Matahari membakar ubun-ubun saat saya tiba di Desa Napan, Kecamatan Bikomi Nilulat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Hamparan ladang jagung yang seharusnya hijau segar justru layu dan mengering. Suara dedaunan kering yang berdesir tertiup angin panas bercampur lengkingan ternak yang kehausan. Di tengah lanskap tandus, saya menyaksikan pemandangan yang mengharukan: puluhan petani berkumpul di sekitar satu-satunya sumur tua yang airnya keruh dan hanya setinggi betis orang dewasa. Sumur inilah pusat denyut kehidupan warga perbatasan yang berjarak sekitar 15 kilometer dari Timor-Leste. Di sinilah, di ujung negeri, perjuangan mendapatkan air bersih menjadi rutinitas pahit yang harus dijalani setiap hari.
Menempuh Delapan Kilometer Demi Air Bersih
Bapak Yohanes, seorang petani jagung dan padi ladang berusia 55 tahun, adalah salah satu pejuang air itu. Setiap pagi ia meninggalkan rumah, menaiki sepeda motor butut atau berjalan kaki menyusuri jalan berbatu sejauh 8 kilometer menuju mata air di kaki bukit. "Air di sumur dekat rumah hanya cukup untuk ternak, keruh dan berlumpur. Untuk minum dan memasak, saya harus ke mata air. Jauh sekali," ujarnya pelan. Ia tidak sendiri. Hampir setiap hari, jerigen dan ember warna-warni berjejer rapi di sumur tua, menunggu giliran, menunggu tetesan air yang lambat. Kondisi infrastruktur air bersih di perbatasan ini sangat memprihatinkan:
- Jarak tempuh ke sumber air bersih mencapai 8 kilometer dari pemukiman warga.
- Sumur tua yang menjadi andalan menghasilkan air keruh bercampur lumpur, hanya layak untuk ternak.
- Satu unit sumur bor bantuan pemerintah sudah difungsikan, namun airnya berwarna cokelat dan berbau menyengat sehingga tidak bisa diminum.
- Warga telah mengusulkan pembangunan pipanisasi sepanjang 4 kilometer dan bak penampungan air hujan berkapasitas 10.000 liter ke Kementerian PUPR, namun hingga kini masih menunggu realisasi.
Gotong Royong di Tengah Keterbatasan
Ibu Maria, seorang ibu rumah tangga yang sibuk menimba air di sumur tua, menceritakan pengalamannya dengan sumur bor. "Pernah dipakai untuk minum, tapi gatal di tenggorokan. Sekarang hanya untuk siram tanaman," katanya. Kepala Desa Napan terus berupaya memperjuangkan usulan pipanisasi dan penampungan air hujan. Sambil menunggu realisasi, warga tak tinggal diam. Mereka bergotong royong membuat bak penampungan darurat dari terpal biru dan kayu-kayu bekas. Setiap tetes air hujan yang turun sesekali di musim pancaroba langsung ditampung dengan jerigen besar di setiap rumah. Semangat ini adalah bukti bahwa di garis depan, rasa kebersamaan dan kepedulian masih menyala.
Di perbatasan yang gersang dan sering dilupakan, petani seperti Bapak Yohanes dan Ibu Maria adalah pahlawan kedaulatan pangan dan NKRI. Mereka bertahan di tengah keterbatasan air bersih, tetap menanam jagung dan padi ladang untuk menghidupi keluarga dan mengibarkan bendera Merah Putih. Setiap langkah menuju mata air adalah langkah patriotisme. Sudah saatnya kita semua peduli — air bersih untuk perbatasan bukan sekadar kebutuhan, melainkan investasi kedaulatan. Karena di ujung negeri inilah nasionalisme diuji setiap hari, dan merekalah yang menjaga tanah air tetap teguh.