SUARA PERBATASAN

Tinggal 4 Jam Sehari, Warga Perbatasan Kaltara Gelapkan Rumah dengan Lampu Minyak

Tinggal 4 Jam Sehari, Warga Perbatasan Kaltara Gelapkan Rumah dengan Lampu Minyak

Warga perbatasan Kalimantan Utara hanya menikmati listrik empat jam sehari, memaksa mereka mengandalkan lampu minyak dan kayu bakar untuk kehidupan sehari-hari. Keterbatasan listrik di Kaltara ini kontras dengan terangnya lampu di negara tetangga, menyimpan luka dan harapan. Diperlukan perhatian pemerintah untuk mewujudkan keadilan energi bagi warga di garis depan Indonesia.

Matahari perlahan tenggelam di balik bukit-bukit hijau di perbatasan Kalimantan Utara (Kaltara), meninggalkan senja jingga yang segera berubah menjadi pekat. Di desa-desa terpencil seperti Long Midang dan Krayan, bukan lampu listrik yang menerangi rumah-rumah warga, melainkan nyala redup lampu minyak tembok. Asap hitam mengepul dari sumbu yang dibakar, mengisi ruangan dengan bau khas minyak tanah yang menyengat. Anak-anak duduk melingkar di lantai papan, buku pelajaran terbuka di pangkuan, mata mereka berjuang menatap huruf-huruf dalam cahaya temaram. Di luar, ibu-ibu sibuk membereskan tungku kayu bakar sebelum gelap benar tiba. Kehidupan sehari-hari di garis depan ini adalah perjuangan melawan kegelapan, di mana listrik hanya hadir empat jam sehari — dan itupun dengan voltase yang tak stabil. Keterbatasan ini menjadi potret nyata perjuangan warga di ujung negeri.

Empat Jam Cahaya: Potret Keterbatasan Listrik di Perbatasan

Di sudut ruangan, generator diesel kecil milik desa mulai menderu, menandai dimulainya jatah listrik singkat yang dinanti-nanti. Namun, suara deru mesin itu tak bertahan lama — setelah pukul enam sore, generator dimatikan untuk menghemat solar yang mahal. Warga hanya bisa menikmati aliran listrik dari PLN selama empat jam, itupun dengan tegangan yang sering turun drastis, tidak cukup untuk menyalakan kulkas, televisi, atau bahkan mengisi daya ponsel. Kondisi ini memaksa mereka merancang ulang ritme kehidupan sehari-hari:

  • Penerangan malam: Lampu minyak tembok menjadi andalan utama. Satu liter minyak tanah harus dihemat untuk beberapa malam, sementara asap hitamnya menyebabkan dinding rumah menghitam dan mengganggu pernapasan.
  • Aktivitas anak-anak: Belajar di bawah cahaya lentera atau lampu minyak. Banyak anak mengeluh mata perih, namun tak ada pilihan lain karena pekan depan mereka harus menghadapi ulangan.
  • Memasak: Kayu bakar dikumpulkan dari hutan sekitar. Ibu-ibu harus menyelesaikan masak sebelum gelap, karena jika terlambat, mereka harus meraba dalam gelap atau menyalakan lampu minyak yang merepotkan.
  • Komunikasi: Ponsel hanya diisi daya saat generator menyala. Untuk mengirim pesan atau mencari informasi, warga harus menunggu jadwal listrik yang ketat.

Pak Joni, seorang petani kopi di Krayan, bercerita dengan suara lirih, "Setiap habis magrib, kampung jadi sunyi sekali. Kami hanya dengar suara jangkrik dan angin. Anak-anak kadang harus tidur lebih awal karena tak ada penerangan. Ini sudah berlangsung bertahun-tahun." Suaranya menggambarkan kelelahan yang mendalam, namun juga ketangguhan yang tak pernah padam.

Kontras di Tapal Batas: Cahaya Malaysia vs Gelapnya Negeri Sendiri

Dari bukit-bukit di Krayan, pandangan warga tertuju ke seberang perbatasan — ke negara bagian Sabah, Malaysia. Di sana, lampu jalan dan lampu rumah-rumah warga berkelap-kelip terang benderang. Kontras ini bagaikan tamparan yang menyisakan pertanyaan dalam hati warga: mengapa di tanah sendiri mereka harus hidup dalam kegelapan? Aktivitas malam di sana tampak normal, sementara di sisi Indonesia, keterbatasan listrik menjadi teman sehari-hari yang tak bisa dihindari. Ketimpangan ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga harga diri sebuah bangsa di garis depan.

Hingga kini, warga perbatasan Kaltara terus bertahan dengan segala keterbatasan. Mereka adalah garda terdepan yang menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, namun sering dilupakan dalam arus pembangunan. Kehadiran negara yang lebih nyata — dalam bentuk pasokan listrik yang stabil, jalan yang layak, dan fasilitas publik yang memadai — bukan sekadar kebutuhan, melainkan wujud kehadiran negara di setiap sudut tanah air. Di ujung negeri, di antara gemerisik hutan dan desau angin, ada detak jantung bangsa yang tetap berharap: bahwa terang akan segera hadir di rumah-rumah mereka, dan tidak ada lagi anak yang mengeluh matanya perih karena berjuang membaca dalam gelap. Sudah saatnya kita menatap garis depan dengan kepedulian, karena di sanalah harga diri bangsa dipertaruhkan.

krisis listrik kehidupan warga perbatasan perbandingan dengan Malaysia
Organisasi: PLN
Lokasi: Kalimantan Utara, Krayan, Malaysia

Artikel terkait