Di bawah rindangnya pohon kelapa yang melambai pelan oleh angin Selat Makassar, sekelompok nelayan duduk melingkar di tepi pasir putih Pulau Sebatik, Kalimantan Utara. Tatapan mereka kosong menembus birunya laut yang memisahkan Indonesia dengan Malaysia. Di sini, di ujung negeri, waktu seolah berhenti saat matahari bersinar terik. Seorang bapak berusia 50 tahun, Saman, membuka suara dengan nada parau khas lelah seorang penjaga batas. “Listrik hanya menyala dari pukul 18.00 hingga 06.00. Siang hari, kami gelap gulita. Anak-anak terpaksa belajar dengan lampu sentir karena tidak ada penerangan,” ujarnya sambil menunjuk ke arah gubuk kayu tempat cucu-cucunya bergelut dengan buku pelajaran. Udara asin bercampur bau bahan bakar lampu minyak tanah menjadi aroma sehari-hari di kampung ini.
Potret Kegelapan di Siang Bolong
Kondisi infrastruktur kelistrikan di Pulau Sebatik sungguh memprihatinkan. Warga hanya menikmati aliran listrik selama 12 jam setiap malam. Padahal, pulau ini berada di garis depan perbatasan yang seharusnya menjadi etalase negara. Berikut fakta lapangan yang terekam dalam laporan warga:
- PLN hanya memasok listrik dari pukul 18.00 hingga 06.00 WITA.
- Pada siang hari, kegiatan ekonomi lumpuh: nelayan tidak bisa menyalakan pompa air, ibu-ibu tidak bisa menyalakan kulkas untuk menyimpan ikan, dan anak-anak kehilangan waktu belajar yang optimal.
- Satu-satunya sumber penerangan siang adalah lampu sentir — lampu minyak tanah buatan sendiri yang hanya mampu memancarkan cahaya redup.
- Generator pribadi milik beberapa warga pun terpaksa dimatikan karena harga BBM di perbatasan yang melambung tinggi.
Di sebuah bilik tanpa jendela, seorang anak bernama Andi (10 tahun) terlihat mengerjakan PR dengan posisi meringkuk di dekat lampu sentir. Matanya berkedip menahan asap minyak tanah yang menguar. “Kami ingin listrik 24 jam, bukan hanya siang. Biar Andi bisa belajar seperti anak-anak di kota,” desah ibu Andi, Mariana, dengan mata berkaca-kaca.
Aspirasi yang Membara di Ujung Negeri
Hari ini, perwakilan warga Pulau Sebatik akhirnya menemui anggota DPRD Kalimantan Utara di gedung wakil rakyat. Mereka membawa suara getir dari garis depan. Saman yang menjadi juru bicara kelompoknya menyampaikan dengan lantang: “Kami tidak meminta kemewahan, hanya keadilan dasar berupa listrik 24 jam. Janji pembangunan pembangkit listrik tenaga surya sudah lama bergema, tapi sampai sekarang hanya tinggal wacana.” Warga juga menuntut adanya akselerasi proyek energi terbarukan yang sejalan dengan potensi sinar matahari melimpah di daerah tropis. “Kami lihat dari seberang sana, Malaysia sudah terang benderang. Kenapa kami masih gelap?” tambah Saman dengan suara yang mulai pecah.
DPRD berjanji akan mendorong Kementerian ESDM dan PLN untuk merealisasikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Pulau Sebatik. Namun, warga tetap resah — tekad mereka hanya akan padam jika lampu benar-benar menyala sepanjang hari. Aspirasi ini bukan hanya masalah listrik; ia adalah simbol martabat Indonesia di perbatasan. Warga Sebatik merasa diabaikan di tanah air sendiri, sementara negara tetangga terus menancapkan modernisasi hingga ke desa-desa terpencil.
Di ujung siang yang mulai meredup, kami meninggalkan Pulau Sebatik dengan embusan angin yang membawa semangat juang para penduduknya. Mereka tidak menyerah pada gelap; mereka terus berteriak agar negara mendengar. Pulau Sebatik bukan sekadar nama di peta, melainkan denyut nadi Indonesia yang harus dijaga. Listrik 24 jam bukanlah impian yang tak mungkin — ia wujud nyata dari keadilan bagi setiap warga negara di garis depan. Semoga suara mereka tidak menjadi jeritan di padang tandus, melainkan percikan api yang membangunkan pemerintah untuk segera bertindak. Karena saat lampu di perbatasan menyala terang, di situlah rasa kebangsaan kita benar-benar hidup.