Di sebuah warung kopi tepi Jalan Trans Kalimantan, Kecamatan Nunukan Selatan, Kalimantan Utara, suara deru mesin truk pengangkut hasil bumi bercampur dengan keluhan warga. Rabu (16/9/2026) sore, beberapa warga duduk lesehan di atas tikar plastik, memandangi jalan berlubang yang baru saja digenangi air hujan. Seorang petani sawit mengangkat tangan, menunjuk ke arah jalan rusak yang membuat truk pengangkut buah sawit sering terjebak lumpur. Mereka berharap pemerintah segera merealisasikan pengaspalan ulang sepanjang 40 kilometer yang mangkrak sejak tahun lalu. Di kejauhan, anak-anak pulang sekolah dengan seragam lusuh, berjalan di pinggir jalan sambil sesekali menghindari kubangan air. Wajah mereka tetap ceria, meski harus melewati medan berat setiap hari. Aspirasi ini menggema di antara deru mesin dan embusan angin perbatasan, menanti realisasi janji pembangunan.
Potret Garis Depan: Jalan Trans Kalimantan yang Mangkrak
Jalan Trans Kalimantan di Nunukan — ruas vital yang menghubungkan pusat kecamatan dengan daerah pedalaman — kini menjadi potret kelam infrastruktur di ujung negeri. Kondisi jalan yang rusak parah sepanjang 40 kilometer membuat akses warga terhambat, terutama saat musim hujan. Lumpur dan genangan air mengubah aspal retak menjadi kubangan berbahaya, memicu kekhawatiran bagi para pengguna jalan. aspirasi warga di Nunukan terus bergema, meminta perhatian serius pemerintah untuk memperbaiki akses ini agar mereka tidak terus-menerus menjadi korban keterbatasan mobilitas. Berikut beberapa kondisi lapangan yang ditemukan oleh tim Lensa-Teritorial:
- Jalan Trans Kalimantan di Nunukan Selatan berlubang hingga kedalaman 20-30 cm di beberapa titik, menyebabkan truk pengangkut hasil bumi sering tergelincir atau terjebak lumpur.
- Genangan air hujan mengakumulasi limbah dan tanah, memperburuk kondisi bagi pengendara motor dan pejalan kaki, terutama anak-anak yang pulang sekolah.
- Proyek pengaspalan ulang yang dijanjikan sejak tahun lalu belum juga direalisasikan, membuat warga kehilangan harapan akan perbaikan cepat.
- Fasilitas penerangan dan rambu-rambu jalan hampir tidak ada, meningkatkan risiko kecelakaan terutama di malam hari.
Suara dari Nunukan: Ekonomi dan Harapan yang Terguncang
Dari balik kaca jendela warung kopi yang temaram, seorang petani sawit bernama Pak Sarman (45) menghela napas panjang. “Kami hanya bisa pasrah,” katanya sambil mengaduk kopi. Setiap musim panen, ia harus membayar dua kali ongkos angkut karena truk harus melewati jalur alternatif yang lebih panjang untuk menghindari lubang. Hasil bumi yang seharusnya cepat sampai ke pelabuhan sering molor, membuat harga jual anjlok. aspirasi warga lainnya datang dari Ibu Rina (37), seorang pedagang di pasar tradisional Nunukan: “Kalau hujan, jalan becek sekali. Pembeli jadi malas ke sini. Sudah kami sampaikan ke dinas, tapi belum ada kerja nyata” keluhnya. Ekonomi di perbatasan sangat bergantung pada kelancaran jalan trans Kalimantan, sehingga kerusakan ini langsung menghantam pendapatan harian warga. Anak-anak pun tak luput dari dampak—mereka harus berjalan di pematang sawah saat hujan deras agar sepatu tidak rusak. Sementara itu, angin perbatasan yang kering membawa debu dan aroma tanah basah, menciptakan atmosfer kesabaran dan kegigihan di ujung negeri.
Di balik semua itu, semangat nasionalisme warga Nunukan tetap membara. Mereka tidak hanya menuntut perbaikan jalan, tetapi juga ingin membuktikan bahwa pembangunan di perbatasan tidak boleh terabaikan. Saat senja menyapu pepohonan kelapa di horizon, sekelompok ibu-ibu mulai menyusuri jalan dengan membawa obor untuk menembus kegelapan. Mereka menatap langit yang memerah, seolah berharap ada sinar yang lebih terang dari janji yang terus tertunda. Lensa-Teritorial menatap pemandangan ini dengan perasaan berat: di setiap lubang di jalan raya, mengalir denyut kehidupan dan mimpi-mimpi untuk masa depan yang lebih baik. Suara dari Nunukan bukan sekadar keluhan—ini adalah doa dari garis depan yang menanti jawaban dari ibu pertiwi.
Mari kita renungkan: ketika kita menikmati kemajuan kota, ada saudara-saudara kita di Nunukan yang harus berjuang melawan lumpur demi segenggam beras atau setumpuk kain seragam. Jalan Trans Kalimantan yang mulus bukan hanya soal infrastruktur, melainkan lambang kepedulian bangsa terhadap mereka yang menjaga keutuhan negara di perbatasan. Saat tawa anak-anak itu terdengar di antara deru truk, kita pun tersadar—dari setiap kesulitan, selalu lahir semangat pantang menyerah. Nunukan adalah cermin dari perjuangan garis depan yang tak kenal kata menyerah. Semoga tahun depan, di warung kopi yang sama, obrolan mereka bukan lagi tentang jalan rusak, melainkan tentang kemajuan yang nyata.