SUARA PERBATASAN

Suara Perbatasan: Warga Atambua Ingin Listrik 24 Jam, Bukan Hanya 12 Jam

Suara Perbatasan: Warga Atambua Ingin Listrik 24 Jam, Bukan Hanya 12 Jam

Di Atambua, NTT, warga perbatasan hanya menikmati listrik 12 jam sehari, sementara tetangga Timor Leste mendapat pasokan 24 jam. Keluhan ini menggema dari Kampung Manusak, di mana anak-anak terpaksa belajar di bawah lampu minyak. Suara perbatasan ini menjadi pengingat akan ketimpangan infrastruktur yang masih membelit ujung negeri.

Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat Atambua, Nusa Tenggara Timur, meninggalkan semburat jingga yang memudar menjadi kelam. Di Kampung Manusak, Kecamatan Atambua Barat, malam tidak pernah benar-benar terang. Hanya separuh rumah yang berpendar samar-samar; sisanya tenggelam dalam gulita, hanya diterangi oleh lampu minyak tanah yang berkedip lemah. Dari kejauhan, gemerlap lampu kota di Timor Leste begitu jelas — sebuah kontras yang menusuk, seolah mengingatkan warga bahwa di seberang sana, malam tidak pernah gelap total. Anak-anak terpaksa mengerjakan PR di bawah cahaya temaram, sementara ibu-ibu memasak di dapur pengap dengan kayu bakar. Langit bertabur bintang menjadi saksi bisu perjuangan mereka — sebuah potret nyata dari suara perbatasan yang lirih namun tak pernah padam.

Potret Malam di Ujung Negeri: Listrik 12 Jam, Harapan 24 Jam

Di Kampung Manusak, listrik hanya menyala 12 jam sehari — dari pukul 18.00 hingga 06.00. Begitu fajar menyingsing, seluruh kampung mati lampu. Infrastruktur kelistrikan yang terbatas memaksa warga bergantung pada generator pribadi, namun tidak semua mampu membelinya. Kondisi ini memicu dampak berantai yang menghambat aktivitas warga Atambua, NTT:

  • Pasokan listrik hanya 12 jam per hari — dari senja hingga subuh, tanpa aliran di siang hari.
  • Ketergantungan pada lampu minyak tanah yang mahal dan berbahaya bagi kesehatan pernapasan.
  • Anak-anak belajar dalam kondisi minim cahaya, mengancam kualitas pendidikan dan kesehatan mata mereka.
  • Kontras dengan negara tetangga yang aliran listriknya stabil 24 jam, seolah menjadi cermin ketimpangan.
  • Aparat desa dan tokoh masyarakat telah berkali-kali mengusulkan permohonan ke PLN, namun hingga kini belum ada kejelasan.

Seorang warga, Bapak Yohanes, duduk di teras rumahnya yang gelap. Suara jangkrik dan desau angin malam menemani perbincangan kami. “Kami hanya minta listrik 24 jam saja, agar anak-anak bisa belajar lebih baik dan kami bisa bekerja di malam hari,” ujarnya lirih. Permintaan sederhana ini menjadi harapan besar di tengah keterbatasan yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Suara dari Garis Depan: Anak Negeri di Ujung Batas

Bapak Yohanes adalah satu dari ribuan warga perbatasan yang setiap hari merasakan pahitnya ketidakmerataan akses listrik. Ia menuturkan dengan suara bergetar, “Kami merasa menjadi anak tiri di negeri sendiri. Di ibu kota, listrik menyala 24 jam, tapi di sini, kami hanya dianggap. Padahal kami juga bagian dari NKRI.” Di balik keterbatasan, semangat nasionalisme tetap berkobar. “Anak saya harus belajar di bawah lampu minyak. Matanya sering perih. Kasihan. Kami hanya ingin yang adil,” tambahnya. Suara perbatasan ini adalah representasi dari keresahan warga garis depan yang setia menjaga kedaulatan negara, namun belum mendapat balasan yang setimpal.

Malam semakin larut di Atambua. Lampu-lampu rumah mulai padam satu per satu. Namun, di balik kegelapan, ada nyala semangat yang tak pernah redup — semangat warga yang tetap bertahan di ujung negeri, menjaga harga diri bangsa. Sudah saatnya suara perbatasan didengar, agar anak-anak di Atambua tidak lagi belajar di bawah lampu minyak, melainkan di bawah lampu 24 jam yang menjadi hak setiap warga negara Indonesia. Mari kita renungkan: sejauh mana kita peduli pada saudara yang berjaga di garis depan?

listrik perbatasan
Tokoh: Yohanes
Lokasi: Atambua, Nusa Tenggara Timur, Timor Leste

Artikel terkait