Sungai Batas Bukan Penghalang: Anak-anak Perbatasan Jagoi Nyehil Tetap Sekolah Walau Harus Susur Arus
15 Agustus 2026
6 views
Belum juga pukul 6 pagi, beberapa anak-anak di Dusun Sei Damai, Desa Jagoi Nyehil, Bengkayang, Kalimantan Barat, sudah berkumpul di tepi Sungai Bantanan. Mereka mengenakan seragam yang sudah kusam dan berharap rakit bambu segera datang. Setiap hari, sekitar 20 siswa harus menyeberangi sungai yang juga menjadi batas alam antara Indonesia dan Malaysia. Ketika hujan deras, arus sungai bisa sangat deras, membuat rakit goyah, tetapi impian untuk sekolah tetap membara.
Sesampainya di seberang, mereka harus berjalan kaki lagi sejauh 2 kilometer untuk mencapai SDN 01 Jagoi Nyehil. Ruth, 10 tahun, salah satu siswi, bercerita sambil menyandang tas rafia berisi buku dan bekal. "Kami sering terlambat kalau rakitnya rusak. Tapi di sini memang begitu, harus sabar." Ucapannya diselingi tawa ceria. Menyaksikan mereka, kita jadi mengerti bahwa semangat anak-anak di daerah perbatasan begitu kuat.
Pihak sekolah sebenarnya sudah mengusulkan pembangunan jembatan gantung kepada pemerintah desa, namun hingga hari ini belum ada realisasi. Sementara itu, kebersamaan antar warga menjadi kekuatan. Orang tua bergiliran menjaga rakit. Kepala Desa Stephanus menuturkan, "Kami tidak ingin birokrasi membuat anak-anak kami tertinggal. Jika perlu, kami gotong royong membuat rakit seadanya." Di bawah derasnya arus sungai batas, semangat kecil-kecil itu tidak pernah tenggelam. Mereka tahu, di belakang sungai itu ada masa depan Indonesia yang harus diperjuangkan.
pendidikanperbatasananak-anak
Entitas terkait
Tokoh: Ruth, Stephanus
Organisasi: SDN 01 Jagoi Nyehil
Lokasi: Dusun Sei Damai, Desa Jagoi Nyehil, Bengkayang, Kalimantan Barat, Sungai Bantanan, Indonesia, Malaysia