Di tepian Danau Sentani yang tenang, riak air seolah berbisik gelisah. Sebuah ruang pertemuan sederhana di Sentani, Papua, menjadi sakbisnya para tokoh adat dari Lembah Tabi—ondofolo yang wajahnya penuh kharisma namun muram. Atribut adat lengkap mereka kontras dengan kekhawatiran yang mengental di udara. Tak lama, Yakob Fiobetau, Ondofolo Kampung Puay, memecah keheningan dengan suara berat: “Tanah Papua adalah tanah damai, tanah Injil. Darah yang tumpah di Muliama adalah luka bagi kita semua.” Sorot matanya menembus kamera, memancarkan kecaman yang tak terbantahkan. Di luar, gemericik air danau seolah ikut mencemaskan ironi—keindahan alam berbanding terbalik dengan luka batin yang menganga.
Potret Garis Depan: Ondofolo Tabi Mengecam Kekerasan di Jayawijaya
Setiap ondofolo di ruangan itu mengekspresikan kegeraman dan keprihatinan mendalam. Dasim Kleubeuw dari Hedam berbicara dengan tangan mengepal, tegas. Mereka melihat aksi kekerasan di Jayawijaya bukan hanya merenggut tiga nyawa, tetapi juga mengancam fondasi pelayanan pemerintah dan merusak citra keramahan masyarakat Papua. Di garis depan, kondisi lapangan yang mengkhawatirkan muncul ke permukaan. Berikut fakta yang terungkap dalam pertemuan tersebut:
- Pembangunan sekolah di sejumlah distrik terhambat karena akses terbatas dan ketakutan tenaga pengajar.
- Puskesmas di perbatasan kesulitan mendatangkan tenaga medis akibat situasi keamanan yang tidak menentu.
- Program pertanian untuk meningkatkan ekonomi warga adat terhambat—petani enggan ke kebun tanpa rasa aman.
- Para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mengabdi di Jayawijaya dan wilayah terdampak hidup dalam kekhawatiran setiap hari.
Suara dari Lembah Tabi ini jelas: kecaman terhadap kekerasan bukan hanya soal peristiwa tunggal, melainkan ancaman bagi masa depan generasi muda Papua. Pembangunan hanya bisa berjalan jika keamanan dan perdamaian menjadi pondasi utamanya.
Pesan dari Tanah Damai: Selesaikan Konflik dengan Kearifan Lokal
Pertemuan pers itu diakhiri dengan seruan bersama yang menggelegar. Para ondofolo berdiri, menyatukan suara untuk mengajak seluruh anak bangsa di Lapago dan seluruh Papua menolak segala bentuk kekerasan. “Kami mengajak semua pihak, duduk bersama, selesaikan masalah dengan kearifan lokal dan budaya kita,” seru Yanto Eluay dari Kampung Sereh. Suara mereka adalah suara garis depan yang mendambakan normalitas. Anak-anak bisa sekolah tanpa ketakutan, petani bisa ke kebun tanpa waswas, dan para ASN bisa mengabdi dengan nyaman di tanah yang mereka cintai. Di ujung ruangan, seorang pemuda adat menundukkan kepala sambil menggenggam noken—simbol kehidupan yang tenang namun rawan terkoyak.
Danau Sentani tetap tenang di luar, tapi di dalamnya, perdamaian adalah doa yang dipanjatkan dari Lembah Tabi untuk seluruh bumi Papua. Kitalah yang harus menjaga agar luka di Muliama tidak terulang, dan agar setiap sudut negeri ini—dari perbatasan hingga pesisir—dipenuhi oleh keadilan dan persaudaraan. Tokoh adat telah bersuara; kini saatnya kita semua mendengar dan bertindak.