Malam turun cepat di kawasan PPLB Skouw, Kota Jayapura, Papua. Jalan utama sepanjang tiga kilometer yang menjadi akses vital penghubung Indonesia dengan Papua New Guinea hanya diterangi oleh satu titik lampu penerangan jalan umum (PJU) yang meredup. Dari lensa kamera foto jurnalisme, tergambar jelas gelapnya aspal yang menganga—sesekali sinar lampu motor melintas, meninggalkan siluet pejalan kaki yang berhati-hati menapaki pinggir jalan. Suara kriyik aneh dari semak belukar terdengar jelas, membuat suasana terasa angker. Inilah potret garis depan di perbatasan Papua yang sering luput dari perhatian: di mana kegelapan bukan hanya soal ketiadaan cahaya, tetapi juga simbol dari minimnya perhatian terhadap warga yang menjaga pintu gerbang negeri.
Potret Gelap di Ujung Negeri: Infrastruktur Penerangan yang Terabaikan
Kondisi jalan di sepanjang kawasan PPLB Skouw sangat memprihatinkan. Aspal yang menghitam nyaris tak terlihat saat malam, hanya mengandalkan pantulan cahaya dari lampu kendaraan yang jarang melintas. Warga setempat mengeluhkan risiko kecelakaan dan tindak kejahatan yang mengintai di balik kegelapan. Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, beberapa fakta mencolok berhasil diabadikan:
- Satu Lampu PJU untuk Tiga Kilometer Jalan — Satu-satunya tiang lampu yang berfungsi berada di dekat pos perbatasan, namun cahayanya hanya menjangkau radius tak lebih dari 50 meter.
- Akses Vital yang Rawan — Jalan ini tak hanya digunakan oleh warga Skouw, tetapi juga menjadi jalur utama mobilitas barang dan orang antara Indonesia dan Papua New Guinea. Dalam gelap, truk logistik dan kendaraan umum melaju tanpa penerangan yang memadai.
- Kondisi Lanskap yang Menambah Kerawanan — Jalan diapit oleh semak belukar lebat dan perkebunan warga. Suara binatang malam dan gemerisik dedaunan menciptakan atmosfer mencekam, terutama bagi pejalan kaki yang pulang larut.
Suara Warga di Garis Depan: Antara Harapan dan Keprihatinan
Bapak Yoseph, seorang petani yang tinggal di pinggir jalan utama selama 15 tahun, menuturkan, “Setiap malam kami seperti hidup di dalam gua. Satu lampu itu seperti lilin di tengah padang. Kalau hujan, lebih gelap lagi, kami khawatir anak-anak pulang sekolah.” Keluhan serupa disampaikan oleh Ibu Nelly, pedagang di PPLB, yang harus menutup warungnya sebelum pukul 18.00 karena takut berjalan pulang dalam kegelapan. “Penerangan jalan bukan hanya soal cahaya, tapi soal rasa aman dan martabat warga perbatasan,” ujarnya dengan nada getir. Kondisi ini sungguh ironis: di kawasan yang dijuluki sebagai beranda depan NKRI, warganya justru hidup dalam kegelapan yang mencekik.
Ketika malam semakin larut, hanya suara angin dan kriyik jangkrik yang menemani jalanan Skouw. Dari balik jendela rumah panggung, sesekali terlihat kerlip senter warga yang berjalan berhati-hati. Penerangan jalan di kawasan PPLB bukan sekadar masalah teknis, tetapi cermin dari sejauh mana negara hadir di ujung terdepan. Di perbatasan Papua, gelapnya jalan adalah gelapnya perhatian. Sudah saatnya nyala lampu menjadi simbol kepedulian, bahwa tak ada warga negara yang boleh dibiarkan berjalan dalam kegelapan—apalagi mereka yang setia menjaga martabat bangsa di garis depan.