Matahari di atas Kampung Skouw Sae, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, membakar tanah merah yang kering. Di kejauhan, bendera Merah Putih berkibar di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw yang hanya berjarak sepuluh kilometer. Namun, di balik pesona garis depan yang heroik, hiruk-pikuk kehidupan warga menyimpan luka: perjuangan harian untuk mendapatkan air bersih. Anak-anak bermain bola di lapangan berdebu, sementara para ibu sibuk mengantre di sumur komunal yang airnya mulai surut. Kampung ini berada di perbatasan langsung dengan Papua Nugini, tetapi menjadi ironi ketika infrastruktur dasar masih jauh dari kata layak. Suara perbatasan dari Skouw harus didengar: mereka butuh air bersih.
Potret Garis Depan: Berjalan Kilometer Demi Setetes Air
Sejak pukul lima pagi, Mama Yuliana, seorang ibu rumah tangga berusia 45 tahun, sudah berjalan menyusuri jalan setapak berbatu. Ember plastik biru di tangan kanannya, sementara timba kecil bergelayut di kiri. 'Setiap hari kami rebutan air, kadang dapat setengah ember saja,' katanya dengan napas tersengal. Jarak tempuh hingga dua kilometer dari rumahnya ke sumur komunal bukan halangan, tetapi debit air yang terus menipis menjadi momok. Di sepanjang jalan utama kampung, drum-drum penampung air hujan teronggok usang — sebagian bocor, sebagian berkarat. Kepala Kampung Skouw Sae, Bapak Filep, menegaskan bahwa usulan bantuan pipanisasi dari sungai terdekat sudah diajukan sejak tahun 2024, namun hingga kini belum terealisasi. Kondisi ini memaksa warga bertahan dengan sistem giliran antre yang kadang memicu gesekan antarwarga.
- Jarak tempuh ke sumber air: 2 kilometer dari permukiman terdalam.
- Debit sumur komunal menyusut drastis saat kemarau, hanya cukup untuk 5-6 rumah per hari.
- Infrastruktur penampung: 12 drum air hujan yang 8 di antaranya sudah rusak.
- Usulan bantuan dari kampung ke pemerintah daerah sejak 2024 belum direspons maksimal.
Tak hanya ibu-ibu, anak-anak juga merasakan dampaknya. Banyak siswa SD Negeri Skouw Sae yang terlambat masuk sekolah karena harus membantu orang tua mengambil air. Di kelas-kelas yang berdinding papan, guru terpaksa memotong waktu pelajaran karena siswa harus pulang lebih awal untuk antre air. Suara perbatasan terdengar lirih di sela-sela suara gemericik air sumur yang seret.
Suara Perbatasan Papua: Mimpi Air Bersih di Ujung Negeri
Di pos perbatasan Indonesia-Papua Nugini yang megah, lalu lintas barang dan manusia terus berdenyut. Namun, hanya beberapa ratus meter dari PLBN, Kampung Skouw Sae masih bergelut dengan ketersediaan air bersih. Mama Yuliana dan puluhan warga lainnya tak henti-hentinya berharap pemerintah segera merealisasikan program pipanisasi dari sungai terdekat. 'Kami sudah lama menunggu, semoga tahun ini ada perubahan,' ujar Bapak Filep sambil menunjuk ke arah sungai yang tampak dari bukit. Debur air sungai terdengar sayup-sayup, namun persediaan untuk warga tak kunjung mengalir. Setiap sore, saat matahari mulai condong ke barat, aktivitas warga mereda — beberapa duduk di beranda rumah panggung sambil membersihkan peralatan mandi. Lampu-lampu perbatasan mulai menyala, menerangi pagar kawat berduri yang memisahkan dua negara. Namun, di dalam kampung, masih ada kegelapan yang lebih pekat: keterbatasan akses air bersih.
Warga Skouw Sae adalah garda terdepan NKRI. Mereka menjaga kedaulatan negara dari ujung timur, tetapi seringkali dilupakan dari segi kesejahteraan dasar. Air bersih bukan sekadar kebutuhan — ia adalah hak asasi yang menentukan masa depan anak-anak di perbatasan. Kita harus memastikan bahwa suara dari Skouw tidak hanya menjadi gema di koridor birokrasi, melainkan menjadi perhatian nyata. Karena di ujung negeri, ada saudara kita yang setiap hari merebutkan setetes air demi bertahan hidup. Mimpi air bersih harus menjadi nyata demi kejayaan Indonesia dari timur.