Di Desa Temajuk, titik paling barat perbatasan Kalbar–Malaysia, langit senja mulai merambat merah di sela dedaunan pohon beringin raksasa. Puluhan warga duduk di atas tikar anyaman di bawahnya, sementara spanduk putih bertuliskan 'Beri Kami Pasar, Bukan Hanya Pos Jaga' berkibar pelan diterpa angin perbatasan yang lembap. Dari ketinggian imaji, deretan pos PAM TNI dan Polisi berlapis beton tampak berjejer rapi di sepanjang garis batas—namun tak satu pun kios resmi atau pasar rakyat yang terlihat. Warga lalu-lalang berjalan kaki, memanggul hasil kebun seperti pisang dan kelapa sawit menuju perlintasan ilegal ke Malaysia. Suara azan Magrib bergema dari masjid kayu di ujung kampung, bersahutan dengan lolong kucing hutan dari balik rimbunnya hutan perbatasan. Atmosfer garis depan terasa pekat: rapuhnya denyut ekonomi di tengah ketatnya penjagaan keamanan. Inilah potret nyata di ujung negeri, di mana aspirasi warga tentang pasar rakyat masih menjadi mimpi yang belum terwujud.
Potret Garis Depan: Pos Berjajar, Rakyat Menanti Pasar
Ahmad (45), petani sawit asal Temajuk, berdiri di pinggir jalan dengan gundah. Di depannya, setumpuk buah kelapa sawit segar mulai membusuk karena tak ada tempat penyimpanan ataupun pasar resmi untuk menjualnya. 'Kami butuh pasar rakyat, bukan hanya pos pam. Saya terpaksa jalan 10 kilometer ke pasar di Malaysia untuk menjual hasil kebun. Kalau sudah busuk, kami rugi besar,' ujarnya lirih. Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) setempat menambahkan, surat aspirasi sudah siap dikirim ke Bupati. Mereka merinci deret kebutuhan mendesak yang menjadi denyut nadi ekonomi perbatasan kalbar:
- Pasar rakyat resmi di sekitar desa, agar warga tak lagi bergantung pada perlintasan ilegal lintas batas.
- Kios bantuan untuk menyimpan dan mengolah hasil pertanian agar tak cepat busuk.
- Jalan akses yang layak antara Temajuk dengan pusat kecamatan, bukan hanya ruas untuk patroli keamanan.
- Pendampingan ekonomi dari pemerintah daerah, bukan sekadar pos pengamanan.
Langit senja semakin merah menyelimuti deretan pos pam. Di seberang, cahaya neon lampu pasar Malaysia mulai gemerlap—sementara warga Temajuk hanya bisa menatap dari kejauhan, dengan buah sawit yang masih teronggok di pinggir jalan. Sebagian warga berdiri di tepi jalan, menunjuk ke arah lampu-lampu itu sambil menghela napas panjang. Pemandangan ini menjadi simbol ironi: negara hadir dengan pagar kawat berduri, tetapi belum hadir dalam bentuk pasar yang menyejahterakan.
Aspirasi Garis Depan: Pasar Rakyat sebagai Simbol Kedaulatan Ekonomi
'Kami sadar keamanan penting. Tapi kami juga ingin merasakan Indonesia benar-benar hadir di sini melalui pasar yang layak,' ujar Kepala Adat Temajuk. Menurutnya, kedaulatan ekonomi justru menjadi perisai paling kuat di perbatasan kalbar. 'Kalau rakyat sejahtera, mereka tak akan tergoda melintas batas.' Suara ini merekam aspirasi mendalam dari warga: bukan sekadar meminta, tetapi menuntut agar perbatasan kalbar bukan hanya garis pertahanan, melainkan pusat denyut nadi ekonomi bangsa. Mereka ingin hasil bumi sendiri bisa dijual dengan harga wajar di negeri sendiri, bukan lagi mengadu nasib ke pasar negara tetangga. Setiap kali petani harus menjual di luar negeri, itu adalah kerugian bagi semangat nasionalisme dari garis depan.
Di bawah pohon beringin yang menjadi saksi bisu, spanduk itu tetap terpasang tegak. Beberapa warga masih duduk bergerombol, membahas surat yang akan dikirim ke kabupaten. Sementara itu, lampu-lampu pos pam mulai menyala satu per satu, menerangi garis batas yang sunyi. Namun di balik tembok beton itu, ada denyut harapan yang tak kunjung padam: bahwa suatu hari nanti, pasar rakyat akan berdiri di tanah sendiri, menjadi simbol nyata kehadiran negara—bukan sekadar penjaga batas, tetapi juga penjaga kesejahteraan warganya di ujung negeri. Inilah suara dari garis depan, yang patut kita dengar dan kita jawab dengan kebijakan yang berpihak pada rakyat.