SUARA PERBATASAN

Suara Perbatasan: Warga Sebatik Curhat Sulitnya Akses Air Bersih di Pulau Perbatasan

Suara Perbatasan: Warga Sebatik Curhat Sulitnya Akses Air Bersih di Pulau Perbatasan
Di Pulau Sebatik, yang terbelah antara Indonesia dan Malaysia, warga Desa Sungai Bambu setiap hari harus berjalan setengah kilometer ke sumur komunal. Foto jurnalisme menunjukkan ember-ember plastik berjejer menunggu giliran mengisi air. Musim kemarau membuat sumur mengering, sehingga mereka terpaksa membeli air dari pengecer dengan harga Rp 5.000 per jerigen. Padahal, di seberang perbatasan, warga Malaysia sudah menikmati pipanisasi dari perusahaan minyak. Ironi ini menjadi keluhan utama. Kepala desa menyampaikan harapannya agar pemerintah pusat membangun instalasi air bersih di perbatasan. Pulau Sebatik adalah titik strategis yang rawan pengaruh asing, namun kebutuhan dasar warganya masih belum tercukupi. Warga bercerita bahwa ada anak-anak yang terkena diare karena air sumur tercemar. Suara perbatasan ini memanggil perhatian: kemerdekaan sejati belum dirasakan jika setiap tetes air masih diperjuangkan dengan keringat.
Akses air bersih Pulau perbatasan Warga Sebatik
Lokasi: Pulau Sebatik, Desa Sungai Bambu, Indonesia, Malaysia

Artikel terkait