Malam merangkak perlahan di Desa Batu Tapu, Nunukan, Kalimantan Utara — titik paling timur yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Tidak ada lampu jalan yang menerangi hamparan rumah panggung kayu, hanya nyala temaram lampu minyak tanah yang mulai dihidupkan satu per satu. Suara jangkrik mendominasi senja, sesekali bersautan dengan deru generator milik beberapa warga. Di dapur gelap, seorang ibu bernama Ratnawati sibuk menyiapkan makan malam; cahaya lilin di sudut dapur menerangi wajahnya yang berkeringat, sementara api dari tungku tanah liat menjadi satu-satunya sumber panas. Di ruang tengah sempit, anak bungsunya duduk membungkuk di atas buku tulis, diterangi lampu minyak yang sumbunya mulai kusut. Pemandangan ini adalah potret nyata malam di garis depan — sunyi, gelap, namun tetap hidup dengan denyut perjuangan warga yang bertahan di tengah keterbatasan listrik.
Potret Senja di Ujung Negeri: Cahaya Lilin dan Semangat Belajar
Sejak senja berganti malam, setiap sudut Desa Batu Tapu berubah menjadi panggung kecil ketahanan hidup. Beberapa rumah masih memancarkan suara samar dari televisi kecil bertenaga aki, sementara remaja berkumpul di rumah tetangga untuk menonton siaran sepak bola dari Malaysia — sinyal yang sering terputus dan hanya bertahan beberapa jam sebelum aki habis. Di luar, jalan desa gelap gulita; hanya suara jangkrik dan dentang mesin generator yang terdengar saat seseorang menyalakan genset untuk mengisi ulang baterai atau sekadar menyalakan lampu. “Kami sudah biasa seperti ini,” ujar Ratnawati sambil mengaduk sayur di kuali tanah liat, matanya tak lepas dari api kecil yang menari-nari. Ia sudah bertahun-tahun menjalani rutinitas yang sama: memasak dengan kayu bakar, belajar dengan lampu minyak, dan mematikan segala aktivitas begitu makin malam tiba. Di perbatasan ini, listrik negara tidak pernah hadir — hanya suara perbatasan yang setia menemani perjuangan warga Nunukan.
Janji dan Kenyataan: Infrastruktur Listrik yang Tertunda
Infrastruktur kelistrikan di Desa Batu Tapu masih menjadi cerita panjang tanpa akhir. Meskipun pemerintah berulang kali menggulirkan janji, kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya. Berikut kondisi riil yang ditemukan di lokasi:
- Tidak ada satu pun jaringan listrik negara yang menjangkau permukiman warga — seluruh desa bergantung pada generator pribadi atau lampu minyak.
- Generator hanya dinyalakan beberapa jam per malam, terutama untuk mengisi daya ponsel atau menyalakan televisi bertenaga aki, sehingga sebagian besar waktu warga hidup dalam kegelapan.
- Pemerintah berjanji tahun depan akan memasok listrik melalui panel surya bersubsidi, namun warga mulai lelah menunggu — janji serupa pernah ada sebelumnya tanpa realisasi.
- Aktivitas belajar anak-anak terhambat karena cahaya lampu minyak yang redup, sementara para orang tua harus mengatur ulang jadwal kerja sesuai ketersediaan energi.
Di tengah keterbatasan, warga Batu Tapu tetap teguh. Mereka mengatur aktivitas harian berdasarkan siklus energi: pagi untuk bekerja di kebun atau melaut, sore untuk bersosialisasi, dan malam untuk beristirahat total. Namun, ketiadaan listrik bukan sekadar soal kenyamanan — ia membatasi akses informasi, pendidikan, dan produktivitas ekonomi. Seorang pemuda setempat mengaku harus berjalan ke desa tetangga hanya untuk mengisi daya ponsel yang digunakan berkomunikasi dengan keluarga di luar daerah. “Kami hanya ingin terang di malam hari,” katanya lirih, matanya menatap jauh ke arah garis batas negara yang hanya berjarak beberapa kilometer.
Desa Batu Tapu adalah cermin ketahanan sekaligus ironi di ujung negeri. Di saat kota-kota besar di Indonesia gemerlap dengan cahaya listrik 24 jam, warga perbatasan Kalimantan Utara ini masih bergulat dengan api lilin dan mesin generator tua. Mereka adalah penjaga pintu gerbang NKRI yang rela bertahan demi sejengkal tanah air. Sudah sepatutnya kita mendengarkan suara perbatasan mereka — bukan hanya sebagai narasi pilu, melainkan sebagai panggilan untuk mewujudkan keadilan energi di garis depan. Karena tanpa listrik, bagaimana mungkin mereka bisa merasakan terangnya kemajuan bangsa yang sama-sama kita cintai?