NASIONALISM

Titik Nol Kilometer di Miangas: Dari Mercusuar Tua hingga Cita-cita Generasi Muda Penjaga Laut

Titik Nol Kilometer di Miangas: Dari Mercusuar Tua hingga Cita-cita Generasi Muda Penjaga Laut
Mercusuar peninggalan Belanda itu masih berdiri kokoh di tanjung kecil Pulau Miangas, Sulawesi Utara. Cat putihnya sudah mengelupas di beberapa bagian, menampakkan bata merah tua. Dari puncaknya, pandangan mata bisa menjangkau hamparan laut biru tanpa batas—ke utara adalah perairan Filipina, sementara ke selatan adalah tanah air Indonesia. Di bawahnya, seorang remaja bernama Rizal (17) duduk di atas batu karang, matanya tertuju ke horizon. Ia adalah salah satu siswa SMA yang bercita-cita masuk Akademi Angkatan Laut. Setiap sore, ia dan teman-temannya berlatih renang di perairan lepas pantai, mengarungi ombak yang terkadang menggulung tinggi. Kehidupan di pulau seluas sekitar 3 kilometer persegi ini sederhana namun penuh makna. Rumah-rumah panggung kayu dengan atap seng berjajar di sepanjang jalan utama. Listrik hanya menyala dari jam 6 sore hingga 12 malam, berasal dari genset diesel yang suaranya menggelegar di keheningan malam. Namun, di balik keterbatasan, semangat menjaga kedaulatan terpancar kuat. Upacara bendera setiap Senin pagi di lapangan sederhana selalu dipenuhi warga dengan khidmat. Sang Saka Merah Putih berkibar gagah diterpa angin laut, dengan latar belakang mercusuar bersejarah dan dentuman ombak. Generasi muda Miangas tumbuh dengan kesadaran bahwa mereka hidup di ujung terdepan NKRI. Mereka adalah penjaga Titik Nol Kilometer yang sesungguhnya. Setiap kali kapal perintis KMP atau kapal TNI AL merapat ke dermaga kayu sederhana, sorak-sorai kegembiraan menyambut kedatangan mereka. Bukan hanya karena membawa pasokan bahan pokok, tapi juga sebagai pengingat bahwa mereka tidak sendirian. Mereka adalah simbol nasionalisme hidup, yang dengan gigih mempertahankan identitas Indonesia di tengah gelombang globalisasi dan dinamika geopolitik regional.

Artikel terkait