SUARA PERBATASAN

TNI AD Dirikan Pos Kesehatan Keliling di Entikong, Warga Antus Berobat

TNI AD Dirikan Pos Kesehatan Keliling di Entikong, Warga Antus Berobat

Pos kesehatan keliling yang didirikan TNI AD di Entikong, perbatasan Kalbar, menjadi titik terang bagi warga yang kesulitan akses medis. Dengan fasilitas obat generik dan USG sederhana, 150 pasien berobat setiap hari, mayoritas menderita maag dan hipertensi akibat medan berat dan pola makan terbatas. Kehadiran TNI AD di garis depan ini membuktikan negara hadir dan peduli pada kehidupan warga di ujung negeri.

Matahari pagi mulai menyinari lapangan upacara di Pos Lintas Batas Negara Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Sejak pukul 07.00 WIB, antrean warga sudah mengular di bawah tenda hijau tentara. Di dalamnya, seorang perwira kesehatan TNI AD memeriksa tekanan darah seorang nenek bernama Inah (67 tahun). Tangannya gemetar saat menggenggam tensimeter, sementara anak cucunya menunggu di luar. “Sudah seminggu ini kepala pusing, terasa berat. Biayasanya berobat ke Puskesmas harus jalan kaki 3 jam, maklum jalan licin,” ujarnya lirih. Suasana pagi itu langsung mengajak pembaca merasakan denyut kehidupan di garis depan perbatasan Kalbar.

Potret Kesehatan di Ujung Negeri

Pos kesehatan keliling yang didirikan TNI AD di Entikong ini menjadi titik terang bagi warga perbatasan yang selama ini kesulitan mengakses layanan medis. Tenda hijau itu dilengkapi obat-obatan generik, vitamin, dan alat USG sederhana. Warga datang dari berbagai pelosok, menempuh jalan licin dan berbatu untuk bisa berobat gratis. Inah, yang tinggal di Dusun Senaning, mengaku harus berjalan kaki selama tiga jam jika ingin ke Puskesmas. “Jalan setapak, kadang becek. Kalau hujan, tambah susah,” tambahnya. Keluhan serupa juga disampaikan warga lain yang mengantre di tenda.

  • Jarak tempuh ke Puskesmas terdekat: 3 jam jalan kaki dengan medan licin dan berbatu
  • Fasilitas pos kesehatan: obat generik, vitamin, dan alat USG sederhana
  • Jumlah pasien dalam sehari: 150 orang, mayoritas keluhan maag dan hipertensi

Dedikasi TNI AD di Garis Depan

Babinsa setempat, Serka Rahmat Widiodo, sibuk mencatat data warga di buku lus. “Ada 150 pasen hari ini. Keluhan paling banyk sakit maag dan hipertensi. Jalan kaki jauh dan pola makan terbatas,” katanya sambil merapikan obat. TNI AD tidak hanya menjaga kedaulatan, tetapi juga hadir sebagai pelayan rakyat di perbatasan. Di samping tenda, anak-anak sekolah berkerumun, menagungkan bendera merah putih kecil dari bambu. Asap dapur lapangan mengepul tipis, aroma mi instan dan air tebu menyeruak. Seorang pemuda memotret kegiatan pos dengan ponsel—foto yang besok akan dijadikan laporan jurnal warga. Perbatasan bukan hanya soal garis di peta, tetapi juga denyut kehidupan yang terus dipotret oleh mereka yang berkhidmat.

Dalam setiap langkah kecil di tanah perbatasan, TNI AD hadir bukan hanya sebagai penjaga kedaulatan, tetapi juga sebagai pelayan rakyat. Di Entikong, pos kesehatan keliling ini menjadi bukti nyata bahwa negara hadir di ujung negeri. Warga yang semula terbatas akses kesehatannya kini bisa tersenyum lega. Semangat nasionalisme dan kepedulian terhadap sesama terpatri kuat di balik tenda hijau itu. Ini adalah potret garis depan yang layak kita dukung dan lestarikan, demi Indonesia yang lebih merata dari Sabang sampai Merauke.

Pos Kesehatan Keliling TNI AD Pelayanan Kesehatan Perbatasan
Tokoh: Inah, Serka Rahmat Widiodo
Organisasi: TNI AD
Lokasi: Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Pos Lintas Batas Negara Entikong

Artikel terkait