SUARA PERBATASAN

Suara Warga Desa Temajuk: Penerangan Listrik dari Malaysia Masih Jadi Andalan

Suara Warga Desa Temajuk: Penerangan Listrik dari Malaysia Masih Jadi Andalan

Di Desa Temajuk, Kalimantan Barat, warga di pinggir perbatasan masih bergantung pada pasokan listrik dari Malaysia karena jaringan PLN belum menjangkau. Biaya bulanan berkisar Rp150.000 hingga Rp200.000, namun ketidakstabilan tegangan dan rasa skeptis terhadap janji pemerintah masih membayangi. Potret ini menggambarkan kesenjangan infrastruktur di ujung negeri yang menanti keadilan akses energi.

Malam di Desa Temajuk, Kalimantan Barat, menjelma menjadi kanvas sunyi yang berdenyut. Di ujung negeri ini, deretan lampu pijar berkelap-kelip dari balik garis perbatasan, menerangi rumah-rumah kayu yang berdiri di sisi Indonesia. Udara malam terasa lembap, bercampur dengan suara gemerisik dedaunan dan deru generator kecil yang sesekali memecah keheningan. Namun, sumber cahaya itu bukan dari jaringan listrik negara sendiri—melainkan dari kabel-kabel yang menjuntai dari tiang-tiang di seberang, Malaysia. Angin malam membawa bau tanah basah dan desir suara serangga, menambah kesan sepi namun hidup di perbatasan Kalimantan ini. Di sini, di garis depan, warga masih bergantung pada pasokan listrik dari negara tetangga untuk menerangi hari-hari mereka.

Potret Ketergantungan Listrik dari Seberang

Udin (42), seorang warga yang rumahnya persis di bibir perbatasan, menceritakan kesehariannya. "Sudah puluhan tahun kami beli listrik dari Malaysia. Kadang Rp150-200 ribu per bulan, tergantung pemakaian," ujarnya sambil menunjuk kabel yang meliuk di atas kepala. Di dalam rumah, lampu pijar 15 watt menyala redup, menerangi ruang tamu kecil. Anak-anaknya duduk di meja kayu sederhana, mengerjakan tugas sekolah dengan penerangan seadanya. Suara gesekan pensil di kertas terdengar jelas di malam yang sunyi. Kondisi infrastruktur yang terbatas membuat warga di pinggir perbatasan belum menikmati aliran listrik dari PLN, meskipun pusat desa sudah teraliri.

  • Biaya listrik dari Malaysia bervariasi antara Rp150.000 hingga Rp200.000 per bulan, tergantung pemakaian.
  • Kabel-kabel listrik dari Malaysia dipasang secara informal, menjuntai dari tiang di sisi seberang langsung ke rumah-rumah warga.
  • PLN baru menjangkau pusat desa Temajuk, sementara rumah-rumah di pinggir perbatasan masih mengandalkan suplai luar negeri.

Harapan dan Skeptisisme di Ujung Negeri

Pemerintah daerah berencana memasang jaringan listrik baru tahun depan, namun warga masih diliputi rasa skeptis. "Kami harap benar-benar terealisasi, bukan janji lagi," keluh Udin sambil merapikan kabel yang menggantung di dinding. Di sudut ruangan, sebuah radio tua menyala, menyiarkan berita dari stasiun lokal—suara yang menjadi pengingat bahwa mereka masih bagian dari Indonesia. Anak-anak terus belajar, sesekali menengadah ke lampu yang berkedip-kedip saat tegangan listrik dari seberang tidak stabil. Di perbatasan Kalimantan ini, setiap malam adalah pengingat akan kesenjangan yang masih membayangi wilayah garis depan.

Langkah kaki warga di tanah perbatasan adalah jejak perjuangan. Mereka yang berjaga di ujung negeri ini layak mendapatkan akses listrik yang setara, bukan hanya bergantung pada belas kasihan dari seberang. Saat lampu-lampu di Malaysia terang benderang, di sini, di Desa Temajuk, warga masih menanti kepastian. Semoga janji tahun depan bukan lagi sekadar angin lalu, melainkan nyala terang yang menyatu dengan semangat nasionalisme yang tak pernah padam di garis depan Indonesia.

Penerangan Listrik dari Malaysia Ketergantungan Listrik Perbatasan Indonesia-Malaysia
Tokoh: Udin
Organisasi: PLN, Pemerintah Daerah
Lokasi: Desa Temajuk, Kalimantan Barat, Malaysia, Indonesia

Artikel terkait