Di Kampung Oeluan, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, mentari membakar bukit karang yang kering dan tandus. Seorang ibu paruh baya, berkerudung kain lusuh, berjalan tertatih-tatih di jalan setapak berbatu. Di pundak kirinya, jerigen biru seberat 20 liter berisi air bersih — satu-satunya harapan untuk keluarganya hari ini. Keringat bercucuran di pelipisnya, namun langkahnya tak kenal lelah. Dari kejauhan, ladang tembakau milik petani setempat tampak layu, dedaunan menggantung lemas dihembus angin laut yang asin. Suasana hening, hanya suara gesekan sandal jepit di bebatuan karang yang pecah. Inilah potret nyata Rote NTT, salah satu ujung selatan Indonesia, di mana aspirasi perbatasan tentang kebutuhan dasar masih menjadi perjuangan setiap hari.
Perjuangan Air di Tanah Karang Rote
Sumur-sumur di sekitar rumah warga telah lama mengering saat musim kemarau tiba. Ibu itu, yang enggan disebut namanya, menceritakan bahwa ia biasa menempuh perjalanan tiga kilometer menuju sumur desa yang masih menyisakan air setengah. "Setiap tetes air sungguh berharga. Kami harus berhemat, mandi pun dibatasi," ujarnya sambil menyeka keringat yang membasahi wajahnya. Di kampung ini, air bersih bukan sekadar kebutuhan — ia adalah simbol ketahanan hidup. Anak-anak seringkali harus membolos sekolah hanya untuk membantu orang tua mereka menjerigen air. Warga bergantian menjaga sumur, mengatur giliran mengambil air agar semua kebagian.
Kondisi geografis Rote NTT yang berbukit karang membuat resapan air minim. Saat kemarau panjang, tanah retak-retak, dan sumber air permukaan benar-benar hilang. Petani tembakau, yang merupakan mayoritas mata pencaharian, harus merelakan ladangnya tidak terairi. Daun tembakau yang semestinya hijau segar berubah menjadi kering dan tak bernilai jual. Seorang petani tua duduk di bawah pohon kering, menghisap rokok daun sambil menatap ladang yang hampa. "Kami sudah pasrah. Tuhan tahu perjuangan kami," katanya pelan. Suara mereka adalah suara aspirasi perbatasan yang kerap tak terdengar oleh pusat kekuasaan.
Janji di Atas Kertas, Realitas di Lapangan
Pemerintah daerah telah berulang kali menjanjikan program pipanisasi air bersih ke Kampung Oeluan. Namun hingga kini, proyek itu masih berupa rencana di atas kertas. Hambatan terbesar adalah tanah keras berbatu karang yang sulit digali untuk pemasangan pipa. Selain itu, jarak antar rumah yang tersebar di lereng bukit membuat biaya distribusi membengkak. Sebagian warga mulai kehilangan optimisme. "Kami hanya ingin pipa dan air mengalir di dapur. Itu saja sudah cukup," ujar seorang ibu muda sambil menggendong bayinya yang rewel.
- Infrastruktur air: Dari 10 sumur kampung, hanya 3 yang masih berfungsi saat kemarau — itupun dengan debit menurun drastis.
- Jarak tempuh: Rata-rata warga berjalan 2-3 kilometer setiap hari hanya untuk mendapatkan air bersih.
- Dampak ekonomi: 70% lahan tembakau gagal panen karena kekeringan — pendapatan warga turun hingga setengahnya.
- Suara warga: "Kami bukan meminta mewah, hanya air yang bisa kami minum dan sirami tanaman," ujar Ketua RT setempat.
Aspirasi perbatasan ini terus diabaikan? Di balik hamparan karang yang keras, di bawah terik matahari Rote, para ibu tetap berjalan, anak-anak terus berharap. Mereka adalah penjaga ujung Indonesia yang rela berjuang untuk hal paling dasar. Namun tanpa akses air bersih yang layak, semuanya hanya tinggal mimpi. Pemerintah pusat perlu turun tangan, bukan hanya janji.
Rote adalah nafas Indonesia dari selatan. Pulau ini bukan hanya destinasi wisata dengan pantai dan ombaknya — tetapi juga tempat hidup manusia yang haus akan keadilan dasar. Setiap jerigen yang diangkat di pundak seorang ibu adalah simbol keteguhan bangsa. Jika mereka bisa bertahan di tengah kekeringan, sudah seharusnya kita semua hadir untuk memastikan bahwa air bersih bukan lagi mimpi, melainkan kenyataan. Karena di garis depan perbatasan, rasa kebangsaan tidak diukur dari bendera yang berkibar, tetapi dari seberapa jauh kita peduli pada saudara sebangsa.