Tanah berdebu di Kampung Muliama, Distrik Muliama, Jayawijaya, masih menyisakan bau mesiu dan tangis yang tak kunjung reda. Di tepi jalan setapak yang biasa dilalui petani menuju ladang, tiga orang aparatur sipil negara (ASN) dari Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya meregang nyawa. Kamera Lensa-Teritorial menangkap bayangan mayat yang terbaring di pinggir jalan, dengan seragam dinas yang masih tampak rapi — sebuah ironi memilukan di ujung negeri yang seharusnya menjadi lumbung pangan. Langit kelabu pegunungan Papua seakan turut berduka, menyaksikan para pelayan publik yang setiap hari berjalan berjam-jam menyusuri jalan tanah dan berbatu untuk memberikan penyuluhan pertanian kepada masyarakat lokal, kini menjadi korban penembakan brutal pada 9 September lalu. Mereka bukan tentara, bukan polisi — mereka adalah warga sipil yang tak bersenjata, yang hanya membawa bibit dan pengetahuan tentang cara bercocok tanam dan beternak.
Laporan dari Garis Depan Pelayanan Pertanian
Ketiga korban tewas setelah mobil dinas mereka dihadang di tengah perjalanan menuju kampung terpencil. Para pelaku memisahkan penumpang, lalu menembak ketiga ASN yang tak pernah dilatih untuk bertempur. Komnas HAM dalam pernyataan resminya menegaskan dengan tegas: status sebagai ASN tidak menghilangkan hak mereka sebagai warga sipil yang harus dilindungi dalam kondisi apa pun. "Tidak ada pembenaran untuk merampas nyawa warga sipil, siapapun mereka," demikian pernyataan resmi lembaga tersebut. Suara warga setempat bergemuruh; mereka kehilangan tiga orang yang setiap hari hadir membantu mereka bercocok tanam dan merawat hewan ternak. Seorang petani di Kampung Muliama, yang enggan disebut namanya, berkata dengan mata berkaca-kaca: "Mereka adalah guru kami di ladang. Sekarang siapa yang akan mengajari kami cara menanam sayur yang benar?"
Fakta Lapangan dari Lokasi Kejadian
- Kondisi Infrastruktur: Jalan setapak yang menghubungkan Kampung Muliama ke distrik lain masih berupa tanah dan bebatuan, sulit dilalui kendaraan saat hujan. Infrastruktur yang minim membuat mobilitas warga dan pelayanan publik terhambat, sekaligus memudahkan pihak bersenjata melakukan aksinya di medan terpencil.
- Suara Warga: Masyarakat setempat menyatakan rasa takut dan kehilangan. Mereka kehilangan tiga ASN yang setiap hari hadir membantu mereka dalam sektor pertanian — sebuah pukulan bagi ekonomi dan semangat warga di perbatasan. Banyak yang kini enggan melanjutkan perjalanan ke ladang karena trauma.
- Kondisi Geografis: Kampung Muliama berada di ketinggian pegunungan, dikelilingi hutan lebat dan lembah yang curam. Jarak dari pusat kota Jayawijaya hanya sekitar 40 kilometer, namun medan yang berat membuatnya terasa jauh dari jangkauan perlindungan. Hawa dingin pegunungan seakan membekukan harapan akan keadilan.
Dalam video call yang beredar di media sosial, dua anggota kelompok bersenjata berinisial PN dan KT terlihat berkomunikasi dengan keluarga korban. Ekspresi dingin mereka beradu dengan tangis dan panik pihak keluarga — sebuah potret kekerasan yang tak berperikemanusiaan di tanah yang seharusnya menjadi rumah bagi perdamaian. Peristiwa penembakan ini bukan sekadar serangan terhadap individu, melainkan pukulan terhadap upaya pembangunan dan kesejahteraan di wilayah perbatasan.
Di balik kabut pegunungan dan sunyinya kampung, semangat warga tetap menyala. Namun, tragedi ini mengingatkan kita bahwa di ujung negeri, petugas pelayanan publik berjalan di atas garis tipis antara pengabdian dan bahaya. Sudah saatnya negara hadir lebih nyata — bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan perlindungan nyata bagi setiap warga sipil yang berjuang di garis depan. Lensa-Teritorial akan terus memotret realitas pahit ini, karena setiap nyawa yang hilang adalah cerita yang tak boleh dilupakan.