Malam itu, di balai kampung Distrik Skouw, Papua, suara gemuruh mesin diesel PLN bercampur dengan derap langkah warga yang datang berbondong-bondong. Kampung yang terletak tepat di garis batas RI-Papua New Guinea ini biasa diselimuti gelap setelah pukul 18.00. Namun, Selasa malam itu, lampu-lampu penerangan balai menyala terang—kontras dengan kegelapan pekat yang membentang di sekitar. Di dalam, puluhan warga duduk berdesakan, kipas angin berputar lambat mengusir udara lembap. Di luar, sesekali terdengar lolongan anjing dan suara serangga malam. Di sinilah, di ujung negeri, suara perbatasan benar-benar terdengar: warga Skouw meminta pasokan listrik tambahan.
Potret Kelam di Ujung Negeri: Listrik Hanya 6 Jam Sehari
Sejak beberapa bulan terakhir, pasokan listrik di Distrik Skouw hanya menyala rata-rata 6 jam sehari. Warga mengeluhkan kondisi ini, terutama di musim kemarau seperti sekarang. Panas terik siang hari membuat aktivitas terhambat, sementara malam hari yang panjang seharusnya menjadi waktu produktif. Banyak warga menggantungkan hidup pada jualan di malam hari—mulai dari warung kecil yang menjual kopi, gorengan, hingga jasa cuci pakaian. Namun, tanpa listrik yang memadai, usaha mereka mati suri.
- Durasi listrik: Rata-rata hanya 6 jam per hari, sering tidak menentu, padam mendadak tanpa pemberitahuan.
- Musim kemarau: Warga membutuhkan penerangan lebih panjang untuk berjualan hingga tengah malam.
- Aktivitas warga: Banyak yang menggunakan lampu minyak tanah, rawan kebakaran dan mengganggu kesehatan.
Seorang pemuda bernama Yosep, yang sehari-hari bekerja sebagai penjual gorengan di pinggir jalan utama, memperlihatkan foto hasil tangkapan kameranya kepada petugas PLN yang hadir. Dalam foto yang beredar dari genggaman ponselnya, tampak pemandangan kampung yang gelap gulita. Hanya titik-titik kecil lampu minyak tanah yang bertebaran seperti kunang-kunang. "Ini setiap malam, Pak. Anak-anak kami belajar hanya dengan lampu minyak. Kalau ada pasokan listrik tambahan, kami bisa jualan lebih lama, anak-anak bisa belajar dengan terang," ujarnya lirih, matanya menyorot tajam ke arah perwakilan PLN.
Suara Warga: Gelap yang Membatasi Harapan
Rapat yang digelar di balai kampung itu berlangsung hangat. Saling sikut dan canda sesekali terdengar, melepas penat setelah seharian beraktivitas. Beberapa ibu-ibu membawa anak kecil yang mengantuk di pangkuan. Seorang tetua adat berdiri, berbicara tentang keseimbangan alam dan kemajuan. "Listrik bukan hanya untuk terang, tapi untuk hidup. Kami juga bagian dari Indonesia," katanya. Aspirasi yang disampaikan dicatat dengan saksama oleh petugas PLN. Mereka berjanji akan memperbaiki pasokan dan menambah daya dalam waktu dekat. Namun, warga masih ragu—janji serupa sudah sering didengar.
Di antara warga, terdengar desahan lega ketika petugas menyebut kata "perbaikan". Namun, di sudut lain, seorang pemuda menggeleng, "Janji hanya janji, tunjukkan bukti." Suasana kemudian pecah dengan gelak tawa ketika seorang warga melontarkan lelucon tentang generator diesel PLN yang lebih sering mogok daripada hidup. Di balik tawa itu, ada keresahan yang mengendap: perbatasan tidak boleh menjadi daerah yang dilupakan.
Skouw adalah wajah Indonesia di ujung timur. Dari sini, setiap gelap yang menyelimuti kampung adalah cerita tentang kesenjangan yang masih menganga. Namun, di balik keluhan dan tawa, ada semangat yang tak padam: warga perbatasan tetap tegak, berjuang dengan lampu minyak dan keyakinan bahwa tanah air mereka tidak akan melupakan anak bangsa yang berjaga di garis depan. Suara perbatasan terus menggema—merdu, meski kadar listrik masih jauh dari harapan.