Senja merambat di dermaga kecil Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara. Di atas perahu motor kayu yang mulai lapuk, Markus (45) duduk dengan pandangan kosong ke arah laut. Di sekelilingnya, anak-anak bermain riang di pinggir jalan berlumpur tanpa alas kaki, tawa mereka sesekali terdengar meski lumpur masih menempel di betis kecil. Udara garam bercampur asap kapal nelayan lain yang baru pulang melaut, namun suasana pesisir yang tenang itu kini dibayangi keluhan yang tak henti. Harga BBM solar di Pulau Sebatik mencapai Rp 15.000 per liter, jauh lebih mahal dibandingkan tarif di pusat kota Nunukan. “Kami seperti diabaikan, padahal kami yang menjaga perbatasan,” lirih Markus, menunjuk ke perahunya yang terparkir di dermaga kecil. Ini adalah potret garis depan: warga Nunukan mengeluhkan harga BBM selangit di tengah kemacetan logistik yang tak kunjung teratasi.
Potret Garis Depan: Harga BBM Selangit, Nelayan Terjepit
Markus adalah satu dari puluhan nelayan di Pulau Sebatik yang kini harus memutar otak di tengah melambungnya harga solar. Keluhan warga perbatasan terus menggema di Kecamatan Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara. Biaya operasional melaut membengkak hingga dua kali lipat. Markus terpaksa mengurangi jam melaut dari 8 jam menjadi hanya 4 jam per hari agar tetap bisa memutar modal. “Hasil tangkapan tetap, tapi pengeluaran BBM naik terus. Kami tidak bisa naikkan harga ikan karena pembeli dari Malaysia juga banyak yang beralih,” keluhnya sembari memperbaiki jaring yang robek. Situasi ini diperkuat oleh warga lain yang menyebutkan bahwa di wilayah perbatasan seperti Sebatik, tidak ada pilihan selain membeli solar dari pengecer dengan harga yang ditentukan tengkulak. Berikut beberapa fakta lapangan yang terekam:
- Harga solar eceran di Pulau Sebatik mencapai Rp 15.000 per liter, sementara di kota Nunukan Rp 10.000 hingga 12.000 per liter.
- Nelayan seperti Markus terpaksa mengurangi jam melaut hingga 50% untuk menekan biaya operasional.
- Anak-anak di pesisir sering terlihat bermain tanpa alas kaki di sekitar dermaga, menandakan minimnya fasilitas dasar.
Jalan Rusak, Distribusi Terhambat: Ironi Logistik di Ujung Negeri
Bukan hanya harga BBM, keluhan logistik juga menjadi sorotan di Nunukan. Kondisi jalan yang rusak parah di beberapa titik membuat distribusi BBM dari ibukota kabupaten ke Pulau Sebatik memakan waktu hingga tiga hari. Truk tangki sering terjebak lumpur saat musim hujan, menyebabkan pasokan solar tidak menentu. “Jalan berlubang besar, kalau hujan truk tidak bisa lolos. Kami sudah biasa antre berhari-hari untuk satu drum solar,” ujar seorang sopir tangki yang ditemui di jalan poros Sebatik. Harga solar yang mahal tidak lepas dari ongkos distribusi yang tinggi akibat infrastruktur yang buruk. Warga di perbatasan ini pun berharap pemerintah segera membangun jalur alternatif atau memberikan subsidi khusus bagi daerah perbatasan. Tanpa adanya terobosan, mereka khawatir aktivitas ekonomi, khususnya perikanan, akan semakin terpuruk. Keluhan warga Nunukan tentang harga BBM dan logistik ini bukanlah cerita baru, namun terus bergema tanpa solusi nyata.
Di garis depan Indonesia, di mana setiap tetes solar berarti perjuangan, warga Nunukan tetap bertahan dengan semangat nasionalisme yang tak pudar. Mereka adalah garda terdepan yang menjaga kedaulatan negeri, namun sering terlupakan dalam arus pembangunan. Saat anak-anak bermain tanpa alas kaki di lumpur, dan nelayan mengurangi jam melaut demi menghemat BBM, kita semua diingatkan bahwa Indonesia tidak hanya terdiri dari pusat kota, melainkan juga ujung-ujung negeri yang menanti perhatian. Sudah saatnya keluhan ini tidak hanya terdengar, tetapi dijawab dengan aksi nyata. Karena di perbatasan, harga BBM bukan sekadar angka—ia adalah cermin kepedulian negara terhadap warganya.