Di pesisir timur Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, mentari pagi menyapu permukaan laut dengan kilau perak yang memantul dari setiap riak ombak. Deretan perahu nelayan bersandar di dermaga kayu yang mulai lapuk dimakan usia dan garam, sementara di atas keranjang bambu, tuna dan cakalang segar bertumpuk—bukti bahwa laut di perbatasan Indonesia-Malaysia ini tak pernah pelit memberi rezeki. Namun, sorot mata para nelayan tak secerah tangkapan mereka. Hari-hari di garis depan ini selalu diwarnai dilema: laut berlimpah, tapi akses pasar masih menjadi tembok yang sulit ditembus. Dari kejauhan, kapal asing melintas di batas negara, menambah kecemasan para penjaga laut yang setiap hari berjuang mempertahankan kedaulatan pangan.
Laut Melimpah, Tembok Pasar Menghadang
Suara nelayan Sebatik menggema di antara hempasan ombak yang memecah di bibir pantai. Herman, ketua kelompok nelayan setempat, menghela napas panjang saat berbicara kepada tim Lensa-Teritorial. “Hasil laut melimpah, tapi harga jatuh karena akses ke pasar Tarakan terhambat,” ujarnya lirih, matanya menerawang ke arah laut yang tak bertepi. Ikan tuna dan cakalang yang seharusnya menjadi primadona ekspor justru kerap dijual dengan harga murah kepada tengkulak. Sebagian bahkan terpaksa dibuang karena membusuk menunggu kapal pengangkut yang tak kunjung tiba. Kondisi ini diperparah oleh berbagai keterbatasan yang mengakar di perbatasan ini:
- Jalan penghubung dari pesisir timur ke kota kecamatan masih rusak dan berlumpur saat hujan, menyulitkan distribusi.
- Belum ada cold storage atau tempat penyimpanan dingin untuk menjaga kesegaran ikan.
- Jadwal kapal angkut ke Tarakan tidak menentu dan muatan terbatas, membuat nelayan bergantung pada tengkulak.
- Harga bahan bakar solar mahal, membuat nelayan berpikir dua kali untuk melaut jauh mencari tangkapan lebih besar.
Padahal, potensi perikanan di perairan Sebatik sangat luar biasa. Tuna sirip kuning, cakalang, dan kembung melimpah ruah di sekitar perairan yang berbatasan langsung dengan Sabah, Malaysia. Namun tanpa dukungan rantai pasok yang memadai, kekayaan laut hanya menjadi saksi bisu perjuangan nelayan yang kelelahan.
Harapan di Ujung Perbatasan
Di tengah keterbatasan, secercah harapan tetap hidup di ujung negeri. Herman dan rekan-rekannya berharap pemerintah hadir dengan solusi nyata. “Kami butuh cold storage dan perbaikan jalan penghubung. Itu saja sudah sangat membantu agar ikan tidak membusuk di darat,” tegasnya, suaranya bergetar namun penuh keyakinan. Para nelayan tidak menuntut kemewahan. Mereka hanya ingin hasil jerih payahnya mendapatkan harga layak, dan anak-anak mereka bisa menikmati pendidikan tanpa harus jauh meninggalkan kampung halaman. Di ujung pantai, seorang anak nelayan asyik bermain perahu kertas di atas pasir basah. Jari-jari kecilnya menghanyutkan perahu buatannya ke arah ombak, seolah menitipkan mimpi-mimpi kecil di tengah luasnya laut.
Lensa kami menangkap senyum pahit di balik keriput wajah-wajah penuh garam. Mereka adalah penjaga perbatasan yang sesungguhnya—berdiri paling depan, mengarungi laut, dan setiap hari membuktikan bahwa Indonesia punya kekayaan yang tak ternilai. Potret nelayan Sebatik adalah potret Indonesia bagian timur yang masih menunggu kehadiran negara. Di setiap hembusan angin laut, ada doa yang terpanjat: semoga suatu hari nanti, hasil laut melimpah ini tidak hanya menjadi cerita, tetapi akses pasar yang terbuka lebar, agar nelayan Sebatik bisa tersenyum tanpa beban di garis depan.