Malam turun cepat di Desa Binalawan, Pulau Sebatik bagian utara. Jalan setapak dari tanah merah yang menghubungkan rumah-rumah panggung warga langsung diselimuti gulita begitu matahari tenggelam di balik Bukit Senyur. Hanya dua dari lima tiang lampu penerangan umum yang masih berpendar lemah — sisanya mati, atau hanya menjadi ornamen besi yang membisu. Di antara celah kegelapan itu, suara jangkrik dan kodok bergantian memecah keheningan garis batas. Warga enggan melangkah keluar rumah setelah pukul 19.00 WITA; mereka lebih memilih berdiam di teras atau di dalam kamar dengan lampu minyak dan senter ponsel sebagai satu-satunya penerang. Kondisi ini menjadi pemandangan sehari-hari di wilayah yang hanya berjarak puluhan meter dari bendera negara tetangga.
Potret Gelap di Ujung Negeri: Jalan Setapak yang Menelan Rasa Aman
Di depan rumah panggung Pak Markus (52), garis batas Indonesia-Malaysia hanya berjarak 50 meter. Keheningan malam hanya dipecahkan oleh deru nelayan yang pulang melaut dan suara anak-anak yang berjalan hati-hati menuju rumah. Pak Markus, nelayan yang sudah puluhan tahun hidup di perbatasan Sebatik, mengungkapkan kekhawatirannya saat anaknya pulang dari sekolah malam. “Jalanan gelap, banyak lubang. Kalau tidak hati-hati bisa jatuh ke selokan. Kami butuh lampu jalan yang lebih banyak agar anak-anak bisa belajar dengan tenang dan kami punya rasa aman,” katanya sambil menunjuk ke arah timur, tempat remang-remang lampu pos Malaysia bersinar. Kondisi ini bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan persoalan keselamatan dan hak dasar warga negara di ujung negeri.
- Fakta di Lapangan: Dari lima titik penerangan jalan yang direncanakan di jalan utama Desa Binalawan, hanya dua yang berfungsi optimal — itupun redup dan sering mati karena tidak ada perawatan rutin.
- Dampak bagi Warga: Anak-anak dan remaja enggan bersekolah malam atau mengaji di surau karena gelap; sebagian memilih belajar di kamar tidur dengan penerangan gadget yang rentan mengganggu kesehatan mata.
- Perbandingan Garis Batas: Pos Indonesia di kejauhan hanya tampak sebagai titik cahaya kecil, sementara pos Malaysia yang lebih terang nyaris bisa dihitung dari Desa Binalawan — menimbulkan kesenjangan visual yang tajam di malam hari.
Suara dari Teras Rumah Panggung: Harapan di Tengah Remang-remang
Di depan rumah Pak Markus, sekelompok remaja duduk di teras rumah panggung yang diterangi layar telepon genggam. Rina (17) siswa SMA yang setiap hari bersepeda pulang pergi, mengaku bulan baru adalah momok bagi mereka. “Percuma ada pos perbatasan bagus kalau jalan warga gelap-gelapan. Yang penting lampu-lampu itu Pak, biar kami bisa lihat tetangga dan perbatasan dengan jelas,” ujarnya lirih sambil memandang remang-remang lampu dari pos Indonesia di kejauhan. Ia menambahkan bahwa sering kali mereka harus mengintari lubang-lubang besar di jalan yang tidak terlihat karena gelap. Infrastruktur penerangan jalan yang memadai bukan sekadar fasilitas, tetapi menjadi simbol kehadiran negara di ujung terluar NKRI.
Warga di Sebatik bagian utara sudah bertahun-tahun bersabar dengan keterbatasan ini. Mereka tidak meminta kemewahan — cukup lampu yang menyala agar anak-anak bisa berjalan tanpa rasa takut, agar nelayan bisa melihat tetangga saat pulang, dan agar rasa aman di perbatasan tidak hanya menjadi slogan. Di balik kegelapan itu, ada semangat yang tak padam: warga tetap menjaga garis batas dengan keyakinan bahwa negara hadir dalam setiap lampu yang akan menyala.