SUARA PERBATASAN

Suara Perbatasan di NTT: Nelayan Rote Ndao Keluhkan Minimnya Penerangan Pelabuhan

Suara Perbatasan di NTT: Nelayan Rote Ndao Keluhkan Minimnya Penerangan Pelabuhan

Pelabuhan Pantai Baru di Rote Ndao, NTT, hanya memiliki dua lampu penerangan yang menyala, membuat aktivitas nelayan dan penjual ikan menjadi berbahaya di malam hari. Minimnya penerangan ini juga menyulitkan nelayan dalam membedakan perahu mereka dengan kapal asing di perbatasan laut Indonesia-Australia. Warga hanya berharap agar pelabuhan mendapat penerangan yang layak demi keselamatan dan kedaulatan wilayah.

Senja perlahan tenggelam di ufuk barat Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Cahaya kemerahan masih membasahi langit, namun di Pelabuhan Pantai Baru, kegelapan mulai merayap masuk. Di dermaga kayu yang lapuk, para nelayan Rote Ndao baru saja merapat setelah seharian berjuang melawan ombak Laut Sawu. Salah seorang dari mereka, Bapak Yosep Abineno (45), duduk di buritan perahunya sambil mengelus jaring yang sobek. Namun pandangannya tidak tertuju pada jaring itu — melainkan pada laut lepas yang mulai ditelan malam. Di balik perairan yang sama, di selatan, terbentang perbatasan laut Indonesia dengan Australia. Setiap malam, pulau ini menjadi garda terdepan kedaulatan, namun pelabuhan yang menjadi pusat aktivitas justru tenggelam dalam gelap. Hanya dua lampu penerangan yang masih menyala, sementara tiang-tiang lainnya mati, membuat pelabuhan ini nyaris tak terbedakan dari gelapnya horizon.

Potret Malam di Pelabuhan yang Minim Cahaya

Pelabuhan Pantai Baru adalah denyut nadi ekonomi warga Rote Ndao. Setiap hari, puluhan perahu nelayan berangkat dan pulang dari sini, membawa hasil tangkapan yang menjadi sumber penghidupan. Namun ketika malam tiba, suasana berubah mencekam. Tanpa penerangan yang memadai, proses bersandar menjadi berbahaya. Tali-tali mudah tersangkut, dermaga yang basah menjadi licin, dan perahu-perahu sulit dikendalikan dengan aman. Di sisi lain, ibu-ibu penjual ikan terpaksa mengandalkan senter ponsel untuk menerangi dagangan mereka di atas keranjang. Beberapa fakta lapangan yang terlihat jelas:

  • Hanya dua dari puluhan lampu pelabuhan yang berfungsi; selebihnya padam total.
  • Nelayan sering kesulitan membedakan perahu mereka sendiri dengan kapal asing yang melintas di malam hari.
  • Proses bongkar muat ikan dilakukan dalam cahaya minim, meningkatkan risiko kecelakaan dan cedera.
  • Ibu-ibu penjual ikan menggunakan senter ponsel sebagai satu-satunya sumber penerangan saat berjualan.

Suara Nelayan di Garis Perbatasan

“Lihat, hampir gelap total. Lampu pelabuhan hanya dua yang menyala. Kalau ada kapal asing yang melintas, kami sulit dibedakan,” ujar Yosep Abineno dengan nada yang penuh kecemasan. Wilayah perbatasan laut dengan Australia ini memang rawan penyelundupan dan pencurian ikan. Setiap malam, para nelayan Rote Ndao harus berjaga dalam kelam, bukan hanya melawan ombak dan cuaca, tetapi juga kegelapan yang menyelimuti tempat mereka berpijak. Mereka adalah mata dan telinga negara di ujung selatan, namun tanpa penerangan yang layak, tugas mereka menjadi semakin berat. Kehadiran kapal-kapal asing yang kerap melanggar batas teritorial harus diwaspadai, namun dalam gelap, siapa pun bisa lewat tanpa disadari.

Sementara itu, di seberang dermaga, ibu-ibu penjual ikan mulai merapikan hasil tangkapan dalam cahaya senter ponsel. Suara mesin perahu bercampur debur ombak menjadi latar keprihatinan warga pulau terluar Indonesia ini. Mereka hanya berharap hal sederhana: lampu-lampu di pelabuhan menyala penuh, agar aktivitas tetap aman dan mereka tidak lagi membayangkan bahaya yang mengintai dari laut gelap. Rote Ndao adalah wajah Indonesia di selatan. Ketika lampu pelabuhan redup, di situlah kita perlu mendengar suara para nelayan yang setiap malam menjaga kedaulatan tanpa penerangan yang memadai. Mereka berdiri di ujung negeri, berjaga dalam sunyi dan gelap. Sudah sepantasnya kita semua — pemerintah dan masyarakat — menoleh ke arah mereka. Karena kehadiran mereka adalah bukti nyata bahwa Indonesia tidak hanya berupa daratan, melainkan juga laut luas yang harus dijaga, mulai dari pelabuhan terkecil di pulau paling selatan.

penerangan pelabuhan wilayah perbatasan nelayan
Tokoh: Yosep Abineno
Lokasi: Nusa Tenggara Timur, Pulau Rote, Pantai Baru, Pelabuhan Pantai Baru, Australia

Artikel terkait