Semak belukar yang rapat dan lereng bukit terjal menjadi saksi bisu perjuangan tim gabungan BNPP, TNI, Polri, dan instansi terkait saat menyusuri kawasan sekitar PLBN Motaain, Belu. Dengan GPS di genggaman dan peta lipat di tas ransel, mereka mendokumentasikan setiap celah alam yang selama ini menjadi jalur tikus—27 titik perlintasan tidak resmi yang membelah garis imajiner antara Indonesia dan Timor Leste. Beberapa jalur hanya selebar badan manusia, terbentuk alami dari jejak kaki warga yang mencari jalan pintas untuk berdagang, mengunjungi keluarga, atau sekadar mempersingkat waktu tempuh di tengah keterbatasan akses resmi. Di balik rimbunnya pepohonan mahoni dan tebing curam yang hanya bisa dirayap, terhampar realitas pahit: perbatasan yang seharusnya menjadi beranda depan negeri, masih menyisakan celah-celah kerentanan yang membahayakan kedaulatan.
Potret 'Jalur Tikus' di Garis Tapal Batas: Antara Kebutuhan Ekonomi dan Ancaman Keamanan
Setiap titik yang terdata memiliki ciri khas medan yang berbeda-beda, mencerminkan adaptasi warga terhadap kondisi geografis yang menantang:
- Ada yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon mahoni, hanya bisa dikenali dari jejak tanah yang terinjak – jalur ini sering digunakan pada malam hari untuk menghindari patroli.
- Ada pula yang menelusuri tebing curam selebar satu meter, mengharuskan pengguna untuk merayap dan berpegangan pada akar pohon; risiko jatuh dan cedera menjadi taruhan sehari-hari.
- Tak sedikit jalur yang berada di dekat pemukiman warga, membuatnya sulit diawasi secara menyeluruh oleh petugas – anak-anak pun kerap melintas tanpa pengawasan.
Tim survei mencatat bahwa sebagian besar perlintasan tidak resmi ini digunakan untuk aktivitas ekonomi informal—seperti jual beli hasil bumi atau barang kebutuhan pokok—yang sebenarnya bisa difasilitasi melalui pos lintas batas resmi. Namun, jarak tempuh yang jauh dan waktu tunggu yang lama di PLBN seringkali membuat warga memilih jalan alternatif berisiko. "Kami tahu itu berbahaya, tapi kalau harus antre berjam-jam di pos resmi, hasil dagangan kami bisa busuk," ujar seorang pedagang rumahan di kawasan Kecamatan Tasifeto Barat, Belu, yang enggan disebut namanya. Suara dari garis depan ini menjadi cermin ironis: di satu sisi negara ingin memperkuat pengawasan perbatasan, di sisi lain warga masih bergulat dengan kebutuhan dasar yang belum terakomodasi.
Penguatan PLBN Motaain: Mengubah Jalur Tikus Menjadi Beranda Depan yang Sejahtera
Anggota Komisi II DPR RI, Ahmad Heryawan (Aher), menilai temuan survei ini adalah peta kerawanan yang vital bagi kedaulatan negara. "Keberadaan PLBN seperti Motaain harus terus diperkuat agar mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi sekaligus pintu gerbang hubungan yang baik antara Indonesia dan Timor Leste," ujarnya saat memimpin rapat koordinasi di lapangan. Visi Aher jelas: mengubah perbatasan dari sekadar garis pengawasan menjadi beranda depan yang aman, sejahtera, dan membanggakan. Menurutnya, setiap jalur tikus yang teridentifikasi bukan hanya soal pengawasan, melainkan juga soal bagaimana negara hadir menjawab kebutuhan ekonomi warga. Dengan penguatan infrastruktur, layanan, dan akses di PLBN Motaain, diharapkan celah-celah kerentanan ini bisa ditutup, dan warga perbatasan tak lagi bergantung pada perlintasan tidak resmi.
Di ujung negeri, di mana burung-burung cendrawasih terbang melintasi batas negara, semangat nasionalisme justru terpatri dari ketangguhan warga yang setiap hari memperjuangkan hidup di antara semak dan tebing. Jalur-jalur tikus yang membelah batas ini bukan sekadar catatan statistik; ia adalah suara sunyi dari saudara-saudara kita yang menanti kehadiran negara secara lebih nyata. Sudah saatnya setiap langkah di garis depan bukan lagi tentang celah keamanan, melainkan tentang optimisme dan kesejahteraan yang merata—dari Sabang hingga Motaain, dari Merauke hingga ke garda terdepan NKRI.