SUARA PERBATASAN

Suara Perbatasan: Warga Kapuas Hulu Keluhkan Listrik Mati Bergilir di Tengah Malam

Suara Perbatasan: Warga Kapuas Hulu Keluhkan Listrik Mati Bergilir di Tengah Malam

Warga perbatasan Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, harus berdamai dengan pemadaman listrik bergilir setiap malam mulai pukul 21.00 hingga subuh. Anak-anak terpaksa belajar di bawah cahaya senter ponsel dan lilin, sementara infrastruktur gardu listrik tua belum diperbarui. Kondisi ini menjadi potret nyata kesenjangan pembangunan di garis depan yang membutuhkan perhatian segera dari pemerintah.

Malam di perbatasan Kapuas Hulu hanya diterangi lilin plastik yang meleleh perlahan, sementara api unggun di halaman rumah papan menjadi satu-satunya sumber cahaya dan kehangatan. Suara jangkrik dan kodok bergantian memecah kesunyian, mengiringi hembusan angin yang membawa aroma tanah basah dari sungai perbatasan Malaysia yang berjarak hanya beberapa kilometer. Di teras rumah papan bergelombang, gulungan kawat zigzag menghiasi dinding—jejak masa lalu ketika listrik masih menjadi mimpi. Kini, sejak listrik resmi menyala beberapa tahun lalu, warga harus kembali berdamai dengan kegelapan karena pemadaman bergilir yang rutin terjadi setiap malam mulai pukul 21.00 hingga subuh. Ini adalah potret nyata garis depan yang belum tersentuh pemerataan pembangunan listrik.

Potret Kegelapan di Ujung Negeri

Seorang ibu berusia 35 tahun, Siti, meneteskan air mata saat melihat putrinya yang masih duduk di kelas tiga SD harus menyelesaikan pekerjaan rumah dengan penerangan seadanya dari senter ponsel. Di dalam kamar sempit beralas tikar, buku tulis dan pensil berserakan di samping lilin yang nyaris padam. "Setiap malam begini, anak-anak harus belajar di bawah cahaya ponsel. Kadang matanya sakit, tapi mereka tetap semangat karena tak mau ketinggalan pelajaran," ujarnya lirih. Kondisi ini bukan hanya dialami Siti, melainkan hampir seluruh warga di desa yang berjarak 5 kilometer dari Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Badau. Gardu listrik tua yang sudah berusia puluhan tahun menjadi biang keladi pemadaman bergilir yang tak kunjung usai.

Harapan di Balik Padamnya Listrik

Warga setempat sudah lama mendambakan perbaikan infrastruktur listrik agar anak-anak mereka bisa belajar tanpa hambatan. Berikut adalah kondisi riil yang mereka hadapi setiap malam:

  • Pemadaman bergilir: Listrik padam mulai pukul 21.00 hingga 04.00 WIB setiap hari tanpa pemberitahuan.
  • Penerangan darurat: Warga mengandalkan lilin plastik, senter ponsel, dan api unggun di halaman rumah.
  • Dampak pendidikan: Anak-anak terpaksa belajar di bawah cahaya redup, menyebabkan keluhan mata lelah dan menurunnya konsentrasi.
  • Infrastruktur usang: Gardu listrik tua tidak mampu menampung beban listrik yang terus meningkat seiring bertambahnya penduduk.

"Kami hanya ingin listrik stabil. Bukan untuk kemewahan, tapi agar anak-anak bisa sekolah dengan tenang dan ibu-ibu bisa memasak tanpa khawatir lampu padam," kata Hasan, tokoh masyarakat setempat, sambil memasukkan kayu ke dalam api unggun. Suara jangkrik kembali mendominasi saat lilin-lilin mulai padam satu per satu. Di kejauhan, lampu-lampu Malaysia terlihat terang benderang—sebuah kontras yang menyayat hati bagi warga yang hanya berjarak sepuluh menit dari perbatasan.

Di ujung negeri ini, di mana semangat nasionalisme berkobar di dada warga yang rela berjaga di garis depan, mereka hanya meminta hak dasar yang belum terpenuhi. Kegelapan yang menyelimuti malam perbatasan bukan hanya soal listrik, melainkan cerminan ketimpangan pembangunan yang masih jauh dari harapan. Sudah saatnya pemerintah hadir tidak hanya dalam bentuk janji, tetapi juga nyala lampu yang menerangi ruang belajar anak-anak Kapuas Hulu—karena di sinilah Indonesia benar-benar dijaga, meski dalam gelap.

listrik padam bergilir perbatasan keluhan warga Kapuas Hulu
Lokasi: Kapuas Hulu, Malaysia

Artikel terkait