SUARA PERBATASAN

Suara Perbatasan: Warga Perbatasan Danau Rana di Maluku Barat Daya Butuh Akses Air Bersih

Suara Perbatasan: Warga Perbatasan Danau Rana di Maluku Barat Daya Butuh Akses Air Bersih

Di perbatasan Danau Rana, Maluku Barat Daya, warga Desa Tepa setiap hari berjuang mendapatkan air bersih dari sumur dangkal yang menghasilkan air payau dan keruh. Antrean panjang ibu-ibu dengan balita menjadi pemandangan biasa, sementara anak-anak rentan terkena diare. Kepala desa berharap pemerintah segera merealisasikan infrastruktur pipanisasi agar nasionalisme tidak sekadar simbol, tetapi hadir dalam bentuk akses air layak.

Di kawasan perbatasan Danau Rana, Kabupaten Maluku Barat Daya, tepatnya di Desa Tepa, Kecamatan Pulau-Pulau Babar, udara kering membakar tenggorokan. Di balik bukit gundul yang memerah karena kemarau panjang, puluhan ibu-ibu berjejer di depan satu-satunya sumur desa. Mereka membawa ember dan jerigen kosong, menanti giliran untuk menimba air yang tak lebih dari genangan keruh dan payau. Minggu pagi itu, Yuliana (30) menggendong balitanya dengan selendang lusuh. Sambil melangkah pelan di tanah retak, ia berbisik, "Air ini terasa asin, tapi tidak ada pilihan lain. Anak saya sering terkena diare." Di kejauhan, perbukitan kering menjulang — tanda bahwa musim hujan masih enggan berpihak pada mereka. Inilah potret kehidupan di perbatasan Danau Rana, di mana akses air bersih menjadi perjuangan harian yang menguras tenaga dan harapan.

Potret Garis Depan: Antrean Air Asin di Tengah Keringnya Perbukitan

Wajah Yuliana sembab, namun matanya tajam menatap lubang sumur sedalam tiga meter. Air yang menetes dari timba berwarna kecokelatan, bercampur lumpur. Ia tahu risiko meminumnya, tapi pilihan di perbatasan ini sangat terbatas. Setiap tetes air asin terasa seperti garam yang menggores tenggorokan. Di musim kemarau seperti sekarang, sumur dangkal menjadi andalan utama — meski hasilnya hanya air payau yang memicu penyakit kulit dan diare pada anak-anak. Kondisi ini menggambarkan betapa rentannya infrastruktur air bersih di wilayah perbatasan Maluku ini.

  • Sumber air bersih hanya mengandalkan sumur dangkal dengan kedalaman maksimal lima meter.
  • Air yang dihasilkan keruh, berbau tanah, dan terasa payau saat kemarau.
  • Tak ada instalasi pipanisasi atau penampungan air hujan yang memadai.
  • Warga harus berjalan kaki hingga dua kilometer untuk menjangkau sumur tetangga desa.
  • Anak-anak balita rentan terkena diare dan infeksi saluran pencernaan akibat konsumsi air tidak layak.

Harapan yang Tertunda: Infrastruktur Air Bersih di Ujung Negeri

Pemerintah Desa Tepa sebenarnya sudah bergerak. Kepala Desa Tepa, Bapak Markus, mengajukan proposal pembangunan pipanisasi ke pemerintah provinsi sejak awal tahun lalu. Namun hingga hari ini, belum ada realisasi. "Kami sudah berkali-kali mengirim surat, bahkan mendatangi kantor dinas. Semua hanya janji," ujarnya dengan nada pasrah. Kondisi infrastruktur air bersih di perbatasan Danau Rana ini menjadi ironi: berada di ujung negeri yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, namun akses terhadap kebutuhan dasar terhambat oleh birokrasi dan minimnya perhatian. Padahal, menurut Markus, potensi air tanah sebenarnya ada — hanya butuh pengeboran dan pipa untuk menyalurkannya ke permukiman warga.

Yuliana kembali ke rumahnya setelah dua jam mengantre. Di depan gubuk bambu, ia menuang air ke dalam gentong. Balitanya menangis, mungkin haus, mungkin lapar. Yuliana hanya bisa mengusap peluh dan berdoa agar musim hujan segera tiba. Namun di balik rintihan sehari-hari, ada semangat yang tak pernah padam. "Kami adalah bagian dari NKRI. Tolong jangan lupakan kami di sini," pesan Markus di akhir perbincangan. Suara dari perbatasan ini menjadi pengingat bahwa nasionalisme sejati adalah ketika kita mampu hadir di setiap titik ujung negeri — bukan hanya dengan bendera, tetapi dengan air bersih yang layak untuk saudara-saudara kita di garis depan.

KRISIS AIR BERSIH PERBATASAN MALUKU BARAT DAYA
Tokoh: Yuliana, Markus
Organisasi: Pemerintah Desa Tepa, Pemerintah Provinsi Maluku, NKRI
Lokasi: Desa Tepa, Kecamatan Pulau-Pulau Babar, Kabupaten Maluku Barat Daya, Timor Leste, Danau Rana

Artikel terkait