lain bermain bola plastik di tanah lapang yang becek. Rumah-rumah beratap seng berjejer rapat, beberapa di antaranya sudah miring termakan usia. Kondisi infrastruktur di kampung ini benar-benar memprihatinkan:
- Jalan utama masih berupa tanah liat yang licin saat hujan, menyulitkan akses anak-anak ke sekolah.
- Tidak ada penerangan jalan; saat malam, hanya lampu dari rumah panggung yang menerangi dermaga.
- Air bersih sulit didapat — warga harus membeli dari penampung atau menampung air hujan.
- Anak-anak bermain di atas dermaga kayu yang rapuh, tanpa pagar pengaman, berisiko jatuh ke laut.
Seorang guru bernama Ibu Siti, yang setiap hari mengajar di SD Kampung Baru Pantai, menceritakan bahwa surat seperti ini bukan yang pertama. "Beberapa anak lain juga pernah menulis surat untuk presiden, tapi belum ada yang sampai ke Istana. Kami hanya bisa mengirim lewat Kantor Pos, semoga sampai," ujarnya sambil memfotokopi surat Arif untuk dikirimkan. Suara dari garis depan ini nyaring, namun seringkali tenggelam oleh riuh pembangunan di pusat.
Semangat Kebangsaan di Tengah Keterbatasan
Meski hidup dalam keterbatasan, semangat kebangsaan anak-anak Kampung Baru Pantai tetap membara. Setiap Senin pagi, mereka mengenakan seragam merah-putih lusuh namun tetap tegak saat upacara bendera. Dari halaman sekolah yang hanya beralas tanah, suara mengheningkan cipta dan lagu Indonesia Raya berkumandang, bersaing dengan deru mesin kapal asing di lepas pantai. Nasionalisme tidak pernah pudar meski di kampung ini, bendera Indonesia hanya terbuat dari kain bekas dan tiang bambu yang miring. Surat Arif yang ditulis di atas kertas bekas bungkus rokok menjadi simbol perlawanan sekaligus harapan: bahwa anak-anak di Kepulauan Riau ini tidak ingin dilupakan. Mereka ingin pendidikan yang layak, akses kesehatan, dan jalan yang tidak becek. Mereka ingin Presiden tahu bahwa di ujung negeri, ada warga yang tetap setia mengibarkan merah-putih meski hidup dalam keterbatasan.
Ketika matahari mulai meninggi, Arif menekuk suratnya dan memasukkannya ke dalam amplop bekas. Ia menuliskan alamat: "Istana Negara, Jakarta." Di kejauhan, sebuah kapal tanker asing melintas, meninggalkan asap hitam yang mengepul. Arif tersenyum kecil — ia yakin suratnya akan sampai. Ia percaya bahwa suara dari garis depan akan didengar. Lensa-Teritorial mengajak kita semua untuk merenung: apakah kita sudah cukup mendengar tangis dan tawa anak-anak di perbatasan? Ataukah kita biarkan mereka terus menulis di atas kertas bekas, berharap ada yang peduli? Di balik coretan pensil seorang anak, tersimpan rindu dan cinta tanah air yang tak pernah padam.