Pagi buta di Pulau Sebatik, perbatasan Indonesia-Malaysia, belum benar-benar terang ketika langit kelabu masih menyisakan rintik hujan. Jalan tanah merah yang menjadi urat nadi penghubung antar dusun berubah menjadi kubangan lumpur. Seorang ibu bernama Maria menuntun sepeda sambil menggendong anaknya di punggung; ban sepeda tenggelam ke dalam lubang berisi air coklat pekat. Di kejauhan, sebuah angkutan desa tersangkut di lubang yang dalam, rodanya berputar-putar tanpa bisa maju. Anak-anak berseragam putih-biru sudah antre di pinggir jalan, berdiri di atas batu-batu kecil untuk menghindari genangan lumpur. Sekolah yang hanya berjarak satu kilometer dari desa itu terasa seperti medan perang setiap pagi. Inilah potret nyata pendidikan di garis depan—sebuah perjuangan yang tidak pernah terlihat oleh mereka yang hidup di kota besar.
Potret Garis Depan: Jalan Berlubang Mengubur Mimpi Anak Sebatik
Kondisi jalan di Sebatik memang sudah memprihatinkan sejak bertahun-tahun silam. Hujan semalam meninggalkan bekas berupa genangan setinggi lutut anak-anak. Lubang-lubang besar—berdiameter hingga setengah meter—tersebar di sepanjang jalan utama menuju sekolah dasar di Dusun Melayu itu. Warga setempat menyebutnya sebagai 'lautan lumpur' saat musim penghujan tiba. Berikut ini kondisi yang terpantau langsung di lapangan:
- Jalan tanah merah yang tidak memiliki lapisan aspal atau beton, sehingga mudah berlubang dan licin saat hujan.
- Genangan air bercampur lumpur yang mencapai kedalaman 20-30 sentimeter, memaksa anak-anak berjalan dengan hati-hati atau diantar orang tua.
- Angkutan desa sering terjebak di lubang, menyebabkan waktu tempuh ke sekolah membengkak hingga dua kali lipat.
- Tidak ada penerangan jalan, sehingga aktivitas pagi hari harus dilakukan dalam kondisi gelap.
Setiap hari, anak-anak seperti Rudi (9 tahun) harus berangkat pukul 06.00 pagi agar tiba di sekolah pukul 07.30—padahal jarak tempuh normal hanya satu kilometer. Namun akibat jalan rusak, ia harus memutar melalui pematang sawah atau menumpang ojek jika ada. "Kalau hujan, baju dan sepatu kami kotor semua. Kadang guru marah karena kami terlambat, tapi kami tidak bisa apa-apa," ujar Rudi dengan mata sendu.
Suara Perbatasan: Aspirasi Warga yang Terlupakan
Keluhan warga Sebatik bukanlah isapan jempol belaka. Maria, ibu dua anak yang setiap hari mengantar anaknya ke sekolah, mengungkapkan kekecewaannya. "Kami minta pemerintah segera perbaiki jalan ini. Setiap musim hujan, anak-anak kami tidak bisa sekolah. Banyak yang jatuh, sakit karena kehujanan, atau bahkan putus sekolah karena sulitnya akses," katanya dengan nada lirih. Suara perbatasan ini adalah suara warga yang hidup di ujung negeri, di mana infrastruktur pendidikan masih menjadi mimpi. Data dari Kepala Desa setempat menunjukkan bahwa tingkat kehadiran siswa di musim hujan turun hingga 30% akibat jalan rusak. Banyak orang tua yang akhirnya memilih tidak menyekolahkan anak pada hari-hari ekstrem demi keselamatan.
Pendidikan di perbatasan seharusnya menjadi prioritas utama—bukan hanya soal gedung sekolah, tapi juga akses menujunya. Jalan rusak di Sebatik mencerminkan realitas pahit yang dialami warga garis depan: mereka yang setiap hari berjuang untuk merwujudkan masa dpn lewat pendidikan. Anak-anak ini adalah generasi penerus bangsa yang berhak atas fasilitas yang sama seperti anak-anak di ibu kota. Namun nyatanya, mereka harus berjalan di atas kubangan lumpur hanya untuk menimut ilmu.
Di sini, di ujunng Pulau Sebatik, semangat nasionalisme tidak perlu diajarkan—ia sudah terpaut dalam setiap langkah kakiyang menembus lumpur. Tapi semangat itu tidak akan bertahan lama tanpa dukungan nyata. Pemerintah sebagai representasi negara hadir di garis depan, harus segera membetuk realitas. Perbaiki jalan, bangun jembatan, sediakan angkutan khusu bagi anak-anak. Karena masa depan Indonesia di perbatasan dimulai dari langkah pertama anak-anak menuju sekolahan. Jangan sampai suara perbatasan hanya menjadi gema yang hilang di tengah derasnya hujan dan lumpur.