Matahari sore mulai merambat di ufuk barat saat kami tiba di Desa Aruk, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Di bawah pohon rindang tak jauh dari Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk, sekelompok ibu-ibu duduk bersila, mengawasi anak-anak mereka yang berlarian di jalan tanah berdebu. Debu beterbangan setiap kali langkah kecil mendarat, meninggalkan jejak kepolosan di tengah keterbatasan. Dari kejauhan, terlihat tiang-tiang listrik menjulang, namun kabelnya belum menjangkau rumah-rumah panggung kayu. Di sini, perbatasan bukan sekadar garis administratif, melainkan ironi yang terang: di seberang, Serikin, Malaysia, sudah berpendar lampu kota, sementara di Aruk, malam ditelan lilin dan lampu minyak tanah.
Potret Garis Depan: Debu, Lumpur, dan Lilin
Rabu sore itu, Maria, warga RT 01, duduk sambil mengelus rambut anaknya yang baru pulang sekolah. Ia bercerita dengan suara lirih namun penuh harap, "Kami cuma minta jalan aspal dan lampu penerangan biar anak-anak bisa pergi sekolah dengan aman." Anak-anak di Aruk harus berjalan kaki hingga dua kilometer ke sekolah dasar satu-satunya karena angkutan desa jarang melintas. Jalan utama desa sepanjang lima kilometer masih berupa tanah dan bebatuan. Saat musim hujan, jalan berubah menjadi lumpur licin yang sulit dilalui kendaraan roda dua. Berikut adalah kondisi yang kami temukan di lapangan:
- Jalan utama desa 5 km: tanah dan bebatuan, berlumpur saat hujan, menyulitkan akses pendidikan dan kesehatan.
- Penerangan: tiang listrik terpasang tapi belum tersambung ke rumah warga; sebagian rumah masih menggunakan lilin atau lampu minyak tanah.
- Perbandingan dengan Serikin, Malaysia: lampu kota sudah terang benderang, menciptakan kontras tajam dengan kegelapan di Aruk.
- Jumlah warga: 1.200 jiwa yang menggantungkan harapan pada pembangunan infrastruktur dasar.
Aspirasi yang Tertunda: Suara Perbatasan dari Aruk
Kepala Desa Aruk, Basuki, menerima kami di balai desa. Ia menunjukkan dokumen musrenbang desa yang sudah berulang kali mengusulkan perbaikan jalan dan penerangan. "Aspirasi warga sudah kami sampaikan, tapi realisasi masih jauh panggang dari api. Kami berharap pemerintah pusat dan daerah bersinergi mempercepat pembangunan infrastruktur dasar di desa ini. Ini bukan sekadar kenyamanan, tapi menyangkut akses pendidikan dan kesehatan bagi 1.200 jiwa," tegasnya dengan nada getir. Suara perbatasan dari Aruk ini adalah potret nyata dari kesenjangan yang masih menganga di negeri ini. Di balik semangat nasionalisme yang berkobar di pos-pos perbatasan, pembangunan belum merata hingga ke ujung negeri. Anak-anak berlarian di debu, ibu-ibu menanti cahaya, dan desa ini terus menunggu janji yang pernah diucapkan.
Setiap malam, ketika lampu-lampu Serikin menyala di seberang, warga Aruk hanya bisa menatap dari kejauhan. Lilin dan lampu minyak tanah menjadi teman setia, mengingatkan bahwa negara ini masih memiliki pekerjaan rumah besar di garis depan. Namun, di balik kegelapan, semangat warga tak pernah padam. Mereka tetap teguh menjaga tanah air, berharap suatu hari nanti, jalan aspal dan penerangan bukan lagi mimpi, melainkan kenyataan yang menerangi langkah anak-anak menuju masa depan yang lebih baik. Sudah saatnya kita mendengar suara perbatasan ini, bukan sekadar sebagai kabar dari ujung negeri, melainkan sebagai panggilan untuk mewujudkan keadilan pembangunan bagi seluruh rakyat Indonesia.