Di Pelabuhan Nelayan Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, puluhan perahu kayu bersandar rapi di dermaga yang berkarat. Langit kelabu menyelimuti kawasan yang hanya beberapa mil dari perbatasan Singapura dan Malaysia ini. Namun, di balik pemandangan laut yang tenang, wajah-wajah para nelayan tampak lesu. Mereka duduk di bangku pecah, sibuk memperbaiki jaring yang sobek, sesekali melirik ke arah selat yang kini terasa semakin jauh untuk dijangkau. Di garis depan ekonomi maritim Indonesia, kehidupan berdenyut pelan, terbebani harga bahan bakar minyak (BBM) yang terus melonjak dan sinyal telekomunikasi yang nyaris tak ada di tengah laut.
Harga BBM Mencekik Nelayan Perbatasan
Suryadi (45), seorang nelayan yang sudah puluhan tahun mengarungi perairan Karimun, mengeluhkan bahwa biaya operasional melaut kini tak sebanding dengan hasil tangkapan. 'Dulu satu liter solar Rp10.000, sekarang Rp15.000. Saya harus melaut lebih jauh, tapi hasil tangkapan tetap sama. Kadang rugi,' ujarnya sambil mengelap keringat di kening. Untuk sekali melaut, Suryadi menghabiskan setidaknya 20 liter solar, berarti Rp300.000 ongkos bahan bakar per hari. Dengan harga ikan yang stagnan, keuntungannya kian menipis. Para nelayan perbatasan di Kepulauan Riau ini hidup di antara dua tekanan: cuaca tak menentu dan harga BBM yang mencekik.
- Kenaikan harga BBM: Dari Rp10.000 per liter menjadi Rp15.000 dalam setahun terakhir, tanpa subsidi yang memadai bagi nelayan skala kecil.
- Biaya operasional membengkak: Suryadi mengaku kini harus mengurangi frekuensi melaut dari 25 hari menjadi hanya 15 hari sebulan.
- Hasil tangkapan stagnan: Rata-rata 30 kilogram per trip dengan harga jual Rp25.000 per kilogram, tak cukup menutup ongkos solar.
Sinyal Putus di Antara Gelombang
Tak hanya soal BBM, sulitnya sinyal telekomunikasi di tengah laut menjadi momok lain bagi para nelayan di perbatasan. Saat perahu sudah menjauh dari dermaga, ponsel menjadi barang mati. 'Kami hanya bermodal kompas dan bintang. Kalau ada apa-apa di laut, komunikasi putus. Sinyal hanya ada di dekat pelabuhan,' tambah Suryadi dengan nada getir. Tanpa akses informasi cuaca atau panggilan darurat, setiap pelayaran adalah taruhan nyawa. Di perairan Kepulauan Riau yang rawan cuaca ekstrem, kondisi ini membuat nelayan beroperasi dalam ketidakpastian penuh. Pemerintah Kabupaten Karimun berjanji akan mengusulkan subsidi BBM untuk nelayan dan membangun menara sinyal di perairan perbatasan, namun hingga berita ini ditulis, janji itu masih menggantung di udara.
Di dermaga yang mulai remang, suara debur ombak berbaur dengan deru mesin perahu yang berangkat. Para nelayan tetap melaut, seperti biasa, dengan peralatan seadanya. Mereka adalah garda terdepan pemenuhan protein laut negeri ini, namun seringkali dilupakan oleh gemerlap kota. Di garis depan perbatasan Indonesia, di mana laut menjadi satu-satunya jalan hidup, mereka berharap ada kepastian: BBM terjangkau, sinyal hadir, dan negara benar-benar hadir melindungi rakyatnya di ujung sana.