Sayup-sayup suara tasbih menggema dari balik rimbun pepohonan Kampung Semangit, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Malam itu, 16 Agustus 2024, udara lembap perbatasan terasa lebih berat. Dari garis depan negeri, justru gelap yang lebih pekat menyelimuti. Pemadaman listrik bergilir kembali terjadi, tepat bertepatan dengan malam puncak peringatan HUT ke-81 RI. Di sepanjang jalan lintas batas, hanya segelintir lampu darurat dan lilin yang menerangi raut wajah warga yang masih setia menanti kemerdekaan yang sesungguhnya: listrik yang stabil.
Gelap di Ujung Negeri, Semangat di Relung Hati
Di tengah gulita, pemuda-pemuda Kampung Semangit tak kehilangan semangat. Mereka bergotong royong memasang umbul-umbul merah putih di depan rumah-rumah panggung yang berjejer tak jauh dari pos pemeriksaan lintas batas. Tanpa penerangan dari negara, mereka mengandalkan aki motor dan lampu senter untuk menerangi gapura darurat. Langkah mereka pelan namun pasti, menapaki tanah becek yang basah oleh gerimis sore tadi. Di sudut kampung, beberapa ibu mulai mengumpulkan anak-anak di satu rumah. Dengan cahaya obor seadanya, mereka mendongengkan kisah perjuangan para pahlawan—cerita yang hidup meski tanpa arus listrik.
Ade, tokoh pemuda setempat, menyuarakan kegundahan yang dirasakan banyak warga. "Kami tidak ingin kemewahan, hanya butuh listrik yang stabil. Negara hadir di sini, tapi malam ini kami seperti kembali ke masa lalu," ujarnya lirih di sela suara genset kedaluwarsa milik tetangga. Kondisi ini membuat denyut ekonomi warga perbatasan tersendat:
- Warung-warung di sepanjang jalan lintas batas terpaksa tutup lebih awal karena tak bisa berjualan
- Aktivitas pengepakan hasil bumi—kopi, karet, dan madu—terhenti, mengancam penghasilan harian
- Anak-anak terpaksa belajar dengan lampu darurat atau obor, menyisakan kekhawatiran akan kualitas pendidikan di wilayah terdepan
Harapan di Tengah Padam: Entikong dan Potret Ironi Garis Depan
Namun di balik semua keterbatasan, semangat nasionalisme tetap membara. Mereka bertekad merayakan HUT RI besok pagi—walau tanpa penerangan yang layak, dengan upacara sederhana di lapangan tanah lapang. Entikong, perbatasan yang menjadi gerbang berdaulat, malam ini adalah potret ironi: merdeka dalam jiwa, namun terpadam dalam cahaya. Ribuan warga garis depan hanya menginginkan satu bukti nyata kehadiran negara: listrik yang tak padam saat mereka membutuhkannya.
Di ujung negeri, di mana bendera merah putih berkibar di antara rimbun hutan dan batas negara, warga perbatasan Entikong terus berharap. Mereka adalah penjaga kedaulatan yang setia, namun kerap dilupakan dalam gemerlap pembangunan. Padamnya listrik di malam HUT ke-81 RI bukan sekadar kegelapan fisik, melainkan isyarat perih: masih ada saudara kita di perbatasan yang menanti kehadiran negara dalam bentuk paling dasar—cahaya. Semoga, di tahun-tahun mendatang, mereka tak lagi merayakan kemerdekaan dalam gelap.